Peran Pria dan Wanita Dalam Perspektif Islam

Peran Pria dan Wanita Dalam Perspektif Islam. Sebelum Al Quran diturunkan kemuka bumi ini telah banyak terdapat peradapan yang memang sudah berkembang, diantaranya peradapan Yunani, Romawi, India, Cina dsb. Dunia juga mengenal bermacam-macan agama seperti Yahudi, Nasrani Budha dan Hindu. Pada puncak peradapan Yunani wanita merupakan alat pemenuh sex lelaki semata, mereka di beri kebebasan sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhan selera tsb. Dan para wanita di puja untuk itu. Patung-patung telanjang yang kita saksikan sekarang ini, baik secara langsung maupun tidak langsung yang terdapat di belahan bumi Eropah dan benua lainya adalah bukti dan sisa dari peradapan itu. Peradapan Romawi menjadikan kaum wanita sepenuhnya di bawah kekuasaan ayahnya. Setelah kawin kekuasaan itu berpindah ke suami. Kekuasaan ini mencakup hak menjual, mengusir, menganiaya dan membunuh hal ini berlangsung hingga abad keVI Masehi. Dan yang lebih memprihatinkan lagi segala hasil usaha istri sepenuhnya menjadi hak milik keluarga laki-laki.

Peradapan India dan Cina tidak lebih baik dari yang di sebutkan di atas, hak hidup seorang wanita yang bersuami harus berakhir pada saat kematian suaminya. Istri harus di bakar hidup-hidup bersamaan pada saat mayat suaminya di bakar. Tradisi dan kebiasaan buruk inibaru berakhir pada abad XVII Masehi. Dalam pandangan Yahudi martabat wanita sama dengan pembantu, mereka menganggap Nabi Adam terusir dari sorga hanya gara-gara wanita, begitu juga di zaman sebelum Rasulullah Saw di angkat menjadi Rasul, dimana kehadiran anak wanita di anggap sebagai sumber mala petaka dan kesialan, sehingga kalau ada anak wanita yang terlahir harus di bunuh jika perlu di kubur hidup-hidup. Dengan anggapan bahwa wanita itu akan akan menjadi mangsa musuh yang akan di tahan, diperhambakan, dijadikan selir bahkan dihina.

Pandangan masyarakat kristen (masa lalu) tidak lebih menguntungkan sepanjang abad pertengahan, nasib wanita tetap saja sangat memperhatinkan. Bahkan sampai tahun 1805 perundang-undangan Inggris mengakui hak suami untuk menjual istrinya. Dan sampai tahun 1882 wanita Inggris belum lagi memiliki hakharta secara penuh dan hal menuntut kepengadilan. Bahkan, pemerintahan Inggris mengatakan para wanita tidak boleh dan tidak wajar memperoleh pendidikan maupun pengajaran.

Begitulah sejarah memberitakan bagaimana kedudukan wanita sebelum kehadiran Al Quran dalam kondisinya masing-masing yang di istilahkan dengan zaman Jahiliyah, Pandangan terhadap wanita itu mempengaruhi sedikit banyaknya pemahaman sebahagian masyarakat terhadap kontek Islam dan Al Quran. Bahkan sebahagian dari apa yang di tafsirkan ajaran agama justru bersumber dari budaya dan perspektif tsb. Hal ini di kuatkan lagi dengan banyaknya bentuk pengalahpahaman akan tujuan islam oleh sebahagian besar pihak.

Perspektif Islam

Dalam perspektif islam, segala sesuatu di ciptakan Allah Swt Menurut kodradnya masing-masing. Seperti yang terdapat dalam Qs Al Qamar ayat 49, “ Sesungguhnya kami menciptakan segala sesuatu menurut qadar dan ukuran”. Dengan demikian pria dan wanita sebagai sama-sama mahkluk tuhan, yang merupakan bahagian dari individu lainnya memiliki kodrat masing-masing dan tabiat, sifat atau karakteristik antara keduanya hampir dapat di katakan sama. Begitu juga soal nikmat yang di berikan Allah pada keduanya tampa sedikitpun ada perbedaanya.

Kepada mereka berdua di anugrahkan Allah potensi dan kemampuan yang cukup untuk memikul tanggungjawab yang menjadikan keduanya dapat melaksanaan aktivitas baik yang bersifat umum maupun khusus antara pria dan wanita itu. Adapun perbedaan antara keduanya tidak bisa di sangkal dan itulah kodrat masing-masing, perbedaan yang kasat mata paling tidak dari segi biologis/bentuk fisik. Didalam hal ini Al Quran menginggatkan lewat firman Allah Swt dalam Qs An Nisa-32, ” Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang di karuniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain (karena), orang laki-laki ada bagian dari pada apa yang mereka usahakan dan wanita juga mempunyai bagian atas apa yang di usahakan”.

Ayat di atas mengisyaratkan perbedaan, bahwa masing-masing memiliki keistimewaan. Walaupun ayat ini tidak menjelaskan secara terperinci dan gamlang keistimewaan dalam perbedaan tsb. Namun, dapat di pastikan perbedaan tersebut jelas mengacu pada perbedaan fungsi utama yang harus di emban dan di pertanggungjawabkan baik di hadapan manusia apalagi di hadapan Allah Aza Wajalla kelak. Hal ini di pertegas lagi dengan firman Allah Qs Ali Imran-195, ”Sesungguhnya Aku tidak akan menyia-nyiakan amalan orang yang beramal di antara kamu baik laki-laki maupun perempuan…” Hal ini mengindikasikan bahwa kaum hawa (para wanita) sejajar dengan kaum Adam (para lelaki) dalam potensi amalan, ibadah dan potensi intelektualitasnya.

Sedangkan dalam aktivitas sosial kemasyarakatan maupun dalam aktivitas lainya, kedudukan/peran pria dan wanita di atur Allah Swt dalam Qs At Taubah-71, ” Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan sebagian mereka adalah menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh mengerjakan yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasulnya, mereka itu akan di beri rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah maha perkasa lagi maha bijaksana”.

Pengertian “ Menyuruh “ mengerjakan yang makruf mencakup segala segi dan sisi perbaikan dalam kehidupan bermasyarakat, termasuk memberikan kritikan, saran maupun nasehat pada penguasa. Hal inipun harus di lakukan dengan mendahulukan berprilaku makrufyang di mulai dari diri sendiri, maupun dalam lingkungan masing-masing, atas dasar kesadaran dan ilmu pengetahuan yang mantap dan di topang oleh ketaatan dan keimanan kokoh.agar pandangan miring yang cendrung menyudutkan, dari penganut lain soal islam terutama kaum kapitalis barat yang memang anti islam akan bisa kita jawab dan ladeni bersama. Dan semoga para wanita negeri ini yang sedang di eksploitasi eksistensinya oleh sebagian pihak melalui pornografi maupun pornoaksi, PSK dsb cepat di berikan hidayah oleh Allah Swt. Dengan mengembalikan jati dirinya sebagai seorang wanita yang harus di hormati dan di hargai dalam hidup bermasyarakat berbangsa dan bernegaara. Hal ini akan bisa terujud apabila penegakan moral, akhlak dan hukum benar-benar di jalankan dengan seadil-adilnya dan bijaksana.

Kalau, islam memberikan kedudukan yang sama antara pria dan wanita didalam hak dan kewajiban, maka itu berarti agar wanitapun harus dapat menjaga pribadinya dengan kehalusan perasaanya. Kelemahan wanita dari beberapa segi di akui dan di benarkan oleh islam dan ini mempunyai hukum tersendiri yang meletakan wanita itu pada tempat yang sesuai dan di sesuaikan dengan keadaanya itu. Rasulullah Saw bersabda “ Berlaku lemah-lembutlah terhadap botol-botol itu “ arti botol-botol di sini apabila wanita itu disentuh, tersentuh, disenggol dan tersenggol atau lebih keras lagi, ia akan retak bahkan pecah yang akan sangat sulit sekali memperbaikinya pada bentuk semula.

Karena kedudukan wanita yang sedemikian sensitifnya, maka wanita itu mendapat sorotan yang sangat tajam dalam segala segi, urusan dan jabatan termasuk kesembronoan mereka dalam berpakaian. Hal pakaian inilah di zaman sekarang ini yang sudah mengalami deqradasi dan pergeseran makna, yang sering tergambar dalam penampilan mereka secara umum maupun dalam even-even khusus yang terkesan vulgar, erotis cabul dsb yang di istilahkan dengan Pornografi dan Pornoaksi. Hal inilah yang harus di selesaikan dengan cepat dan bersama-sama, bukan hanya untuk di perdebatkan di meja dewan kehormatan saja, sehingga akan terus memicu arus pro dan kontra atas kezaliman warisan Yahudi ini.

Dalam Qs Yunus 40-41 Allah Swt berfirman “ Dan diantara mereka ada yang beriman padanya (Al Quran), dan diantara mereka ada (pula) orang yang tidak beriman kepadanya. Dan tuhanmu lebih mengetahui terhadap orang-orang yang berbuat kerusakan, dan jika mereka mendustakan kamu, maka katakanlah “bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu, kamu berlepas dari apa yang aku kerjakan dan akupun berlepas dari apa yang kamu kerjakan” Dan akhirnya kepada yang maha kuasa jualah kita serahkan segala urusan yang menimpa manusia khususnya umat islam sekarang ini. Wallahua’llam 

Penulis Adalah Pengamat Sosial Keagamaan Tinggal di Padang [ Terbit Pada Harian Haluan, Pada Tanggal 07 April 2006 ]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.