Tawadhu Artinya “ Merendahkan Hati ” Lawannya “ Takabbur ” atau “ Sombong ”

Tawadhu Artinya “ Merendahkan Hati ” Lawannya “ Takabbur ” atau “ Sombong – Tawadhu secara bahasa bermakna dengan “merendahkan hati “, yaitu kerelaan hati pada pada posisi yang lebih rendah dari posisi yang sebenarnya lawan katanya adalah takabbur atau sombong. Tawadhu, hakikatnya hanya ditujukan kepada Allah saja yaitu dengan meyakini dengan kesadaran yang penuh bahwa sebagai makhluk kita ini lemah dan tidak berdaya dibanding dengan kekuasaan Allah SWT. Termasuk di dalam sifat tawadhu ini adalah kerelaan hati untuk menerima kebenaran apapun bentuk dari kebenaran itu tanpa memandang dari mana kebenaran itu berasal

 “Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” ( HR : Imam Muslim )

Selanjutnya, perlu difahami bahwa walau hakikat tawadhu itu hanya ditujukan kepada Allah saja ; sebagai bukti ketundukan dan ketertundukan seorang hamba terahadap Tuhannya, sifat tawadhu harus bisa dibuktikan dalam praktek keseharian ketika bermuamalah dengan sesama manusia

“ Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan”. ( QS : 025 : Al – Furqan : Ayat 63 )

“ Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung ( QS : 017 : Al – Israa’ : Ayat : 037 )

Orang yang memiliki sifat tawadhu selalu berjalan dengan menundukkan hati dan kepalanya seakan – akan tidak pernah melihat langit atau tanpa membusungkan dada dengan hati dan kepala sombong mendongak ke atas seakan – akan  tidak pernah melihat bumi. Sehingga ketika orang yang mempunyai sifat tawadhu ini disapa dan dikomentari, mereka hanya akan menjawab ‘salama’, yang artinya keselamatan atas kita semua, diantara kita tidak ada yang lebih baik, aku juga tidak lebih baik dari kamu begitu juga sebaliknya.

Ketahuilah bahwa sesungguhnya, kerendahan hati yang dimiliki oleh orang yang mempunyai sifat tawadhu ini mendapat keistimewaan yang khusus di hadapan Allah, dan Allah telah mengangkat derajatnya dan memberikan gelar atau sebutan sebagai ‘ibadurrahman’ yang artinya hamba Yang Maha Penyayang.

Tidaklah seseorang tawadhu’ karena Allah kecuali Allah Azza wa Jalla mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim)

Sedangkan sifat takabbur atau sombong sebagai lawan dari sifat tawadhu adalah sifat yang sangat dibenci oleh Allah karena sejatinya kesombongan itu hanyalah milik Allah. Ketahuilah bahwa sesungguhnya kesombongan hanya akan menimpa mereka yang tidak memiliki sifat ketawadhuan.

“ Allah SWT berfirman, sifat sombong itu selendang-Ku, dan keagungan itu pakaian-Ku. Barangsiapa yang memakai dari keduanya, maka Aku lemparkan dia ke dalam neraka. Dan Aku tidak peduli “. (HR. Muslim, Abu Dawud dan Ahmad)

Jadi sebagai makhluk, kita tidak lagi punya pilihan selain harus memakai dan mengamalkan sifat tawadhu ini karena kesombongan dan keagungan itu hanya khusus milik Allah saja dan Allah sungguh tidak terima bila ada hamba yang memilki sifat keduanya. Begitu tersinggungnya Allah hingga Ia akan melempar siapapun yang ‘menggunakan’ kedua sifat itu, ke Neraka tanpa peduli.

Sifat ketawadhuan, tentunya tidaklah sifat yang bisa diperoleh dengan hanya mempelajari lembaran – lembaran kitab dan atau hanya dengan mendengarkan ceramah – ceramah dari mubaligh ternama saja. Sifat ketawadhuan hanya akan didapatkan melalui latihan yang terus menerus tanpa henti.

Sadarilah bahwa sesungguhnya diri kita ini hina karena yang mulia hanyalah Allah. Sebagai makhluk, manusia berasal dari setetes air mani, yang jikalau Allah swt menghendaki bisa saja mani itu tumpah dan menjadi konsumsi semut dan lalat. Dan Ibnu Hibban rahimahullah berkata, “Bagaimana tidak harus tawadhu, sedangkan dia tercipta dari nutfah yang memancar dan akhirnya kembali menjadi bangkai yang busuk, sementara semasa hidupnya ia senantiasa membawa kotoran.” (kitab Raudhatun ‘Uqalaa’ wa Nuzhatul Fudhalaa’ hal 61 )

Sadarilah bahwa sesungguhnya diri kita ini faqir karena yang kaya hanyalah Allah. Sedangkan hakikat kekayaan itu adalah kebutuhan. Orang miskin itu mempunyai kebutuhan yang lebih banyak sebanyak yangtidak dia miliki, sehingga semakin kaya seseorang itu ketika yang dia butuhkan semakin sedikit. Sedangkan Allah sedikitpun tidak membutuhkan apapun. Allah Maha Kaya Raya. Seluruh kekayaan hanyalah milk Allah. Kitalah yang selalu membutuhkan Allah

Sadarilah bahwa sesungguhnya diri kita ini bodoh karena yang Maha Mengetahui itu hanyalah Allah. Sedikit ilmu yang ada pada kita hanya sekedar titipan dari Allah yang dapat diambil kapan saja Lihatlah ketika seorag professor, doktor, cendekia ketika terkena struk atau ketika mengalami geger otak akibat suatu hal, apa yang dapat ia lakukan?

Sadarilah bahwa sesungguhnya diri kita ini lemah karena yang Maha Kuat itu hanyalah Allah. Tidak ada seorangpun atau satu kaum pun di dunia ini cukup kuat untuk mampu bertahan selamanya tanpa dimakan waktu dan usia. Betapa banyak legenda tentang kejayaan para raja masa lalu yang berkuasa begitu hebatnya, tetapi sekarang hanya tinggal kenangan dan catatan sejarah saja. Hanya kekuasaan Allah yang abadi. Bukankah kekuatan negara adidaya di dunia juga selalu silih berganti?

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani berpesan kepada muridnya bahwa :

  • Ketika kamu berjumpa dengan seseorang maka hendaklah engkau melihat keunggulannya dibanding denganmu. Dan katkanlah (dalam hati) bahwa “orang itu lebih baik dari pada aku di mata Allah swt”.
  • Ketika (kamu berjumpa) dengan anak kecil, hendaklah berkata (dalam hati) dia ini belum terlalu banyak maksiat (karena umurnya lebih muda) dan otomatis dia lebih baik dari pada aku.
  • Ketika (kamu berjumpa) dengan orang tua, hendaklah berkata orang ini telah lama beribadah kepada Allah sebelum aku (karena umurnya lebih tua, maka dia lebih baik dia dari pada aku).
  • Ketika (kamu berjumpa) dengan seorang yang ‘alim, hendaklah berkata (dalam hati) dia telah diberi sesuatu (pengetahuan) yang aku belum memilikinya dan dia telah memperoleh sesuatu yang aku belum peroleh dan dia juga telah mengerti apa yang aku tidak mengerti. Dia beamal dengan ilmunya (pastilah lebih diterima amalnya dari padaku).
  • Ketika (kamu berjumpa) dengan seorang yang bodoh, hendaklah berkata dia bermaksiat karena kebodohannya, sedangkan aku melakukan maksyiat dengan ilmuku. Sungguh aku tidak tahu apakah aku lebih baik dari pada dia? (Maqam Tauhid )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Page-level ads only appear on the page when AdSense thinks they'll perform well. Add the following Page-level code to more of your pages to increase the overall performance of ads on mobile. Copy the code below and paste it inside the tag of any page you want to show ads on. Place the same code just once per page, and AdSense takes care of the rest.
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.