JavaScript: JavaScript:
Hakikat Gairah Dalam Diri. Semangat atau Gairah bisa diartikan suatu dorongan yang berasal dari hati sanubari untuk melakukan sesuatu yang bisa diterima oleh akal. Karena semangat atau gairah ini bersumber dari hati, maka semangat itu timbul dari sebuah keyakinan yang diterima atau cocok dengan pertimbangan akal, sehingga naik turunnya semangat sangat tergantung dengan keyakinan hati dan kemampuan akal dalam mencari dan menemukan serta memberikan pembenaran dari apa yang telah diyakini hati sanubari tersebut.
Jawaban dan Penjelasan ( 2 ). Merespon banyaknya tanggapan dalam kotak komentar yang bernada cukup keras bahkan ada yang melakukan kopi paste dari dari komentar sebelumnya ( Maaf.. sudah dihapus ) karena mungkin dianggap sama dengan respon yang seharusnya disampaikan setelah membaca postingan dalam katagori Al – Asma Al – Husna. Tepatnya pada kajian-kajian tentang asal kata Allah.
Allah Bersifat Ujud, Artinya Ada, mustahil Allah SWT tidak ada. Alam semesta raya ini dan segenap isinya sudah cukup sebagai bukti keberadaan Allah SWT. Keberadaan alam semesta raya ini beserta segenap isinya tidak mungkin secara akal tercipta dengan sendirinya. Pembuktian dari dalil-dalil yang ada terhadap suatu perbuatan atas sesuatu yang diciptakan sekaligus merupakan jejak yang meninggalkan bekas. Sesungguhnya pada jejak yang tidak membekas atau meninggalkan bekas adalah suatu kemustahilan. Adanya jejak-jejak manusia yang tertinggal merupakan pembuktian adanya orang yang berlalu-lalang.
Hakikat Ramadhan Sebagai Bulan Percintaan. Bulan Ramadahan atau bulan puasa merupakan bulan mulia dimana pada bulan Ramadhan ini, seluruh umat manusia yang beriman diberi kesempatan oleh Allah SWT sebagai Tuhan Semesta Alam untuk melaksanakan suatu ritual peribadatan puasa yang mulia demi kebaikan manusia itu sendiri.
Allah telah befirman dalam sebuah hadist qudsi yang disabdakan Rasulullah Muhammad SAW yang menyatakan bahwa “ … Sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan langsung menentukan imbalannya ….”
Sifat Jaiz atau Mungkin Pada Allah swt. Postingan ini adalah lanjutan dari kajian yang berjudul “ Hakikat Zat Pada Sifat Allah ( 1 – 5 )“ yang lalu. ( kalau belum baca atau sudah lupa silahkan dibaca kembali mulai dari postingan ini sini ).
Sebagai mana postingan yang lalu, dimana kita telah melakukan kajian tentang 20 ( dua puluh ) sifat yang wajib pada Allah swt, maka pada kajian ini kita akan mencoba melakukan kajian tentang sifat yang Jaiz pada Allah swt
Jaiz pada sifat Allah swt berarti “ mungkin “ yaitu sesuai sifat Allah swt Iradat yang berati berkehendak, Allah swt berkehendak dengan sifat iradat-Nya, sehingga segala sesuatu bisa bersifat mungkin dan tidak ada yang mustahil bagi Allah swt. Secara syariat dinyatakan bahwa “ manusia punya kehendak, Allah punya kehendak, tapi kehendak Allah swt lah yang akan berlaku “, “ Nyatanya iradat Allah swt itu pada nafsu kita, kalau tidak berkehendak nafsu kita, tindak nyata iradat Allah swt itu, karena berkehendak nafsu kita itu dengan iradat Allah swt “
Hakikat Zat Pada Sifat Allah. Setelah menyelesaikan kajian tentang sifat ujud dan sifat hayat yang merupakan dua sifat yang utama bagi Allah swt, maka mulai dari kajian ke lima Hakikat Zat Pada Zat Allah ini sesungguhnya kita sudah memasuki kajian kesimpulan dan aplikasi dari pemahaman yang sudah dibahas dalam aktivitas kehidupan kita sehari-hari dan ritualitas ibadah wajib dan ibadah sunnah sebagai pengamalan syariat ajaran agama islam sebagai agama tauhid terakhir.
Sebagaimana yang telah disampaikan dalam kajian-kajian sebelumnya bahwa sifat-sifat yang dimiliki oleh Allah swt sebagai tuhan adalah sifat-sifat yang hanya dimiliki oleh Allah swt saja. Tidak dimiliki oleh makhluknya. Apabila sifat-sifat tersebut terdapat pada makhluk, maka berarti sifat tersebut bukan sifat Allah swt karena Allah swt sebagai tuhan tidak bisa disamakan, tidak bisa disetarakan dengan apapun juga baik itu zat, sifat ataupun perbuatannya. Itulah tauhid yang benar lagi lurus yang kita tidak boleh tersesat didalamnya.
Hakikat Zat Pada Sifat Allah. Sekarang kita sudah memasuki kajian ke empat dari Hakikat Zat Pada Sifat Allah, tapi kalau dilihat dari awal, kajian keempat ini sudah merupakan kajian keenam yang saling berhubungan dimana sebelumnya telah dibahas “ Ternyata Allah Bukan Tuhan Yang Sesungguhnya “ dan “ Allah Adalah Nama Yang Utama Bagi Tuhan “ dan telah mendapat tanggapan yang beragam dari pembaca dan pengunjung blog “ Kajian Hakikat Tauhid “ ini.
Seluruh tanggapan dan komentar tersebut akan kita coba, insya Allah membahasnya satu per satu setelah kajian Hakikat “ Zat Pada Sifat Allah “ ini selesai secara tuntas yaitu berhasil mengantarkan seluruh pembaca dan pengunjung blog ini menemui tuhannya masing-masing. Insya Allah
Hakikat Zat Pada Sifat Allah. Sebelum melanjutkan membaca dan memahami kajian “ Hakikat Zat Pada Sifat Allah “ pada bagian ini, perlu disampaikan bahwa mulai dari kajian ketiga ini dan kajian-kajian selanjutnya, lebih bersifat pemahaman dan sangat membutuhkan kemurnian pemikiran dari pengararuh nafsu yang menyesatkan. Karena pada kajian ini dan kajian selanjutnya merupakan salah satu kajian inti dari faham tariqat satariyah yang mengklaim bahwa, pemahaman tauhid dari faham satariyah merupakan satu-satunya cara tercepat atau jalan pintas untuk bertemu Allah swt. ( faham tauhid satariyah tidak menyatakan dirinya sebagai bagian dari aliran tariqat yang ada karena sangat bersifat logika dan pemahamannya timbul dari proses pembelajaran sedangkan faham tauhid dari faham tariqat lainnya pemahamannya timbul dari pengamalan ; Kedua metoda ini sah dan sama benarnya, tergantung kesanggupan untuk mengikuti metoda pembelajaran dan pembetukan faham tauhidnya ), sehingga Myrazano sangat menyarankan untuk terlebih dahulu atau kembali membaca dan mempelajari serta memahami kajian-kajian sebelumnya yang berhubungan dengan alasan :
Hakikat Tauhid. Setelah pada posting sebelumnya telah disampaikan tentang sifat Sifat Nafsiah dan Sifat Salbiyah, pada posting ini kita akan mencoba melakukan kajian tentang Sifat Ma’ani dan Sifat Ma’nawiyah sebagai berikut :
3. Sifat Ma’ani
Sifat Ma’ani cendrung dikatakan sebagai sifat yag absatrak tetapi myrazano lebih memahaminya sebagai sifat yang membuktikan atau pembuktian ujud Allah, karena dengan sifat ma’ani ini Allah membuktikan sifat ujudnya yang dijelaskan dengan sifat salbiyah ( Qidam, Baqa, Mukhalifatu lil hawaditsi, Qiyamuhu binafsihi, Wahdaniyah ) yaitu :
Hakikat Tauhid. Ilmu Tauhid adalah ilmu yang mempelajari tantang keesaan Allah yang bertujuan untuk menumbuhkan dan memperteguh keyakinan dan keimanan bahwa Allah itu maha esa. Karena bersifat keyakinan, maka dalam kajian ilmu tauhid lebih tertuju kepada hati yang meyakini, sehingga ilmu tauhid dinyatkan juga sebagai ilmu hati karena pemahamannya dilakukan melalui hati.
Karena sifatnya yang lebih mengarah kepada keyakinan, maka dalam ilmu tauhid tidak dibahasa tentang tata cara ibadah. Akibatnya hanya sedikit umat yang meluangkan kesempatan untuk mempelajari ilmu tauhid. Sebagian lagi menganggap ilmu tauhid adalah imu yang dipelajari oleh generasi tua, sehingga anak muda merasa belum perlu untuk mempelajarinya dan akan belajar nanti setalah tua ( siapakah yang bisa menjamin kalau dia bisa hidup sampai tua ? )
Sesungguhnya mempelajari ilmu tauhid itu sangat mudah, karena bisa difahami melalui bermacam-macam metoda sesuai dengan macam ilmu tauhid itu sendiri yaitu :