Zaman Kaliyuga Sebagai Siklus Sejarah

Amenangi jaman edan ewuh aya ing pambudi, melu edan ora tahan. yen tan melu anglakoni boya kaduman melik. kaliren wekasanipun. Dillalah karsaning Allah. Sakbeja-bejane wong kang lali. luwih beja kang eling lan waspada.. Salah satu cuplikan karya sastra tembang “Sinom” dalam “Serat Kalatido” yang apabila diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia kurang lebih berarti Mengalami jaman gila, serba repot dalam bertindak, ikut gila tidak tahan, jika tidak ikut berbuat gila tidak memperoleh bagian hak milik, akhirnya menjadi ketaparan. Namun dari kehendak Allah, seuntung untungnya orang yang lupa diri, masih lebih babagia orang yang ingat dan waspada.

Kemidian diakhiri dengan sebaris gatra yang bersandiasma ” bo-RONG ang-GA sa-WAR-ga me-SI mar-TA-ya “ Mengandung arti rasa berserah diri kehadapan Yang Maha Esa yang rnenguasai alam sorga, tempat yang memuat kehidupan langgeng sejati.

Zaman Kaliyuga Sebagai Siklus Sejarah. Kartanegara tahu bahwa dirinya hidup di zaman kaliyuga, suatu babak terakhir sejarah Bumi. Ditandai dengan kekacauan, kekalutan, gonjang-ganjing, bencana alam silih berganti. Kehidupan rakyat bagaikan gabah ditampi. Begitulah jagat memberikan titah, perintah kepastian.Kendati demikian, Raja Singasari yang mulai memerintah mulai tahun 1270 tidak menyerah. Entah karena optimisme atau karena kesombongannya. Kidung Panji Wijayakrama mencatat sifatnya yang angkuh, ahangkara ( terlalu percaya pada kekuatan dan kekuasaannya ). Ia menentang kekuasaan Tartar yang menjadi satu-satunya superpower dunia.

Untuk menunjukkan kedigdayaannya, Kertanegara melakukan politik ekspansif. Ia menaklukkan kerajaan Melayu yang berpusat di Jambi. Kekuasaannya meluas sampai Selat Malaka. Sekalipun sukses melakukan politik ekspansif, tetapi kehidupan politik domestik kacau. Seperti yang dicatat Negarakretagama, yaitu terjadi pemberontakan Cayaraja, pemberontakan Mahisa Rangkah. Semua pemberontakan memang bisa dipatahkan, tetapi tak urung menyerap energi kerajaan. Ketidakpuasan rakyat semakin merebak akibat perubahan kebijakan politik domestik.

Dengan gelar Siwa-Budha, Kertanegara meyakini bahwa raja sebagai penguasa tunggal itu selalu benar. Siapa yang berani berbeda, apalagi sampai membantah, sama dengan merongrong kewibawaan raja. Untuk itu aparat pemerintah yang berani berbeda pendapat disingkirkan seperti yang dialami Raganata yang terkenal sangat cerdas dan bijaksana. Raganata dipelorot dari jabatan Patih Amangkubumi menjadi Ramadyaksa di Tumapel. Raganata legowo (ikhlas) menerima keputusan itu.

Berbeda dengan Pujangga Santasemetri yang tidak legowo. Untuk menutupi kekecewaannya, ia memilih menyingkir ke hutan menjadi pertapa. Lain lagi dengan Wiraraja yang diturunkan dari jabatannya sebagai demung menjadi Adipati Sumenep (Madura), sangat tidak puas. Ia menyimpan dendam. Kemudian ia menjadi provokator utama untuk menumbangkan Kertanegara.

Tataran puncak kaliyuga terjadi pada tahun 1292. Raja bawahan Singasari, Jayakatwang dari Gelang-gelang melakukan kudeta militer setelah diprovokasi Wiraraja. Kudeta dilakukan di saat kekuatan militer Singasari kosong karena melakukan ekspansi ke mancanegara. Kertanegara tewas mengenaskan dalam kudeta itu.

SEJARAH tidak selalu dipahami sebagai garis yang menghubungkan titik-titik kemajuan. Ada yang memahami sebagai cakra manggilingan ( roda yang berputar ). Jaman kaliyuga sesuai kehendak jagat pernah hadir sebelum Kertanegara. Empu Sedah dan Empu Panuluh dalam Kakawin Bharatayudha sudah menulis jauh sebelumnya.

Setelah Raja Suyudana dari Astina meninggal dalam perang Baratayuda melawan Pendawa, tak ada lagi kekhawatiran ada yang akan bikin rusak. Untuk itu Wisnu yang menitis pada Sri Kresna kembali ke alam kadewatan ( tempat dewa ).

Roda jaman berputar. Angkara murka kembali merebak. Tanah Jawa yang digambarkan sebagai mozaik dunia rusak. Rakyat dicekam ketakutan. Kejahatan merajalela karena tidak ada lagi yang menjaga. Untuk itulah Wisnu datang lagi menjelma pada diri Prabu Jayabaya di Daha.

Berkat pemerintahan Jayabaya, tanah Jawa kembali aman tenteram rakyatnya hidup sejahtera. Keadaan itu tidak abadi. Jaman kaliyuga kembali datang dan membuat Daha terbelah menjadi Jenggala dan Kediri. Sampai akhirnya lahirlah Singasari.

Siklus kaliyuga memang selalu diwarnai dengan pergantian kekuasaan. Di akhir abad ke-15, kaliyuga datang dengan menghancurkan Majapahit. Kekuasan bergeser ke belahan tengah Jawa yaitu Demak, dan puncak kejayaannya terjadi pada jaman Sultan Agung di Mataram.

Pada jaman Amangkurat I yang memerintah Mataram mulai tahun 1646, datanglah jaman gelap. Ketika raja tidak lagi menjadi seperti air bagi yang kehausan, bagaikan obor bagi yang kegelapan, patung bagi yang kepanasan. Raja kehilangan watak ber budi bawa leksana, menepati janji dan memiliki akal budi. Ketika penguasa lekang dari amanat keilahian sebagai sayidin panetep panata gama kalifatullah, pemimpin agama yang berpegang dan menata agama, wakil Tuhan di Bumi.

HJ De Graaf, penulis sejarah tentang Mataram yang paling lengkap menggambarkan betapa rakyat hidup dalam teror kekuasaan. Amangkurat I melumuri tangannya dengan darah ribuan ulama, saudara-saudaranya, pejabat bawahannya, bahkan istri-istri dan anak-anak.

Dalam kaliyuga juga memperkenalkan balasan bagi angkara murka. Berlaku asas hukum ngunduh wohing pakerti, memetik hasil perbuatan sendiri. Sama seperti nasib Kertanegara, Amangkurat I mengakhiri hidupnya dengan tragis. Ia tewas pada tanggal 28 Juni 1677 sebagai pelarian setelah diserang Trunajaya.

Kehadiran kaliyuga digambarkan tidak selalu berkait dengan kekuasaan yang angkara murka. Raden Ngabehi Ranggawarsita, pujangga tanah Jawa yang hidup di abad ke-19 lebih melihat sebagai siklus sejarah. Semacam pepesten, takdir. Ia memang meratapi jaman itu dengan karya puisinya, Serat Kalatida, puisi jaman gelap. Ia menulis: Mangkya darajating praja/kawuryan wus sunya ruri/rurah pangrehing ukara/ karana tanpa palupi.Tatkala derajat kerajaan sudah senyap, aturan kacau, tiada kejernihan nalar, suasana seperti gila. Kegilaan bukan karena penguasanya tidak becus. Buktinya ia melanjutkan: Ratune ratu utama/patihe linuwih/pra nayaka tyas raharja/ panakare becik-becik, rajanya utama, menterinya ahli, kebijakan pejabatnya bagus.

Bisa jadi Ranggawarsita memang tidak mau terang-terangan mengkritisi penguasa. Ia lebih menggunakan sanepan (sindiran). Tatkala ia bicara darajating praja, sebenarnya menuding raja karena inti dari kerajaan adalah raja. Bisa dimaklumi karena dia adalah seorang pujangga istana. Dia orang Jawa priayi yang sangat eufemistis.

Gaya Ranggawarsita inilah barangkali yang diduplikasi Sri Sultan Hamengku Buwono X ketika pada tanggal 1 Juli 1993 mengungkap gejala gara-gara (kekacauan) dan jaman kalabendu, suatu jaman hukuman dan bencana. Gejalanya di jaman ini persepsi terhadap aspek kehidupan yang legalistik. Persepsi ini menciptakan suasana pendekatan yang kaku, dan kurang memberi tempat pada harkat dan martabat kemanusiaan. Merebaknya budaya kekerasan, kebrutalan dan budaya perang atau just war, yang kerap kali dipakai sebagai alasan untuk mempertahankan diri.

Sri Sultan memang tidak menuding munculnya jaman ini akibat kesalahan rezim Soeharto. Sebagai orang Jawa priayi, ia sangat eufemistik. Meskipun penggunaan istilah kalabendu lebih bermakna sebagai hukuman Tuhan akibat perbuatan dosa manusia. Dalam dosa kolektif, penguasa menempati urutan pertama karena sebagai penanggung jawab masyarakatnya.

Dr Djoko Suryo, pakar sejarah Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta mengatakan, dilihat fenomena yang disebut dalam kaliyuga yang memandang sejarah secara spekulatif-sekarang ini kita hidup di jaman itu. “Lihat saja, kondisi negara kan seperti yang digambarkan Kalatida. Pemerintah tidak berwibawa. Para elite seperti tidak memiliki kejernihan berpikir. Kekacauan di mana-mana. Rakyat dalam kebingungan. Kehidupan bangsa tidak ada arah,” katanya. “bersambung ke bagian IV dari V “ [ Muslim Pilihan ]

Comments 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.