JavaScript: JavaScript:
Kedudukan Rasulullah SAW dalam Ayat Salawat. Setelah kita mencoba memahami Hikmah dan Keutamaan Shalawat Bagi Manusia pada kajian yang lalu, maka pada kajian ini kita akan mencoba melanjutkan bahasan dalam category “ kajian salawat “ dalam blog “ Kajian Hakikat Tauhid “ ini dengan mengangkat pokok bahasan tentang “ Kedudukan Rasulullah SAW dalam Ayat Salawat “.
Sebelum Allah Menjadi Tuhan. Ketika semua makhluk belum ada, bumi dan langit belum diciptakan, surga dan neraka belum ada. Kondisi itu oleh kalangan para ahli tasawuf di dikenal dengan sebutan “ Alam Sunyi “. Pada kondisi Alam Sunyi tersebutlah Zat berdiri dengan nur-Nya dan dengan Nur-Nya itu Zat berdiri dengan sendirinya serta dengan Nur-Nya itu Zat terdiri dengan sendirinya, tanpa sebab yang menyebabkannya.
Mendudukkan Perkara Bid�ah Dengan Benar ( 2 ). Pada kajian sebelumnya (Mendudukkan Perkara Bid�ah Dengan Benar ( 1 ) ) kita telah mencoba selintas membahas tentang pemahaman tentang Islam sebagai agama tauhid terakhir yang diperuntukkan kepada seluruh umat manusia di dunia ini. Dengan prinsip pemahaman tersebut, seluruh syariat hukum Islam sangat cocok dan sesuai serta akan menjadi rahmat bagi setiap komponen yang mengamalkannya atau mengaplikasikannya dengan benar. Yaitu sesuai dengan Al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW atau terbebas dari syariat yang mengada-ada tanpa berdasarkan hukum Allah SWT yang termuat dalam Al-Quran dan Sunnah Nabi SAW.
Mendudukkan Perkara Bid�ah Dengan Benar ( 1 ). Sesungguhnya postingan ini bukan bertujuan untuk memperdebatkan sebuah kata Bid�ah yang sangat sering kita baca dan dengar dari orang-orang yang mengaku-aku sangat tahu dan sangat faham tentang hakikat kedudukan dari kata Bid�ah tersebut dalam syariat hukum Islam, sehingga mereka yang merasa sangat faham tersebut dengan gampang dan terkesan serampangan menempelkan cap bid�ah terhadap seseorang atau terhadap suatu prosesi ritual yang dilakukan seseorang.
Hakikat Salawat Manusia Kepada Nabi Muhammad SAW. Melanjutkan kajian hakikat salawat yang sudah beberapa bulan ini tidak diposting. Pada posting ini kita akan mencoba melakukan kajian tentang hakikat salawat umat manusia terhadap Rasulullah Muhammad SAW dan tentunya dalam kajian ini kita tidak lagi akan membahas tentang aspek hukum bersalawat kepada nabi, karena dalam ayat ke – 56 dari Al-Quran surat al-Ahzab yang berbunyi “ Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersalawat untuk nabi, Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya “ telah terang bagi kita bahwa Allah SWT mewajibkan kepada manusia untuk bersalawat kepada nabi dan nabi yang dimaksud adalah Nabi Muhammad SAW.
Rahmat Allah Itu Sangat Luas. Sesungguhnya rahmat Allah itu sangat luas, Rahmat Allah itu meliputi segala sesuatu. Tidak ada lagi rahmat selian dari rahmat Allah di dunia ini. Rahamat itu meliputi untuk orang-orang kafir dan untuk orang-orang beriman secara merata. Kemanapun kamua menghadapkan wajahmu di alam ini, niscaya kamu akan menemukan rahmat Allah sebagai bukti ke maha besar kuasa dan pengusaan-Nya.
Sebagai contoh dapat dilihat pada air hujan yang diturunkan dari langit, yang dengan air tersebut Allah menghidupkan bumi yang sudah mati, menumbuhkan tanaman, memperbanyak air susu hewan serta memberi minum kepada banyak orang dan banyak suku bangsa dan Allah telah menyeru kepada kita semua agar mau memikirkannya dan meneliti hal yang terjadi karena sebab turunnya air hujan.
Al-Quran Menjawab Semua Tantangan Ilmu pengetahun. Setelah pada postingan sebelumnya kita melakukan kajian tentang mukzizat Al-Quran dalam propektif masa lalu, maka pada kajian ini kita akan melakukan kajian tentang hakikat Al-Quran dalam pospektif kekinian dan masa yang akan datang. Karena sebagai mukzizat terbesar yang diyakini, Al-Quran tentunya sudah dipersiapkan untuk menjawab seluruh tantangan itu
Pada generasi para sahabat yang hidup pada masa Rasuulullah masih hidup, apabila satu ayat yang tidak difahami maknanya, para sahabat tersebut bisa langsung bertanya kepada Rasulullah. Dan Rasulullah akan langsung menjawab dan menjelaskan dalam bentuk sunah atau hadist sesuai dengan petunjuk langsung dari Allah swt, sehingga pada masa itu tidak pernah dan tidak akan pernah terjadi perbedaan penafsiran satu ayat pun antara para sahabat dengan sahabat yang lain. Demikian juga dengan generasi sesudahnya. Mereka mendapat arahan dan pemahaman serta bisa bertanya langsung kepada para sahabat yang hidup semasa dengan Rasulullah.
Hakikat Salawat Allah Kepada Nabi Muhammad Saw. Sebagaimana yang yang telah disampaikan dalam kajian tentang salawat sebelumnya bahwa, kata salawat adalah kata yang diperkenalkan sendiri oleh Allah swt melalui ayat Al-Quran surat al-Ahzab ayar 56 yaitu “ Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersalawat untuk nabi, Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya “
Salawat Allah swt terhadap nabi Muhammad saw telah difahami sebagai rahmat yang terlihat dengan pemakaian kata “ nabi “ sebagai target atau sasaran salawat. Bukan nama dari nabi saw yaitu “ Muhammad “. Kata nabi tersebut sebagaimana yang sudah diketahui adalah jabatan bagi seorang hamba yang ditugaskan mengemban amanah atas syariat yang diwahyukan dengan tidak ada kewajiban atasnya untuk menyampaikan kepada umatnya.
Berbeda dengan “ rasul “ yang juga pengemban amanah atas syariat yag diwahyukan tetapi disertai dengan kewajiban untuk menyampaikan kepada umat tempat rasul tersebut diutus, sehingga setiap nabi belum tentu sebagai rasul tapi setiap rasul sudah pasti juga seorang nabi
Hakikat Salawat. Salawat Memuliakan Ibadah Wajib. Salawat. Imam al-Majidu menerangkan bahwa kata salawat terdiri dari tiga suku kata yaitu shad, lam dan waw atau shad, lam dan ya yang sebenarnya berasal dari satu arti yaitu berkumpul dan berserikat. Dengan pengertian bahwa dalam salawat terkandung dua makna secara bersamaan yaitu makna lahir dan makna batin yang mencakup segala kebaikan seluas nilai kebaikan itu sendiri.
Pergeseran dan perubahan makna dari kata salawat tersebut lebih disebabkan karena perbedaan pemakaian dalam kalimat saja, sehingga pendapat yang menyatakan bahwa, kata salawat berasal dari kata mushalli gugur dengan sendirinya. Selanjutnya menurut imam al-Majidu, kata mushalli berati melanjutkan atau melestarikan tradisi lama yang ditiru dari orang lain.