Siapa Yang Berhak Melakukan Istithbah dan Istikhbats ?

Siapa Yang Berhak Melakukan Istithbah dan Istikhbats ? – Setelah para ulama mazahab Safi’i dan mazahab Hambali sepakat bahwa kriteria istithbah dan istikhbats adalah bangsa arab, karena merekalah yang berhak menilai baik dan buruknya jenis – jenis makanan yang tidak tercantum hukumnya di dalam Al – Quran maupun Hadist. Selanjutnya mereka ( para ulama ) berbeda pendapat tentang bangsa arab manakah yang berhak melakukan penilaian tersebut. Apakah bangsa arab yang hidup pada masa Nabi SAW saja !?

Al-Imam al-Rafi’i dari kalangan mazahab Syafi’i berkata, “ sekelompok ulama menyebutkan bahwa kriteria dalam menentukan bangsa arab yang mana, adalah kebiasan bangsa arab yang hidup pada masa Nabi SAW. Karena merekalah yang menerima Al-Quran ketika itu.

Perkataan imam al-Rafi’i ini memberi pengertian bahwa bangsa arab yang ada pada masa sekarang tidak dapat lagi dijadikan rujukan dalam masalah istithabah. Hanya saja kemudian ia berkata, “ Ada sebuah pendapat mengatakan masalah ini dikembalikan kepada setiap generasi bangsa arab yang hidup pada zamannya “. Hal ini berarti bahwa penilaian bangsa arab sekarang dapat dijadikan sebagai rujukan dalam istithabab ( menentukan nilai thayyib )

Ketika ada perbedaan pendapat antara kelompok ( dari kalangan bangsa arab ) dalam menentukan hukum sesuatu, kelompok manakah yang diikuti ?.

Imam al-Nawawi berkata “ Menurut shahabat – sahabat kami dari kalangan ulama mazahab Syafi’i, apabila suatu kelompok memandang baik ( istikhbats ) sesuatu sedangkan yang lain memandang buruk ( istikhbats ) , maka kita mengikuti kelompok mayoritas antara mereka Apabila keduanya mempunyai suara sama banyak dan tidak memungkinkan melakukan tarjih, atau mereka membiarkan hewan tersebut tanpa ada ketetapan hukum yang mengaturnya atau kita tidak menemukan satupun bangsa arab baik dari kalangan Quraisy maupun dari suku-suku lainnya, maka kita menghukumnya dengan mengikuti hukum hewan yang mirip dengannya. Kadang-kadang kemiripan hewan itu terjadi karena bentuk fifiknya, karakternya, lembut dan kerasnya, kadang-kadang juga terletak pada kelompoknya sebagai pemakan daging ( karnivora ) “

Imam Muhammad al-Syarbani al-Khatib berkata, “ setiap hewan yang hukumnya tidak ditetapkan oleh Al – Quran, hadits atau pun ijmak dan tidak ada larangan atau analisa yang bersifat khusus atau umum tentang hewan itu dan tidak ada perintah syara’ untuk membunuhnya atau membiarkanya, maka itu semua merupakan hal yang baik menurut bangsa arab. Mereka adalah penduduk yang kaya dan subur, memilki tabiat yang sehat ( normal ) baik yang berasal dari kota maupun dari desa yang berada dalam keadaan sejahtera. Jadi itu semua adalah hukumnya halal, kecuali hewan yang keharamannya telah ditetapkan oleh syari’at. Maka hewan yang dikecualikan ini, kendati bangsa arab menganggapnya baik hukumnya tetap haram.”

Setiap hewan yang dinilai buruk oleh bangsa arab yaitu mereka menganggapnya sebagai hewan yang kotor ( buruk ), maka hukumnya adalah haram, kecuali hewan yang tidak diharamkan oleh syariat, Maka hewan yang dikecualikan ini tidak lagi dihukum haram, karena Allah SWT mendasarkan kehalalan dengan thayyib ( baik ) dan mendasarkan keharaman dengan khabits ( buruk )

Secara akal dapat diketahui bahwa penilaian baik dan buruk dalam sebuah produk, tidak dapat disepakati oleh semua manusia di seentero dunia. Karena mereka tidak mungkin sepakat untuk menghukumi sesuatu berdasarkan adat mereka masing – masing. Sebab tabiat mereka berbeda-beda. Dengan demikian, maka yang dimaksudkan di sini adalah sebagian dari mereka. Bangsa arab dapat mewakili mereka untuk itu, karena mereka bangsa yang paling utama. Mereka bangsa pertama yang mendapat khitab ( perintah ) syariat dan agama ini pun berwatak ( berbahasa ) arab.

Ungkapan penduduk yang kaya mengecualikan mereka yang membutuhkan uluran tangan. Ungkapan tabiat yang sehat mengecualikan mereka yang berada di pelosok – pelosok pendalaman yang bisa memakan hewan yang merayap dan melata, tanpa dapat membedakan nilai estetikanya. Penilaian mereka yang dikecualikan ini tidak dapat dijadikan sebagai pedoman. Begitu pula ungkapan dalam keadaan sejahtera mengecualikan dalam keadaan darurat yang tidak dapat dijadikan standard penilaian.

Syeikh Sulaiman al-Bujarimi dari kalangan mazahab Syafi’i menjelaskan firman Allah SWT “ Dan dihalalkan bagi mereka hal-hal yang baik “, yaitu hal-hal yang baik menurut sebagian manusia, yang dalam hal ini adalah bangsa arab, bukan seluruh umat manusia. Karena mustahil tabiat manusia dapat bersatu untuk menentukan baik atau buruknya seekor hewan.

Sementara itu, Imam ibnu Qudamah dari kalangan mazhab Hambali berpendapat bahwa kriteria istithabah dan istikhbats adalah penduduk hijaz. Beliau berkata, “ Orang-orang yang penilainnya tentang baik dan buruk seekor hewan dapat dijadikan pedoman adalah penduduk Hijaz di pemukiman. Mereka adalah orang – orang yang mendapat khitab langsung ketika Al – Quran diturunkan dan ketika Hadists disabdakan. “

Kemudian merujukkan keumuman istilah tersebut pada adat kebiasaan mereka ( penduduk Hijaz di pemukiman ) bukan yang lainnya. Beliau pun tidak memasukkan penilaian penduduk arab di pedalalaman karena mereka dalam keadaan darurat dan juga kelaparan biasa memakan apa saja yang ditemukan.

Hewan apa saja yang ditemukan di wilayah kaum muslimin, sedangkan penduduk Hijaz tidak mengetahuinya, maka hukumnya dikembalikan pada hewan yang mirip dengan itu di Hijaz. Jika tidak ada kemiripan sedikitpun dengannya, maka hukumnya adalah mubah, karena masuk dalam makna firman Allah SWT “ Katakanlah, “ Akau tidak memperoleh dalam firman yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan”. Dan sabda Nabi SAW : “ Apa yang Allah diamkan ( tidak ditetapkan hukumnya ) maka itu termasuk yang diampuni “ ( Dari Berbagai sumber )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.