Reformasi dan Gerakan Ratu Adil

Amenangi jaman edan ewuh aya ing pambudi, melu edan ora tahan. yen tan melu anglakoni boya kaduman melik. kaliren wekasanipun. Dillalah karsaning Allah. Sakbeja-bejane wong kang lali. luwih beja kang eling lan waspada.. Salah satu cuplikan karya sastra tembang “Sinom” dalam “Serat Kalatido” yang apabila diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia kurang lebih berarti Mengalami jaman gila, serba repot dalam bertindak, ikut gila tidak tahan, jika tidak ikut berbuat gila tidak memperoleh bagian hak milik, akhirnya menjadi ketaparan. Namun dari kehendak Allah, seuntung untungnya orang yang lupa diri, masih lebih babagia orang yang ingat dan waspada.

Kemidian diakhiri dengan sebaris gatra yang bersandiasma ” bo-RONG ang-GA sa-WAR-ga me-SI mar-TA-ya “ Mengandung arti rasa berserah diri kehadapan Yang Maha Esa yang rnenguasai alam sorga, tempat yang memuat kehidupan langgeng sejati.

Reformasi dan Gerakan Ratu Adil. Mesianisme dalam kurun sekarang bisa jadi tidak hanya dipersepsi dalam diri seorang tokoh. Bisa dalam suatu gerakan atau institusi. Gerakan reformasi yang me-lengser-kan Soeharto setelah 32 tahun berkuasa, bisa bergeser secara substansial menjadi gerakan mesianisme bila tidak dikemas dalam suatu rasionalitas. Suatu konsep strategi dan penataan untuk mewujudkan agenda-agenda reformasi secara menyeluruh dan terpadu.

Kemungkinan terjadinya pergeseran itu sangat besar. Kita memiliki kultur mesianistik, milenaristik yang kuat. Pada saat reformasi berada di puncaknya tahun 1997-1998, ada yang melihat sebagai goro-goro yang mengawali datangnya satria piningit yang dalam kata lain juga ratu adil.

Kultur mesianistik ini bisa dipakai oleh elite kekuasaan untuk menutupi ketidakmampuannya memecahkan persoalan secara rasional. Untuk jamu kebingungannya menghadapi kompleksitas permasalahan. Untuk itulah, tokoh yang memanfaatkan kultur ini, akan selalu membuat akrobat-akrobat politik yang meluruhkan emosi rakyat. Akan membawa rakyat semakin dalam ke alam mesianistik juga. Bahkan untuk itu, harus mengurbankan institusi yang bertumpu pada man power of reason. Misalnya, menggunakan perguruan tinggi untuk melakukan ruwatan.

Di samping itu, pergeseran juga karena lemahnya visi reformasi. Para mahasiswa yang menjadi tombak reformasi hampir seluruhnya telah kembali ke kampus. Padahal merekalah yang paling tahu visi reformasi. Maka pengendali reformasi seperti kosong. Yang muncul kemudian adalah reformis gadungan dan oportunis yang muncul kemudian, yang sebenarnya tidak punya visi reformasi. Kekuatan status-quo yang mengenakan topeng reformasi.

Kalau reformasi bersentuhan atau bahkan bergeser substansi menjadi gerakan ratu adilisme, pada dasarnya telah berada dalam siatuasi yang sangat gawat. Bahkan telah kehilangan makna. Yang tersisa hanyalah luapan eforia yang dahsyat. Kekuasaan lantas dipersepsi sebagai tumpeng yang dibagi-bagi sebagai rejeki nomplok.

Kebebasan lantas diterjemahkan sebagai keleluasaan memaki-maki orang lain. Kebebasan lebih berdimensi keliaran dan sesuka hati. Hak asasi lantas bergeser menjadi egoisme tanpa mengindahkan sopan santun, tata susila, tata sosial, dan toleransi, bahkan sarat dengan balas dendam, kebencian serta menegatifkan pihak lain.

Pergeseran secara substansial ke mesianistik, menurut sosiolog Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Dr Hotman M Siahaan, menciptakan fatalisme baru. Menjadikan masyarakat tidak survive. “Ini jelas berlawanan dengan civil society yang akan kita bangun. Karena civil society itu dibangun atas dasar civic culture yang antara lain bertumpu pada rasionalitas, hukum,” katanya. “Yang pasti, kalau kita masih berpandangan mesianistik berarti kita kembali ke pramodern. Atau menunjukkan kita masih tradisional.

Untuk mewujudkan cita-cita reformasi butuh pemimpin rasional yang bisa melihat masalah secara jernih. Memiliki konsep dan visi untuk membawa bangsa keluar dari krisis secara rasional,” tegas Djoko Suryo.

Mesianisme memang menjadi obat mujarab, tetapi hanya untuk sementara waktu. Tatkala janji-janji kertayuga hanyalah angin surga yang tanpa kenyataan, rakyat tetap terpuruk dalam kemiskinan, kenistaan, penderitaan lahir batin, maka merebaklah kekecewaan baru. L Stodard menganalogkan akhir gerakan mesianisme itu seperti padang ilalang yang terbakar dan musnah dalam sekejap. Setelah itu tinggalkan serpihan jelaga yang diterpa angin.

Kekecewaan baru akan membiakkan krisis kepercayaan yang lebih dahsyat. Rasa frustasi yang lebih berat. Hidup dalam sekarat. Semoga paparan ini bisa menjadi bahan renungan bagi kita semua komponen bangsa yang sekarang sedang sakit sebelum benar-benar sekarat. “T a m a t “ [ Muslim Pilihan ]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.