Zaman Kaliyuga dan Ratu Adil

Amenangi jaman edan ewuh aya ing pambudi, melu edan ora tahan. yen tan melu anglakoni boya kaduman melik. kaliren wekasanipun. Dillalah karsaning Allah. Sakbeja-bejane wong kang lali. luwih beja kang eling lan waspada.. Salah satu cuplikan karya sastra tembang “Sinom” dalam “Serat Kalatido” yang apabila diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia kurang lebih berarti Mengalami jaman gila, serba repot dalam bertindak, ikut gila tidak tahan, jika tidak ikut berbuat gila tidak memperoleh bagian hak milik, akhirnya menjadi ketaparan. Namun dari kehendak Allah, seuntung untungnya orang yang lupa diri, masih lebih babagia orang yang ingat dan waspada.

Kemidian diakhiri dengan sebaris gatra yang bersandiasma ” bo-RONG ang-GA sa-WAR-ga me-SI mar-TA-ya “ Mengandung arti rasa berserah diri kehadapan Yang Maha Esa yang rnenguasai alam sorga, tempat yang memuat kehidupan langgeng sejati.

Zaman Kaliyuga dan Ratu Adil., bagi mereka yang memahami sejarah secara spekulatif, adalah siklus sejarah. Setelah itu akan hadir jaman kertayuga atau ada yang menyebut kalakerta. Bahkan boleh dibilang, kaliyuga adalah prasyarat hadirnya jaman kertayuga. Suatu jaman emas. Jaman gemilang. Jaman yang digambarkan dengan: loh jinawi gemah ripah tata tentrem kerta raharja. Gambaran keadaan negara ini pula yang ingin diwujudkan Presiden Abdurrahman Wahid.

Tidak ada pakem yang menyatakan berapa lama siklus itu berlangsung. Pada jaman Prabu Jayabaya, siklus terjadi begitu cepat. Kertayuga terwujud pada saat dia memerintah. Siklus dari jaman Kertanegara baru terjadi sekitar 60 tahun kemudian ketika Majapahit sebagai kelanjutan Singasari diperintah Prabu Hayam Wuruk.

Hanya siklus tidak terjadi dengan sendirinya. Melainkan melalui tangan Sang Pembebas atau Ratu Adil. Paham ratu adil atau mesianisme begitu populer di kalangan rakyat. Sudah menjadi mitos yang sangat kuat. Dalam pertumbuhannya ada pertautan antara paham mesianisme Jawa dengan paham Imam Mahdi pada sebagian kelompok Islam.

Pertautan ini semakin kuat karena Islam yang berkembang di Jawa ini sebagian dari paham Syiah yang kental dengan ide mesianisme, yaitu hadirnya Imam ke-12. Maka simbol-simbol gerakan mesianisme di Indonesia, khususnya Jawa merupakan visualisasi perpaduan mesianisme Islam dengan tradisi Jawa. Misalnya, Jayabaya dalam teks tua menurut Dr J De Hollander (1848), diceritakan berguru kepada Maulana Rum yang kalau melihat istilah maulana berarti Muslim. Jayabaya juga diidentikkan dengan Ratu Sekti yang berasal dari Wali Allah. Banyak gerakan ratu adil yang menyatakan memiliki pasukan sirullah berupa malaikat, jin, lelembut.

Dalam tulisan Prof Dr Sartono Kartodirdjo (1984), terbaca jelas perpaduan itu dalam pelbagai gerakan keagamaan di Jawa abad ke-19 dan ke-20 yang bercorak mesianistik. Misalnya, gerakan Pangeran Diponegoro yang menyandang nama Panembahan Erucakra, gerakan Jasmani di Blitar, gerakan Amat Ngisa di Jateng, gerakan Pak Jebrak di Mojokerto, gerakan Kiai Kasan Mukmin di Sidoarjo, Nyi Aciah di Malangbong, gerakan Dulmajid di Yogyakarta, gerakan Pulung, Srikaton, Imam Sujono di Ponorogo. Gerakan mesianistik di akhir abad ke-20 diperkuat dengan ideologi milenaristik yaitu akan hadirnya jaman emas di abad ke-21 yang dimulai dengan kehadiran ratu adil atau Imam Mahdi di akhir abad ke-20. Seperti gerakan Muhammad Arif yang menyandang nama Romo Bung Karno alias Imam Mahdi di Malang tahun 1998, gerakan Samsuri di Banyuwangi tahun 1999.

Ramalan Alvin Toffler bahwa abad ke-21 adalah abad kebangkitan agama, dalam kasus Indonesia mendapat tuangan warna mesianistik dan milenaristik. Kebangkitan agama lantas divisualisasikan dengan kehadiran Sang Pembebas, corak gerakan berupa pengaduk-adukan emosi melalui massalisasi kegiatan ritual keagamaan. Gerakan ini sering kali bernuansa politis seperti show of force untuk menunjukkan dukungan atau menggertak lawan.

Lantaran kuatnya mitos ratu adil di hati rakyat, maka banyak tokoh yang memiliki visi populis menggunakan paham ini untuk memperoleh dukungan rakyat. Maka yang paling awal digarap menjadi pengikut adalah masyarakat yang frustasi dan tidak rasional, atau ada yang mengistilahkan masyarakat paranoid. Penyebab frustasi bisa macam-macam seperti kemiskinan yang menindih, ketakutan, konflik. Lapisan masyarakat bawah menjadi sasaran empuk karena rendahnya tingkat berpikir secara rasional.

Untuk itulah, tokoh mesianisme akan menjanjikan terwujudnya jaman kertayuga di mana keadaan negara benar-benar loh jinawi gemah ripah tata tentrem kerta raharja, tanamannya subur, harga-harga murah, perdagangan dan pelayaran berkembang, aman tenteram dan sejahtera.

Tokoh itu akan mencari legitimasi secara supranatural seperti ke kuburan orang-orang suci, tempat-tempat yang dianggap keramat, benda-benda berkekuatan magis. Pinjam istilah ROG Anderson (1972), itulah pandangan Jawa tradisional terhadap konsep kekuasaan. Bahkan kekuasaan itu kongkret. Ada pada keris, kuburan, tombak, jubah, tongkat, cincin, kutang, pulung, yaitu seberkas sinar gaib.

Bung Karno, misalnya, seperti ditulis Dr Sindhunata (1999), datang ke petilasan Jayabaya di Menang, Kediri (Jatim). Disaksikan banyak orang, setelah berdiam di tempat itu selama sekitar tujuh menit mengaku telah menerima wahyu kedaton, wahyu kenegaraan. Bung Karno pun dimitoskan sebagai ratu adil dan memiliki kesaktian luas biasa seperti HOS Tjokroaminoto, guru politik Bung Karno. Bahkan di mata Samsuri, Bung Karno tidak mati melainkan masih hidup di Alas Purwo Banguwangi. Muhammad Arief mengaku titisan Bung Karno sehingga berganti nama Romo Bung Karno.

Sawito pada tahun 1970-an menobatkan diri menjadi ratu adil setelah mendapat wahyu di hutan Ketangga, Ngawi. Ketangga diramalkan akan menjadi pusat kerajaan Prabu Erucakra, ratu adil yang hidup di sekitar tahun 1900. Syamsuri mengaku mendapat mandat sebagai juru selamat pada saat kiamat pada tanggal 9 September tahun 1999 jam 09.09. Ramalan yang ternyata meleset dan ia dipenjara karena membikin keresahan masyarakat, sama nasibnya dengan Sawito dan Arif. “bersambung ke bagian V dari V “ [ Muslim Pilihan ]

Comments 2

  • Hi there, I discovered your website by way of Google at the same time as looking for a related matter, your web site got here up, it seems good. I have bookmarked it in my google bookmarks.

  • “apeparap pangeraning prang
    tan pokro anggoning nyandhang
    ning iya bisa nyembadani ruwet rentenging wong sakpirang-pirang
    sing padha nyembah reca ndhaplang,
    cina eling seh seh kalih pinaringan sabda hiya gidrang-gidrang”
    Berjuluk pangeran perang
    Berpakaian seadanya tapi bisa menyempurnakan lagi kristen menjadi kristen yang sempurna
    orang-orang buddhist sadar inilah yang jutaan tahun kelak akan lahirlagi sebagai Metteya Buddha
    Dari sikap takut menjadi berbondong-bondong menunggu perintah perang ratu adil

    “tumurune tirta brajamusti pisah kaya ngundhuh
    hiya siji iki kang bisa paring pituduh
    marang jarwane jangka kalaningsun”
    Air brajamusti mengalir kemana-mana ditubuhnya
    beginilah jika saya mengutus orang menjalankan ramalan saya

    “pendhak Sura nguntapa kumara
    kang wus katon nembus dosane
    kadhepake ngarsaning sang kuasa
    isih timur kaceluk wong tuwa
    paringane Gatotkaca sayuta”
    tiba suro habis semua dosanya
    masih muda tapi seperti sudah tua
    hartanya banyak sekali

    “nglurug tanpa bala
    yen menang tan ngasorake liyan
    hiya iku momongane kaki Sabdopalon
    sing wis adu wirang nanging kondhang”
    Menyerang orang ramai sendirian saja
    Saat menang tidak merendahkan musuhnya
    Itulah asuhannya Semar
    yang sudah diterpa masalah tapi akhirnya terkenal

    ___________________________________________

    “Ratu adil iku kanjeng Nabi Isa putrane betara indra kang pembayun,
    jumeneng ratu pinandhita tunjung putih semune pundak semungsang, kasbut
    sultan herucakra. Akedaton ing tengah-tengahing bumi mataram,
    kadherekake Sabda Palon lan Naya Genggong.” (“Ratu adil itu Nabi
    Isa, bernama satria pinandhita satria piningit, berjuluk sultan
    herucakra, putranya Yahweh/Odin/Zeus/Indra paling sulung. Tinggal di
    yogyakarta saat ini, didampingi Semar dan Narada. ‘Dan ketika Ia membawa pula Anak-Nya yang sulung ke dunia, Ia berkata: ‘Semua malaikat Yahweh harus menyembah Dia.’ – Ibr 1:6 Injil”) – Jayabaya

    Kelahirankembali Wild Bill Hickock, Jesus (Caesarion/Ptolemy XV), Leonardo da Vinci, Solomon, Karna, Parikshit, Kian Santang, Damarwulan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Page-level ads only appear on the page when AdSense thinks they'll perform well. Add the following Page-level code to more of your pages to increase the overall performance of ads on mobile. Copy the code below and paste it inside the tag of any page you want to show ads on. Place the same code just once per page, and AdSense takes care of the rest.
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.