Hakikat Niat Dalam Menggapai Maqam Ikhlas

Hakikat Niat Dalam Menggapai Maqam Ikhlas – Niat adalah ibadah hati yang hanya diketahui oleh dirinya dan Allah dan pada kajian sebelumnya telah di sampaikan bahwa, hanya niat-lah satu – satunya ibadah yang diharapakan bisa terbebas dari sifat riya, sedangkan ibadah yang lain tidak dijamin bebas dari riya.

Karena diyakini bahwa hanya niat satu – satunya ibadah yang kemurnian tauhidnya diharapkan bisa dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Maka, penataan niat yang baik dan benar akan melahirkan perbuatan yang berlimpah pahala kebaikan, sehingga dikatakan bahwa “ Niat orang mukmin lebih baik dari amalnya

Selain itu, niat seorang mukmin merupakan pintu gerbang yang menjadi pemisah antara dua perbuatan atau ibadah yang berbeda. Yaitu antara ibadah keduniawian dan ibadah tauhid. Ketika hati telah berniat, maka ketika itu juga gerbang tauhid sudah terbuka, selanjutnya tinggal keteguhan kaki untuk terus melangkah maju memasuki alam tauhid yang pintunya sudah lebar terbuka.

Ketika hati sudah berniat untuk melaksanakan ibadah shalat berjama’ah ke mesjid karena menunaikan perintah Allah, lalu dia juga beniat untuk bersilaturrahmi dengan sesama muslim, tentu baginya akan dihimpunkan dua pahala kebaikan yang sempurna atas niatnya itu dan tentunya akan bertambah lagi apabila disertai dengan niat untuk mencari dan menambah ilmu yang disampaikan di majelis ilmu yang bisa dilaksanakan di mesjid dan kemudian dilakukan dengan penuh kesabaran. Insya Allah

“ Barangsiapa berniat melakukan kebaikan namun dia tidak jadi melakukannya, Allah tetap menuliskanya sebagai satu kebaikan yang sempurna di sisi-Nya. Jika ia berniat berbuat kebaikan kemudian mengerjakannya, maka Allah menulisnya di sisi-Nya sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat sampai kelipatan yang banyak. Barangsiapa berniat berbuat keburukan namun dia tidak jadi melakukannya, maka Allah menulisnya di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna. Dan barangsiapa berniat berbuat keburukan kemudian mengerjakannya, maka Allah menuliskannya sebagai satu keburukan. ” (HR. al-Bukhâri dan Muslim )

Kembali kepada hakikat niat yang sudah disampaikan sebelumnya dalam blog “ Kajian hakikat Ilmu Tauhid “ ini bahwa, niat itu merupakan kesengajaan yang dilahirkan dari hati melalui usaha atau perbuatan yang mengarah terhadap terujudnya kesengajaan tersebut, maka melalui pemahan hadist Qudsi tersebut di atas, bisa dipastikan bahwa syetan tidak akan tinggal diam dan tidak akan membiarkan manusia memperoleh pahala kebaikan yang begitu berlimpah atas tiap perbuatan ibadah yang dilaksanakan dari Tuhannya

Syetan dengan segenap upaya pasti akan berusaha untuk menjebak manusia agar kebaikan yang sudah diniatkan itu tidak jadi untuk dilaksanakan dengan cara memasang jebakan pelamunan. Pelamunan adalah angan – agan untuk melakukan kebaikan tanpa disertai dengan tekad yang kuat untuk melaksankannya. Syetan menganggap satu pahala kebaikan yang berasal dari niat yang sudah dikukuhkan hati sebelumnya, merupakan imbalan kebaikan yang sudah terlalu banyak bagi manusia, apalagi kalau niat tersebut jadi dilaksanakan.

Apabila keteguhan hati mampu lepas dari jebakan pelamunan yang dipasang syetan, maka selanjutnya syetan akan menghembuskan sifat ujub ke dalam hati manusia yaitu dengan merasa lebih dari orang lain. Syetan akan berusaha menimbulkan perasaan takjub terhadap diri sendiri hingga, seolah-olah hanya dirinyalah yang paling utama daripada yang lain. Padahal boleh jadi ia tidak dapat beramal sebagus amal orang lain itu dan boleh jadi orang lain itu lebih wara’ dari perkara haram dan lebih suci jiwanya ketimbang dirinya.

Ketahuilah bahwa sesungguhnya, sudah sangat banyak manusia yang terjebak dalam jeratan sifat ujub ini, sehingga seluruh ibadah kebaikan yang telah dilaksanakannya hangus tak benilai. Ketahuilah bahwa sesungguhnya, sifat ujub ini akan medamkan setiap pelita yang sedang terang menyala dan menjadikan orang yang diserangnya jadi angkuh dan sombong, merasa diri paling benar sendiri, sehingga hanya dirinya lah yang paling taat dan paling benar ibadahnya.

Maka dari itu, dengan selalu memperbaharui niat setiap waktu dan terus mengulanginya setiap saat sebagai mana awal niat itu ada, maka Insya Allah hati akan tetap konsisten pada niat semula dan ketika bibit sifat ujub sudah mulai mendekat, maka dengan kembali memperbaharui niat seperti semula adanya niat, maka hati akan bisa terhindar dari sifat ujub ini.

Dan ketika hati sudah terbiasa menghindari dan mampu mengindari sifat ujub ini, artinya secara perlahan kita sudah mulai memasuki maqam Ikhlas sebagai bentuk ketaatan dalam cinta dari sepasang kekasih yang saling menyayangi dan sebagai bentuk ketaatan dalam ketakutan terhadap Kemahaperkasaan Sang Penguasa Semesta Jagat Raya yaitu Allah Rabbal Alamin. Amin ( Hakikat Ibadah )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Page-level ads only appear on the page when AdSense thinks they'll perform well. Add the following Page-level code to more of your pages to increase the overall performance of ads on mobile. Copy the code below and paste it inside the tag of any page you want to show ads on. Place the same code just once per page, and AdSense takes care of the rest.
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.