Rabi’ah Al Adawiyah, Hakikat Cinta dan Penghambaan Kepada Allah

Rabi’ah Al Adawiyah, Hakikat Cinta dan Penghambaan Kepada Allah –  Rabi’ah Al Adawiyah adalah seorang sufi wanita yang hidup pada zaman salafus saleh (95 H – 185 H) yang terkenal dengan konsep “ Tuhan Adalah Cinta Agung “ yang telah memberikan inspirasi baru yang segar dalam dunia per-sufi-an maupun akademisi serta mencerahkan konsep sabelumnya yang sudah diperkenalkan kaum sufi guna membendung gaya hidup mewah masyarakat pada masa itu, yaitu konsep ” Rindu Syurga dan Takut Neraka “.

Rabi’ah Al Adawiyah lahir di sebuah perkampungan dekat kota Basrah ( Irak ) dengan nama lengkap Rabi’ah binti Ismail Al Adawiyah Al Bashriyah. Rabi’ah berarti puteri ke empat, karena ia anak keempat dari empat perempuan bersaudara. Sadangkan Al Adawiyah adalah gelaran untuk sukunya, Qais bin ‘Adi.

Rabi’ah Al Adawiyah, semasa kecilnya hidup dalam kesusahan. Remajanya, ditinggal mati kedua ibu bapaknya, yang soleh. Dewasanya, dipekerjakan sebagai budak, bekerja keras sepanjang hari. Pahit getirnya roda khidupan, dijalani dengan tenang dan tabah. Namun dia senantiasa menghadiri majelis dzikir dan menghindari makanan haram, sekalipun dalam kesusahan.

Hingga sampai masanya, dengan Rahmat Tuhan yang Maha Baik, mulailah era baru dalam kehidupan Rabi’ah Al Adawiyah. Ia dimerdekakan dari perbudakan oleh tuannya sendiri tanpa tebusan sepeser pun.

” Terlepaslah ia dari perbudakan kepada Tuan, menuju penghambaan total kepada Tuhan sebagai cinta agungnya. “

Kepergiannya ke tanah suci menunaikan ibadah haji, merupkan langkah awal era barunya. Sepulang haji, ia menetap di kota Basrah dan mengisi hidupnya dengan banyak beribadah dan membantu sesama. Tidak sedikit orang yang berkunjung kepadanya, untuk menimba ilmu dan hikmah.

Pinangan kawin dari berbagai kalangan pria pun berdatangan. Semuanya ditolak dengan baik. Sekalipun yang meminang adalah Muhammad bin Sulaiman al-Hasyimi, seorang pemimpin Basrah, dengan cadangan mas kawin sebesar 100 ribu dinar emas di zamannya. ”Aku takut mereka akan menyeretku secara halus dari cinta agungku kepada Tuhan “, bisiknya.

Ya Allah … // Jika aku menyembah-Mu // karena takut pada neraka, maka bakarlah aku di dalam neraka . // Dan jika aku menyembah-Mu karena mengharapkan surga, maka keluarkanlah aku dari dalam surga. // Namun … // Jika aku menyembah-Mu demi cinta akan Engkau, maka janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajah-Mu yang kekal abadi kepadaku.

Merupakan bait syair munajatnya, yang sangat terkenal sepanjang masa.

Tuhan telah berkata dalam hatinya :

“ Jika engkau menginginkan dunia ini, maka akan Aku berikan semua dan akan Aku berkahi, tetapi Aku akan menyingkir dari dalam hatimu, sabab Aku tak mungkin berada di dalam hati yang memiliki dunia ini.

Wahai Rabi’ah … Aku mepunyai Kehendak dan begitu juga denganmu. Aku tidak mungkin menggabungkan dua kehendak itu di dalam satu hati.”

Dalam suatu kisah dieceritakan bahwa, sahabatnya Malik bin Dinar berkata pada Rabi’ah, “ Aku memiliki teman yang kaya dan jika engkau mebutuhkan bantuan aku akan meminta kepada mereka.”

Rabi’ah berkata, “ Wahai Malik, engkau ini salah besar. Bukankah yang meberi makan mereka dan aku sama ?”

Malik menjawab, “ Ya, memang sama. Dialah Allah.”

Rabi’ah mengatakan, “ Apakah Allah akan lupa kepada hamba – Nya yang miskin dikarenakan kemiskinannya dan  Dia ingat kepada hamba – Nya yang kaya dikarenakan kekayaannya ?”

Malik menyahut, “Tidak mungkin Tuhan demikian.”

Rabi’ah kembali mengatakan, “ Karena Dia mengetahui keadaanku, mengapa pula aku harus mengingatkan – Nya?. Apa yang diinginkan – Nya, kita harus menerimanya dengan baik …  Sungguh, aku sangat malu meminta kebutuhan duniawi kepada Pemilik dunia ini ( Tuhan ), bagamanalah aku harus meminta kepada yang bukan memiliki dunia ini ?”

Tuhanku … // malam telah berlalu dan siang segera menampakkan diri // Aku gelisah apakah amalanku Engkau terima, // hingga aku merasa bahagia // Ataukah Engkau tolak hingga aku merasa bersedih // Demi keagungn-Mu … // sekiranya aku terusir dari depan pintu – Mu, aku tidak akan pergi // Karena cintaku pada – Mu, telah Engkau penuhkan dalam hatiku.

Adalah munajat Rabi’ah dimalam hari :

Rabi’ah pernah ditanya orang, apakah hakikat cinta itu ?

Ia menjawab,” Andaikan cintamu benar, artinya engkau mentaati – Nya. Karena orang yang cinta akan selalu patuh kepada yang dcintainya.”

Rabi’ah pernah memperlihatkan karamahnya ( kemuliaan dari Tuhan ) kepada seorang lelaki sufi. Ia dapat berjalan dan duduk di atas air. Rabi’ah berkata, “Ketahuilah bahwa apa yang kamu bisa perbuat, ikan pun bisa memperbuatnya dan aku yang diizinkan Allah bisa terbang di atas tanah, lalat pun bisa terbang … Buatlah suatu yang labih agung dari perkara yang luar biasa itu, yakni ketaatan dan adab santun terhadap Allah.”

Rabi’ah juga pernah ditanya orang, apakah ia membenci syetan ?

Ia menjawab, “Hati yang sudah Tuhan penuhkan dengan cinta hanya kepada-Nya, menyebabkan syetan akan benci kepadanya tanpa ia harus mebencinya.”

Di hujung umurnya yang semakin tua, sakit yang diderita telah menjadikan tubuhnya lemah tidak berdaya.

Seorang yang berkunjung berkata, “Bersabarlah, atas sakit yang engkau derita.”

Jawab Rabi’ah, ” Masih ada yang lebih indah dari pada itu.”

Yang lain berkata, “Redhalah, atas sakit yang engkau derita.”

Jawab Rabi’ah, “Masih ada yang lebih indah dari pada itu.”

Yang lain pun ikut berkata, “Bersyukurlah, atas sakit yang engkau derita.”

Jawab Rabi’ah, “Masih ada yang lebih indah dari pada itu.”

Semua yang hadir saling berpandangan dan kehabisan makna hikmah. Lalu bertanya, “Sebenarnya apakah yang engkau rasa dalam derita sakitmu itu ?”

Jawab Rabi’ah, “Cinta telah membuat seseorang lupa atas deritanya sakit. Jika seorang hamba sudah lupa dengan derita, bagaimana pula caranya untuk bersabar, redha, dan bersyukur ?”

Semua yang hadir tertunduk haru, mendengar jawaban hikmah itu.

Akhirnya … Pertemuan indah yang selama ini dinantikannya pun tiba. Ruhnya telah kembali kehadapan Allah, Tuhan cinta agungnya. Kota Basrah pun berkabung duka atas kepergiannya.

Sesudah kematian Rabi’ah, seseorang pernah memimpikannya. Dia melihat Rabi’ah dalam keadaan selamat sejahtera di alam kubur. “Ya Rabi’ah, ceritakanlah bagaimana keadaanmu di sana dan bagaimana engkau dapat lolos dari pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir ?”

Rabi’ah mnjawab, “Mereka datang menghampiriku dan bertanya, “Man Robbuka ? Siapakah Tuhanmu ?”

Aku katakan, “Kembalilah kalian berdua kepada Tuhan … Magapa kalian tega bertanya seperti itu kepadaku ? Di dunia saja, Tuhan tidak pernah melupakanku walaupun sesaat. Mangapa pula di akhirat, Tuhan malupakan hamba – Nya, perempuan tua ini ? Tuhan tidak mungkin lupa …”

“Dia mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya” (QS. Al Maidah : 59)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.