Peran Puasa Dalam Menggapai Maqam Taqwa

Peran Puasa Dalam Menggapai Maqam Taqwa – Ramadhan sudah berjalan beberapa hari, artinya sudah beberapa hari pula pada tahun ini, sebagai manusia yang beriman larut dalam pelaksanaan ibadah puasa sebagai sebuah ritual ibadah wajib yaitu “ menahan lapar dan dahaga mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari serta meninggalkan segala segala sesuatu perbuatan yang dilarang yang bisa menyebabkan batalnya ibadah puasa tersebut secara syariat

Seperti Ramadahan tahun lalu dan tahun – tahun  sebelumnya mulai dari tahun ke – 2 Hijrah sampai sekarang umat Islam yang berman dari generasi ke generasi berikutnya telah menjalankan dan melaksanakan ibadah puasa secara rutin dan terus menerus dengan harapan mampu mencapai salah satu maqam tertinggi sebagai seorang hamba di sisi Tuhannya yaitu “ Maqam Taqwa

“ Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa “ ( QS : 002 : Al – Baqarah : Ayat : 183 )

Namun tidak bisa dimungkiri, bahwa ternyata bayak diantara kita telah melaksanakan puasa bertahun – tahun lamanya belum mampu mencapai Maqam Taqwa yang menjadi tujuan dari pelaksanaa ibadah puasa tersebut. Bahkan sebagian besar diataranya justru tidak mendapat apa –apa

Rasulullah SAW bersabda: “Berapa banyak orang yang berpuasa hanya mendapatkan rasa haus dan lapar dari puasanya,” ( HR  : Ibnu Majah).

Ketahuilah bahwa sesungguhnya puasa itu bukan hanya sekedar menahan lapar dan dahaga serta menahan diri dari segala sesuatu yang membatalakan puasa itu saja atau hanya sebagai suatu sarana pengabdian dari seorang hamba kepada Tuhannya melalui aneka ibadah sunah yang mempunyai nilai pahala tinggi semata, tetapi ibadah puasa itu lebih merupakan suatu pengembalian hakikat insan yang ada di dalam diri kepada kondisi asal dari waktu pertama sekali adanya insan tersebut

Dan ( ingatlah ), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka ( seraya berfirman ) : ” Bukankah Aku ini Tuhanmu? ” Mereka menjawab: ” Betul ( Engkau Tuhan kami ), kami menjadi saksi “. ( Kami lakukan yang demikian itu ) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: ” Sesungguhnya kami ( bani Adam ) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini ( keesaan Tuhan ) “ ( QS : 007 : Al – A’raaf : Ayat : 172 )

Dengan demikian dapat dipahami bahwa dari asal kejadiannya, sesungguhnya insan dalam diri, lahir di awali dengan tiadanya daya kehendak dan keinginan selain dari pada pengakuan dan kepasrahan yang disandarkan kepada kehendak ( iradat ) Allah SWT semata  

“ Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. Tak ada Tuhan ( yang berhak disembah ) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. “ ( QS : 003 : Ali Imran : Ayat : 006 )

Ketika insan tersebut telah dilahirkan ke alam dunia, maka lahirlah seorang anak manusia dalam kondisi fitrah yang suci, ibarat selembar kertas putih tanpa setetes pun noda tinta yang menyertainya, baik tinta sebagai noda yang mengotorinya ataupun tinta sebagai penanda yang merujuk kepada masa depannya.

Ketiadaan kehendak selain dari kehendak ( Iradat ) Allah SWT itulah yang harus dikembalikan sebagaimana asal pertama sekali adanya insan itu di dalam diri manusia melalui ritual ibadah puasa yang wajib dilaksanakan setiap tahun bagi manusia – manusia yang beriman.

Belumlah seseorang itu dikatakan berpuasa ketika dia telah mampu menahan lapar dan dahaga, tapi puasa itu lebih kepada mengembalikan kehendak tubuh atas makanan dan minuman itu kepada kehendak ( iradat ) Allah SWT semata. Tidaklah tubuh seseorang itu merasakan lapar dan dahaga kecuali Allah berkehendak terhadap rasa lapar dan dahaga itu atas tubuh demikian juga pada saat memenuhi rasa lapar dan dahaga itu dengan rasa kenyang.

Melalaui pamahan tersebut, maka untuk mengapai Maqam Taqwa, seorang hamba harus mampu melenyapkan setiap kehendak yang tumbuh dari dalam dirinya di dalam kehendak Allah. Kehendak Allah Adalah Hak yang tidak membutuhkan sebab atau alasan ada tidaknya sesuatu

Jadi dengan hanya menjadikan Ramadhan sebagai ladang atau sarana untuk mendulang pahala semata sebagaimana Ramadhan – Ramadhan tahun lalu, maka pada Ramadhan tahun ini, hendaknya kita harus mulai meningkatkan kualitas ibadah puasa kita dengan perlahan – lahan berusaha mengembalikan setiap kehendak dan laku kita sebagai makhluk sesuai dengan Hak Allah Tuhan Rabb al Alamin. Karena kalau dimulai dari tahun depan, dikhawatirkan mungkin sudah terlambat ( Maqam Tauhid )

1 Comment to "Peran Puasa Dalam Menggapai Maqam Taqwa"

  1. zaidi's Gravatar zaidi
    August 17, 2013 - 12:26 am | Permalink

    Assalamualaikum,saya sedang mencari ilmu mengenali tuhan dan diri saya,selama saya hidup belum rasa nikmat ibadah..blog sperti tuan ini amat memberi kesan kepada saya untuk mendalami lagi ilmu tauhid dan seterusnya menjadi muslim yang benar2 muslim..alhamdullillah..insyaallah…

Leave a Reply