Inilah Sesungguhnya Pengertian Ulama Yang Benar

Inilah Sesungguhnya Pengertian Ulama Yang Benar – Di samping krisis iman, akhlak, ekonomi, energi, dan lainnya, sesungguhnya negeri ini sudah lama mengalami krisis ulama. Sulitnya mencari ulama panutan  yang layak diteladani, sama dengan sukarnya memberantas kemungkaran dan kebatilan. Mengapa? Kelangkaan ulama (yang benar) menyebabkan sulitnya mendapatkan ulama yang berani menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar. Kemungkaran dan kebatilan pun berlari dengan kencangnya, menutupi dan menghambat jalannya kebenaran.

Akibat dari krisis ulama, umat kehilangan tempat bertanya dengan jawaban yang sesuai dengan Qur’an dan Sunnah. Kaum Muslimin justru mendapatkan jawaban-jawaban yang mengambang, kalau tak boleh disebut menyimpang, lantaran para ulama yang benar sulit dicari. Ulama-ulama macam HAMKA, dan lainnya, sudah meninggalkan kita. Sekarang, yang muncul, meski tidak mengklaim sebagai ulama, tapi umumnya publik dan media massa menyebutnya sebagai  ulama, atau setidaknya ustadz dan dai. Kita tentu tak ingin, kemunculan mereka hanya dijadikan alat penghibur atau bahkan dipaksakan, sehingga tampak diorbit dan dikarbit—padahal yang bersangkutan tidak menguasai atau memahami ilmu (Qur’an dan Sunnah).

Kita sudah punya pengalaman pahit, sosok yang semula kita anggap sebagai dai dan ulama, belakangan tak sesuai dengan harapan. Sebagai manusia, kecewa boleh saja, tapi jangan berkelanjutan. Yang penting, kita jangan pernah lagi secara berlebihan menganggap seseorang itu hebat, sebagai ustadz, apalagi ulama, yang dijadikan idola. Padahal ilmunya masih cetek dan sikap serta perilakunya membuat dahi kita berkerut. Pengalaman lalu harus kita jadikan pelajaran, dimana sosok yang kita anggap dai dan  ulama hebat, ternyata berbelok dari perjuangannya. Tak berani menyatakan yang benar itu benar. Kikuk untuk menyatakan yang sesat itu sesat.

Di tengah kelangkaan ulama, kini bermunculan ustadz dan para dai muda yang, tentu saja, sulit kita sebut sebagai ulama—karena untuk disebut ulama memiliki syarat dan krietria tertentu. Apalagi belakangan diketahui, mereka yang tampil di stasiun televisi lebih kelihatan pd aspek entertain (hiburan)nya saja. Tampaknya pihak stasiun televisi memang lebih menekankan sosok yang tampil itu lebih menghibur, tak masalah jika ilmu dan pemahaman para dai itu cetek. Bahkan yang tampil sosok kebanci-bancian atau meniru-niru gaya perempuan pun no problem, yang penting menghibur. Astaghfirullah. Karenanya, kita lihat mereka yang tampil di televisi umumnya memiliki ilmu dan pemahaman Islam yang dangkal, menjawab pertanyaan audiens dan pemirsa pun sekenanya—bahkan tak jarang melenceng.

Tentu tak semuanya seperti itu. Beberapa di antaranya merupakan dai muda yang memang menguasai dan memiliki ilmu serta pemahaman yang benar tentang Islam—bukan orbitan dan karbitan seperti digambarkan di atas.  Kita berharap mereka menjadi ulama yang bisa dijadikan qudwah (teladan). Ulama yang dimaksud adalah mereka yang menguasai ilmu dan pemahaman tentang Qur’an-Sunnah, yang  sikap dan tindak tanduknya  mencerminkan akidah dan akhlak Islam.

Kita berharap, masih ada ulama seperti yang kita damba, yang berani berkata benar dan meluruskan yang salah. Kita masih berharap para ulama yang berhimpun dalam lembaga atau institusi ulama di negeri ini, masih manjadi pewaris Nabi (waratsatul anbiya). Karena, ulama, seperti dikatakan Rasulullah saw adalah pewaris para Nabi. Nabi sudah tiada, dan ditutup oleh Rasulullah Muhammad saw, maka para ulama berfungsi sebagai penerus perjuangan Nabi. Jika ulama tak menjalankan fungsinya, maka yang muncul adalah ulama-ulama jahat (su’).

Allah berfirman, “Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Alkitab), kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syetan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia  termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajatnya) dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim,” (QS al-A’raf: 175-177).

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebut ayat di atas berhubungan dengan Bal’am, seorang ‘ulama’ di zaman Fir’aun. Sedang Imam Ghazali menyatakan ayat  tersebut berkaitan dengan ulama su’ (jahat). Ulama su’, tak bisa dibilang sebagai waratsatul anbiya. Pernyataan Nabi saw ini, bahwa ulama adalah waratsatul anbiya, kini sudah kehilangan nuansa sakralnya. Citranya sudah pudar. Sebagian mereka tak lagi menjadi rujukan, tempat bertanya, apalagi panutan. Kelangkaan ulama yang benar, masih diiringi dengan kedekatan di antara mereka pada penguasa, lebih membela kepentingan penguasa, ketimbang rakyat.

Imam Ghazali menyitir hadits Rasulullah saw yang berbunyi, “Ulama yang paling buruk adalah ulama yang suka mengunjungi penguasa, sementara penguasa yang paling baik adalah yang sering mengunjungi ulama,” (HR Ibnu Majah). Kedekatan ulama pada penguasa, memang, menyimpan banyak kemungkinan penyimpangan. Makanya, umumnya para salafushshalih bersikap tegas pada penguasa. Dalam arti, mereka mendukung penguasa, jika penguasa itu menegakkan kebenaran. Sebaliknya, mereka sangat kritis, bahkan menolak penguasa yang melakukan perbuatan mungkar.

Di Indonesia, era penjajahan, banyak ulama yang menentang penjajah. Sebut misalnya, Dr Syaikh Abdul Karim Amrullah—populer dengan sebutan Haji Rasul, ayahnya Buya HAMKA. Lalu, ada A Hassan (pendiri PERSIS), KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), KH Hasyim Asy’ary (pendiri NU), Syaikh Ahmad Soorkati (Al Irsyad), Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari (Kalsel), Syaikh Basuni Imran (Kalbar), KH Mas Mansyur, dan sebagainya. Mereka adalah figur-figur yang tak pernah kompromi dengan penguasa (penjajah) di zamannya.

Sikap dan tindakan Haji Rasul menolak ajakan penjajah Jepang  saat upacara seikerei (penghormatan pada Kaisar jepang)  layak jadi bahan renungan kita, di tengah umumnya ulama saat ini kegigit lidah  untuk berpihak pada yang benar. Ketika itu, penjajah jepang mengadakan pertemuan dengan sekitar 50 kiai dari seluruh Jawa, di Bandung. Saat upacara seikerei dilakukan, semua berdiri dan melakukan seikerei, kecuali Rasul. Ia tetap duduk dengan gagahnya di atas tribun—sejajar dengan para petinggi (penjajah Jepang). Sikap dan perilaku Haji Rasul itu sama saja dengan memproklamirkan perang terhadap penjajah jepang yang terkenal sadis. Tapi, usai upacara, dengan yakinnya ia mengemukakan dalil.

“Tuan-tuan ulama yang mulia. Memang mempertahankankan pendirian dan keyakinan tidaklah selalu membawa bahaya, bahkan asal kita tetap tawakkal kepada Allah, bukan bahaya yang akan menimpa, tetapi mungkin menguntungkan. Janganlah hanya mengingat bahaya, tetapi ingat pula akan keuntungan. Cobalah lihat sikap saya tadi. Saya tetap duduk, sekali-kali bukan lantaran ingin menentang Dai Nippon, melainkan karena taat kepada ketentuan Allah. Allahlah yang melarang saya turut melakukan upacara ruku kepada selain Dia. Cobalah tuan-tuan lihat sekarang. Paduka tuan Kolonel tidaklah kecewa pada saya, karena saya tetap berpegang teguh pada keyakinan saya,” ujarnya.

Gara-gara peristiwa di Bandung itu, Jepang tak menyertakan Haji Rasul dalam kegiatan propaganda keliling. Tapi sikapnya tak pernah berubah, meski bujuk rayu Jepang begitu gencarnya. Sikap tegas Haji Rasul tak hanya pada penjajah jepang. Terhadap para kiai dan ulama yang dekat dengan penjajah, Haji Rasul pun bersikap serupa. Kepada Soekarno ia memberi nasihat, “Janganlah terlalu mewah Karno! Kalau hidup pemimpin terlalu mewah, segan rakyat mendekati!”

Haji Rasul alias Abdul Karim Amrullah, sadar betul dengan makna hadits, “Seutama-utama jihad adalah menyatakan perkataan yang benar terhadap penguasa yang zalim.” Karenanya, ulama yang benar tak pernah takut pada penguasa yang juga makhluk-Nya. Takutnya hanya kepada Allah. “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama,” (QS Faathir: 28).

Jadi, kalau seseorang dianggap sebagai ulama, tapi dia mau dikendalikan  penguasa, membantu memaksakan kehendak penguasa  kepada rakyat, tak berani menyatakan yang benar adalah benar, dan takut menyatakan yang sesat adalah sesat, maka layakkah ia disebut ulama dalam arti sebenarnya?

Sesungguhnya pengertian ulama yang benar, tak hanya dalam arti memahami syariah atau fiqh, tidak. Dokter, ekonom, pengusaha, guru, ilmuan, hakim, jaksa, pakar hukum syariah, fiqh, presiden, dan sebagainya, jika keilmuan dan profesinya membuatnya takut kepada Allah, maka dia adalah ulama. Jadi, seharusnya presiden itu sekaligus ulama. Intelektual, cendekiawan dan ilmuan itu ulama. Dokter itu ulama.

Semuanya ulama jika hanya takut kepada Allah. Ulama dalam keilmuan dan profesinya masing-masing. Jadi, dalam Islam, presiden yang menjadi pemimpin pemerintahan dan negara itu mestinya ulama. Tak ada pemisahan ulama dan umaro. Hadits yang menyebut dua istilah ini (ulama dan umaro) kedudukan haditsnya dipertanyakan oleh ahli hadits. Rasulullah saw itu sekaligus pemimpin negara, pemimpin pemerintahan. Para sahabat yang menjadi khalifah, selain menjadi pemimpin negara dan pemerintahan, juga ahli dalam hukum syariah dan fiqh. Jadi tak ada pemisahan ulama dengan umaro. Jika dipisahkan, itu namanya sekular!

Karenanya, jika partai-partai Islam paham, apalagi mereka mempunyai ulama di bidang masing-masing, ulama yang hanya takut kepada Allah, mestinya salah satu perjuangan mereka adalah mengembalikan fungsi pemerintahan dan kenegaraan sebagaimana era Rasulullah dan sahabat. ( Sumber : salam-online.com )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.