Sifat Jaiz Allah Dalam Prespektif Hukum Wajib

Sifat Jaiz Pada Allah Dalam Prespektif Hukum Wajib – Umumnya manusia cendrung lebih tunduk, taat dan patuh kepada apa yang dia yakini dari pada tunduk, patuh dan taat kepada kebenaran yang diakui, sehingga ketika sebuah pemahaman tentang sesuatu yang berasal dari keluasan pemikiran dan pengetahuannya yang terbatas sudah dianggap benar, maka segala sesuatu yang berlawanan atau tidak sejalan atau tidak sama dengan pemhamannya itu akan dianggap salah.

Ketahuilah bahwa, setiap ijtihad atau peterjemahan suatu hukum pada hakikatnya merupakan suatu pemaksaan terhadap hukum itu agar dijalankan sesuai dengan apa yang dikehendaki. Demikian juga ketika menterjemahkan suatu hukum atas suatu penetapan dari Allah dalam bentuk Ijthihad, sehingga hakikat ijtihad itu adalah salah satu bentuk legal dari pemaksaan agar suatu hukum yang sudah ditetapkan Allah itu sesuai dengan apa yang telah diijtihadkan

Boleh jadi apa yang telah di ijtihadkan itu adalah benar sebagaimana yang dimaksudkan oleh Allah dan tidak tertutup kemungkinanan bahwa hasil ijtihad tersebut tidak sama dengan apa yang dimaksudkan oleh Allah. Hanya Allah yang tahu dan Maha Mengetahui segala sesuatu yang Dia kehendaki. Allah berbuat sesuai dengan kehendak – Nya dan berkuasa untuk berbuat sesuai dengan kehendak – Nya itu. Tidak satupun makhluk yang mampu mempengaruhi keputusannya apalagi melarangnya, sehingga tidak seorang manusia pun makhluk yang tahu dengan pasti apa yang dikehedaki Allah

Ketika Allah memerintahkan kepada manusia untuk melaksanakan suatu perbuatan, maka perintah tersebut dimaknai dengan wajib hukumnya untuk dilaksanakan dan apabila manusia yang diberi perintah itu enggan atau menolak untuk melaksanakan perintah tersebut, maka manusia tersebut akan dinyatakan sebagai makhluk durhaka yang telah melawan perintah Allah. Sehingga arti hukum wajib itu dibatasi menjadi “ sesuatu yang apa bila dikerjakan akan mendapat pahala dan kalau ditinggalkan akan mendapat dosa atau siksa “.

Ketika manusia telah selesai melaksanakan suatu perintah yang diperintahkan Allah atau berhasil menghindari sesuatu yang dilarang Allah, maka pada tahapan ini, manusia yang telah mengerjakan perintah dan atau berhasil menghindari suatu larangan menjadi berhak untuk mendapat imbalan pahala dari Allah sebagai pemberi perintah mengerjakan atau meninggalkan. Perintah yang sebelumnya wajib bagi manusia sebagai makhluk untuk dikerjakan atau ditinggalkan, setelah dilaksanakan, selanjutnya menjadi perintah wajib bagi Allah untuk memberikan imbalannya

Jadi, hukum wajib yang dimaknai dengan “ sesuatu yang apa bila dikerjakan akan mendapat pahala dan kalau ditinggalkan akan mendapat dosa atau siksa “ hanyalah pemaknaan yang diberikan kepada kita oleh orang tua atau guru ketika kita masih kanak – kanak, sehigga bahasa yang dipakai, maknanya telah disesuaikan dengan tingkat pemikiran dan pemahaman seorang anak tentang perbutan yang baik dan perbutan yang buruk

Setelah dewasa, pemahaman hukum wajib seperti tersebut diatas sudah seharusnya lebih ditingkatkan dengan mengaitkan hukum wajib itu dengan sifat jaiz pada Allah yaitu, mungkin saja ketika setiap manusia sudah berkelompok dan berada pada barisannya masing – masing di padang masyhar kelak. Allah hanya mengambil salah satu atau sebagian dari anggota kelompoknya untuk dihisab. Apabila didapatkan perhitungan kebaikan dan keburukannya dianggap layak dan cukup untuk memasukkanya kedalam surga, maka seluruh anggota dalam kelompoknya itu juga sudah dianggap layak untuk masuk surga dengan memaafkan dan mengampuni seluruh anggota kelompok itu

Demikian juga terhadap satu barisan atau kelompok yang ketika diambil salah satu atau sebagian yang dianggap mewakili seluruh keburukan yang dilakukan seluruh anggota kelompoknya, setelah dihisap ternyata cukup untuk memasukkannya kedalam neraka, maka seluruh anggota kelompok itu semuanya diputuskan untuk masuk neraka dan tidak mustahil dan tidak tertutup kemungkinan, dengan hidayah – Nya, Allah hanya memasukkan satu atau sebagian orang yang dianggap mewakili kelompoknya itu saja yang dimasukkan ke dalam neraka, sedangkan anggota kelompoknya yang lain dimaafkan dan diampuni

Itulah salah satu pemahaman sifat jaiz pada Allah ditinjau dari sudut padang hukum wajib dan kehalalan serta keharaman sesuatu perbuatan dalam konteks hukum sar’i. Dan pemahaman ini pulalah yang menjadi salah satu ciri dan perbedaan yang nampak antara para ahli tasawuf dan kaum sufi dengan pemahaman tariqat yang diamalkannya dengan para penghujat dan kelompok yang anti terhadap pemahaman tasyawuf dan kaum sufi serta ajaran – ajaran tariqat yang mereka amalkan

Para ahli tasawuf dan kaum sufi bersusaha untuk selalu memposisikan dirinya sebagi hamba dalam pengabdian terhadap Tuhannya bukan sebagai kuli atau buruh yang menuntut gaji dan upah selesai bekerja. Surga dan neraka bukanlah tujuan. Tujuan hidup seorang ahli tasawuf dan kaum sufi hanyalah meraih ridha Allah, karena ada dan tiadanya dirinya, bukan atas kehendak mereka sendiri sebagai makluk melainkan atas iradat atau iradah Allah Sang Maha Pencipta. Dengan raihan ridha dari Allah, Sang Maha Pencipta, maka surga dan neraka itu akan bermakna sama saja. Allah pasti lebih tahu dimana seharusnya menempatkan sesuatu yang telah Dia ciptakan termasuk bagi hamba yang sangat berharap perolehan cinta dari – Nya. ( Kembali ke Dasar )

Leave a Reply