JavaScript: JavaScript:
Mengapa Islam Melarang Visualisasi Nabi Muhammad SAW ? ( Bagian 2 ). Pada postinganBagian 1 yang lalu telah disampaikan bahwa penolakan Islam terhadap penggambaran atau visualisasi Rasulullah Muhammad SAW dalam bentuk gambar atau patung dan atau apapun yang sejenis dengan itu, merupakan suatu upaya agar umat manusia tidak terjebak kembali dalam kebodohan yang sama ketika pihak gereja telah mencoba menampilkan sosok Yesus Kristus yang terbukti sangat jauh dari kebenaran yang sesungguhnya
Mengapa Islam Melarang Visualisasi Nabi Muhammad SAW ? ( Bagian 1 ). Setelah aksi ribut – ribut di situs jejaring sosial Facebook tentang perlobaan membuat kartun Nabi Muhammad yang berakibat ditutupnya akses situs jejaring sosial tersebut di Pakistan. Belum selesai kasus tersebut, kemudian muncul pula kasus baru, yaitu penayangan karikatur Nabi Muhammad SAW pada koran di Afrika Selatan.
Hakikat Al – Quran Sebagai Kitab Hikmah. Hikmah dalam pengertianya merupakan sebuah esensi kebenaran yang tampak dengan jelas dan nyata, sehingga untuk mendapat kebaikan dan kesanggupan untuk menyelami lautan hikmah yang maha luas itu manusia memerlukan wawasan atau ilmu yang cukup sesuai dengan bidang keahliannya masing – masing.
Abdullah Bin Saba Sang Inisiator Faham Syi’ah. Syi’ah adalah sebuah aliran dalam Islam yang berarti suatu kaum yang ber’iktiqat bahwa saidina Ali Kw adalah orang yang berhak menjadi khalifah pengganti Nabi, karena Nabi berwasiat bahwa pengganti beliau sesudah wafat adalah Saidina Ali, sehingga khalifah – Khalifah yang sebelumnya yaitu Saidina Abu Bakar, Saidina Umar dan Saidina Usman adalah khalifah yang tidak sah.
Nur Muhamnmad adalah Realitas Ruhani. Sesungguhnya yang pertama sekali diciptakan Allah SWT adalah suatu realitas gaib yang bersifat ruhani sebagaimana yang telah disampaikan Rasulullah Muhammad SAW yaitu bahwa yang mula – mula diciptakan oleh Allah adalah Nur Muhammad yang diciptakan dari cahaya Ketuhanan. Selanjutnya juga disampaikan bahwa yang pertama sekali diciptakan adalah Qalam dan ‘Aqal, sehingga realitas ruhani dari hakikat Nur Muhammad tersebut difahami dalam beberapa realitas konsep yang pada hakikatnya adalah satu yaitu Sifat dari Zat yang bernama Allah
Kedudukan Rasulullah SAW dalam Ayat Salawat. Setelah kita mencoba memahami Hikmah dan Keutamaan Shalawat Bagi Manusia pada kajian yang lalu, maka pada kajian ini kita akan mencoba melanjutkan bahasan dalam category “ kajian salawat “ dalam blog “ Kajian Hakikat Tauhid “ ini dengan mengangkat pokok bahasan tentang “ Kedudukan Rasulullah SAW dalam Ayat Salawat “.
Sebelum Allah Menjadi Tuhan. Ketika semua makhluk belum ada, bumi dan langit belum diciptakan, surga dan neraka belum ada. Kondisi itu oleh kalangan para ahli tasawuf di dikenal dengan sebutan “ Alam Sunyi “. Pada kondisi Alam Sunyi tersebutlah Zat berdiri dengan nur-Nya dan dengan Nur-Nya itu Zat berdiri dengan sendirinya serta dengan Nur-Nya itu Zat terdiri dengan sendirinya, tanpa sebab yang menyebabkannya.
Mendudukkan Perkara Bid’ah Dengan Benar ( 2 ). Pada kajian sebelumnya (Mendudukkan Perkara Bid’ah Dengan Benar ( 1 ) ) kita telah mencoba selintas membahas tentang pemahaman tentang Islam sebagai agama tauhid terakhir yang diperuntukkan kepada seluruh umat manusia di dunia ini. Dengan prinsip pemahaman tersebut, seluruh syariat hukum Islam sangat cocok dan sesuai serta akan menjadi rahmat bagi setiap komponen yang mengamalkannya atau mengaplikasikannya dengan benar. Yaitu sesuai dengan Al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW atau terbebas dari syariat yang mengada-ada tanpa berdasarkan hukum Allah SWT yang termuat dalam Al-Quran dan Sunnah Nabi SAW.
Mendudukkan Perkara Bid’ah Dengan Benar ( 1 ). Sesungguhnya postingan ini bukan bertujuan untuk memperdebatkan sebuah kata Bid’ah yang sangat sering kita baca dan dengar dari orang-orang yang mengaku-aku sangat tahu dan sangat faham tentang hakikat kedudukan dari kata Bid’ah tersebut dalam syariat hukum Islam, sehingga mereka yang merasa sangat faham tersebut dengan gampang dan terkesan serampangan menempelkan cap bid’ah terhadap seseorang atau terhadap suatu prosesi ritual yang dilakukan seseorang.