Iman Dasar Akidah

Iman Dasar Akidah. Muslim / Muslimah yang memiliki keteguhan iman dan selalu berkomitmen dengan nilai-nilai kebenaran Islam, yang selalu di implementasikan dalam seluruh aspek kehidupan akan merasakan manisnya buah dari keimanan itu. Jiwanya akan selalu tenang menuju tangga kesempurnaan keimanan, yang akan melahirkan keberanian yang luar biasa di dalam beramar makruf dan bernahi mungkar, selalu bersikap optimis ( tafa’ul ) di dalam mengayuh biduk kehidupan ini. Tidak pernah merasa cemas, khawatir dan sedih selama masih berada dalam level kebenaran dan selalu berpedoman pada dua pusaka yang di tinggalkan Rasulullah Saw yaitu Al Quran dan As Sunah. “ Sesungguhnya aku telah meninggalkan untukmu dua pusaka, jika kamu berpegang teguh pada keduanya niscaya kamu tidak akan tersesat untuk selama-lamanya yaitu Kitabullah dan Hadis Rasulullah Saw”. ( HR. Al Hakim ). Mengacu pada hadis Rasul Saw di atas sebagai umat Islam sudah menjadi suatu kewajiban menyakini seyakin-yakinnya bahwa yang menciptakan / menjadikan baik dan buruk, anuqrah dan bencana, yang mengatur riski, langkah, pertemuan dan maut, sampai pada penciptaan jagat raya ini plus pengaturanya tiada lain adalah sang khalik, Allah Swt. Dialah zat yang maha pencipta dan maha kuasa atas segala sesuatu yang ada di jagat raya ini. Keyakinan itulah yang di sebut dalam Islam sebagai iman yang berujung pada ketaqwaan serta Al Quran & Sunah Saw sebagai pedomanya.

Menurut pengertian bahasa iman adalah percaya atau membenarkan, sedangkan menurut ilmu tauhid iman berarti membenarkan atau meyakini dengan hati, mengucapkan dengan lisan dan yang terpenting adalah mengamalkanya / meimplementasikanya dalam bentuk / wujud perbuatan selam menjalani kehidupan di atas dunia ini. Tidak bisa di pungkiri lagi bahwa hal seperti yang di sebutkan di ataslah yang merupakan pokok dasar dari seluruh rangkaian akidah Islam dengan menyempurnakan keimanan pada-Nya. Seperti yang telah di firmankan Allah dalam Qs Al Anfal-2-4 yang artinya. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila di sebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila di bacakan pada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka karenanya dan kepada tuhanlah mereka bertawakal.Yaitu orang-orang yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian riski yang kami berikan pada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya, mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi tuhan-Nya dan ampunan serta riski ( ni’mat ) yang mulia”.

Dari uraian ayat Al Quran di atas mengambarkan bahwa Islam itu memandang iman dan takwa sebagai martabat yang paling mulia di sisi Allah Swt. Jelas sangat percuma sekali kalau hanya sekedar percaya atau sekedar mempercayai Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya maupun para Rasul-Rasul-Nya jika mengesampingkan / tidak mengimani kesaan Allah Swt sebagai khalik yang harus di sembah menurut aturan Syariat dan Hadis Rasul Saw. Keyakinan terhadap sang pencipta itu sebenarnya tidak saja di ajarkan oleh agama Islam khususnya, tetapi ilmu pengetahuan pun telah mengakui akan keagungan dan keberadaa-Nya itu. Seperti yang pernah di kemukakan oleh seorang filosof Yunani Xenophanes ( 580-470 SM ), dia mengatakan tuhan yang maha esa itu di jadikan tidak bergerak, berubah-rubah dan Dia adalah penguasa tunggal alam semesta ini.

Hal ini dapat kita lihat dalan Qs Al An’am-73 “ Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu dia mengatakan”Jadilah lalu terjadilah” dan di tangan-Nyalah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang gaib dan yang nampak. Dan Dialah yang maha bijaksana lagi maha mengetahui”. Inti ajaran Islam pada dasarnya adalah mengajarkan pada setiap pemeluknya agar selalu hidup dalam kebahagiaan baik di dunia yang fana ini maupun di akhirat yang kekal dan abadi, yang salah satu cara untuk mendapatkanya adalah dengan memelihara dan memupuk rasa keimanan sebagai dasar / pondasi akidah Islam.

Al Quran memberikan petunjuk yang lengkap untuk meraih kebahagiaan yang di janjikan-Nya itu, tentu dengan mempelajarinya secara serius dan harus benar-benar di pelajari ( kaffah ), di pahami sampai mengerti, agar orang-orang yang berfikir mendapat pelajaran di sisi Al Quran tersebut. Sebagai mana yang telah di firmankan Allah dalam Qs Shaad- 29 “ Inilah kitab yang kami turunkan kepadamu yang penuh dengan keberkahan, supaya kamu memperhatikan ayat-ayat-Nya, dan supaya orang-orang yang mempunyai pikiran mendapat pelajaran”. Begitu juga ajaran Islam ini bagaimanapun situasi dan kondisi zaman, dalam keadaan susah maupun senang harus di amalkan dengan tepat dan benar penuh kesabaran di setiap lini dan sisi kehidupan ini ( lihat Qs Al Ahzab-36 ).

Sikap orang mukmin / mukminat yang di landasi dengan keimanan yang mantap seharusnya selalu berkata / berprinsip, kami taat pada hukum-hukum Allah yang tercantum dalam Al Quran, dan akan selalu mentaati tuntutan Rasulullah Saw berat maupun ringan. Sebab tidak ada hukum Allah maupun Hadis Saw yang merugikan dan yang di rugikan. Kita harus menanamkan keyakinan yang teguh bahwa ayat-ayat Allah benar-benar membawa keselamatan dan kebahagiaan yang besar untuk hidup di dunia maupun di akhirat. Berfirman Allah “ Sesungguhnya perkataan ( jawaban ) orang-orang yang beriman di kala mereka di panggil oleh Allah dan Rasul-Nya agar menghukum ( mengadili ) di antara mereka, mereka hanyalah berkata “kami mendengar dan kami mentaati dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Allah juga mengatakan bahwa Islam adalah agama yang telah di pilihnya dan di ridhoinya sebagaimana yang telah tertulis dalam Hadis Qudsi yang artinya “ Ini ( agama Islam ) adalah agama yang telah Ku ridhoi untuk diriku sendiri dan tidak akan dapat di manifestasikan kecuali dalam perbuatan murah hati dan akhlak yang baik. Karena itu jadikanlah mulia dengan sifat itu selama kalian menganutnya. ( Hadis Qudsi Riwayat Sumawaih dan Ibnu Adi ). Setiap orang Islam yang mengaku beriman dan bertaqwa tidak akan melepaskan dirinya dari Allah, ia akan selalu bertawakal ( berserah diri ) setelah melakukan usaha yang relefansinya dengan berbagai macam nilai kebaikan. “Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang menyerahkan diri hanya pada Allah, sedang dia mengerjakan kebaikan dan mengikuti agama Ibrahim yang lurus”.( Qs An Nisa-125 ).

Ajaran Islam tidak akan berarti apa-apa jikalau kurang mendapatkan tempat yang khusus dalam setiap pribadi muslim / muslimah, dengan artian ajaran Islam itu harus di hayati dan dipahami oleh para pemeluknya dalam segala sisi kehidupan dengan berkarakterkan tauhid serta menanamkan satu harapan yaitu keridhoan Allah Swt. Nah pengamalan ajaran seperti inilah yang akan bisa mengantarkan manusia itu menjadi orang yang benar-benar beriman dan bertaqwa, yaitu suatu sebutan yang paling mulia di sisi Allah Swt. Dengan kata lain, iman dan taqwa sebagai dasar akidah sebagai kunci kesuksesan hidup dunia dan akhirat. Dalam sikap ini terkandung gaya hidup yang islami, patuh, ikhlas.tawadhu’, ulet dalam berusaha, sabar dsb. Dan jelas akan selalu mengutamakan hak Allah dari pada segala-galanya. Allah Hu a’llam.  [ Terbit Pada Harian Haluan, Pada Tanggal 16 Juni 2006 – Penulis Adalah Pengamat Sosial Keagamaan Tinggal di Padang ]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.