Hakikat Al – Quran Sebagai Kitab Hikmah

Hakikat Al – Quran Sebagai Kitab Hikmah. Hikmah dalam pengertianya merupakan sebuah esensi kebenaran yang tampak dengan jelas dan nyata, sehingga untuk mendapat kebaikan dan kesanggupan untuk menyelami lautan hikmah yang maha luas itu manusia memerlukan wawasan atau ilmu yang cukup sesuai dengan bidang keahliannya masing masing.

Untuk itu Islam telah dengan tegas memberikan pemahaman kepada kita bahwa, orang orang yang berilmu itu mempunyai kedudukan dan nilai yang lebih baik disisi-Nya dibandingkan dengan orang orang taat yang bodoh, sekalipun orang yang berilmu tersebut dalam kenyataannya mempunyai tingkat ketaatan yang tidak lebih baik dari ketaatan orang orang yang tidak berilmu tersebut.

Tanpa bermaksud menyatakan bahwa ketaatan kepada Allah SWT itu merupakan sesuatu yang tidak penting dan tidak utama, namun perlu difahami bahwa dengan mengetahui dan memahami hakikat makna setiap ibadah sebagai ujud dari ketaatan seorang hamba kepada Tuhannya adalah suatu yang lebih penting dari pada sekedar menjalankan ritual ibadah yang tidak dipahami hikmah yang terkandung dibalik ritual ibadah tersebut

Ketaatan tanpa disertai dengan memahami esensi kebenaran yang nyata atau hikmah dari sebuah ritual ibadah yang dilaksanakan hanya akan melahirkan suatu radikalisme yang tak terarah, sehingga merasa paling benar sendiri dan serta membangun suatu stigma negatif terhadap suatu keyakinan yang difahami oleh orang lain merupakan hasil dari ketaatan yang mengabaikan esensi kebenaran yang nyata atau hikmah dari sebuah ritual peribadatan yang dilaksanakan

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang . ( QS : 003 : Ali Imran : Ayat : 031 )

Dari ayat tersebut dengan jelas tegas dan terang menyatakan bahwa Allah SWT telah memerintahkan kepada umat manusia untuk mengikuti Rasulullah Muhammad SAW sebagai suatu bukti kecintaan seorang hamba terhadap Tuhannya, sehingga segala aspek kehidupan umat, lahir dan batin, harus dan mutlak untuk menjadikan Rasulullah Muhammad SAW sebagai referensi utama.

Pengertian mengikuti dalam pemahaman ayat tersebut pada hakikatnya tidaklah sama dengan meniru karena, manusia sebagai makluk sosial yang diberkahi dengan kelebihan akal dan ilmu pengetahun mempunyai derajat dan kemuliaan yang lebih baik dari hewan. Secara sosiologis budaya, kepribadian manusia terus berkembang seiring dengan kuasa Allah SWT mengungkap hikmah kebenaran dalam setiap ilmu yang dianugrahkan-Nya. Sehingga membangun persepsi persamaan makna antara mengikuti dan meniru pada manusia merupakan suatu pemahaman yang merendahkan.

Dengan meniru, manusia telah membatasi dirinya sendiri dalam memanfaatkan kelebihan yang telah dianugrahkan Allah SWT karena meniru itu sama artinya dengan membentuk atau membangun duplikasi diri sama persis dengan suatu kejadian pada stuasi dan kondisi sosiologis budaya yang berbeda. Akibatnya ilmu pengetahuan dan wawasan yang menjadi hidayah kelebihan mansuia dari hewan jadi hilang dan tidak berati sama sekali. Terjadinya percampuran antara tradisi dan budaya Arab sebagai tempat dan lokasi turunnya ayat ayat Al-Quran dengan esensi kebenaran yang dikandung ayat ayat suci tersebut merupakan suatu implikasi nyata dari meniru tanpa dasar

Dan adalah suatu pemahaman aneh yang konyol dan jauh dari kebenaran ketika difahami bahwa ketataan dan kekuatan iman seseorang diukur melalui besarnya sorban, dalamnya jubah, panjangnya jenggot serta hitamnya jidad. Sedangkan Iman itu sendiri adalah suatu rahasia hati yang berarti rahasia antara makhluk dengan Tuhannya yang hanya nampak dan tercermin melalui keluhuran akhlak, bukan dari variabel variabel budaya yang akan terus berkembang sesuai dengan anugrah kemajuan yang dihidayahkan kepada manusia

Selanjutnya, pemahaman picik dan sempit tersebut dijadikan sebagai materi dan bahan untuk mengembangkan perselisihan dan pertentangan ditengah tengah umat. Yang tidak ikut atau mengikuti pemahaman mereka ditempeli dengan label bidah. Kata- kata bidah ditebar dan bertebaran dimana mana. Pokonya hanya mereka sajalah yang paling benar yang bebas dari bidah sehingga tanpa sadar merekalah yang sebetulnya yang telah menebar bidah dimana mana dengan mencampuradukkan antara budaya dan tradisi arab dengan kesucian ajaran Islam yang mulia tanpa memperhatikan esensi hikmah dari kebenaran itu.

Akibatnya, perbedaan yang seharusnya menjadi rahmat karena akan memperkaya wawasan dan pemikiran, sehingga hikmah kebenaran yang masih samar bisa diungkap secara nyata dan terang benderang, menjadi laknat akibat perbedaan dijadikan sebagai pertentangan yang mempertajam klaim atas kebenaran sendiri

Jadi makna dari mengikuti dalam pemahaman Al-Quran sebagai Kitab Suci yang penuh dengan hikmah adalah menjadikan Al-Quran dan Sunnah sebagai referensi utama dalam setiap aspek kehidupan, yang juga berarti seluruh sikap dan perbuatan, baik yang terkait langsung dengan ritual peribadatan yang diwajibkan atau ritual ibadah sunat harus dan mutlak mengacu kepada esensi nyata dari kebenaran itu atau hikmah kebenaran dari ajaran yang dimuat dalam tuntunan wahyu suci dan tidak HANYA terbatas pada pemahaman tekstual dari apa yang tersurat saja. ( memahami logika Al-Quran )

Leave a Reply