Bertasawuf Dalam Syariat

Bertasawuf  Dalam Syariat. Dari segi bahasa, syariat adalah tempat yang didatangi atau dituju oleh manusia dan binatang untuk meminum air, sedangkan menurut istilah syara, syariat merupakan nas-nas yang suci yang dikandung di dalam Al Qur’an dan As Sunnah.

Syekh Amin Al Kurdi memberikan batasan syariat, dengan hukum-hukum yang diturunkan Allah swt kepada Rasulullah SAW yang dipahami dan diijtihadkan oleh para ulama dari Al Kitab, As Sunnah, baik berbentuk nash atau istimbath. Hukum- hukum itu meliputi Ilmu Tauhid, Ilmu Fikih dan Ilmu Tasawuf

Dalam Artian istilah yang lebih sempit, syariat ialah hukum-hukum dan tata aturan yang disyariatkan Allah swt kepada hamba-Nya untuk diikuti, dan hubungan dengan Allah swt dan sesama manusia. Pengertian ini dikenal secara luas dengan istilah atau pengertian hukum fikih yang sebetulnya fikih itu sendiri bukanlah merupakan nash-nash Al Qur’an dan As Sunnah, tapi sudah merupakan hasil rekayasa nalar manusia.

Prof.Dr.Salam Mazkur memberikan definisi bahwa  fikih adalah segala hukum-hukum keagamaan, baik yang berhubungan dengan hukum ‘aqaid ataupun dengan hukum amaliah , maka hal ini menyebabkan dibatasi kalimat fikih untuk sekelompok hukum yang bersifat amaliah, syariat yang lalu dipetik atau diistimbathkan dari dalil yang jelas sebagaimana dipergunakan kalimat fikih untuk nama-nama hukum tersendiri.

Imam As Syafi’i mendefinisikan fikih adalah suatu ilmu tentang hukum-hukum syariat yang bersifat amaliah yang diperoleh dari satu per satu dalilnya. Dengan demikian, fikih adalah apa yang dapat dipahami manusia dari teks-teks suci Al Qur’an dan As Sunnah dengan melakukan ijtihad untuk menangkap makna-makna, ‘illat-’illat ( sebab-sebab ) serta tujuan yang hendak dicapai oleh teks suci tersebut.

Karena pembahasanya fikih mencakup pembahasan mengenai materi hukum dengan objek manusia, maka fikih tersebut akan mencakup semua disiplin ilmu, seperti Ilmu Fikih, Ilmu Tauhid, Ilmu Akhlak dan lain sebagainya.

Pelaksanakan aturan dan ketentuan hukum tanpa memahami dan menghayati tujuannya, maka pelaksanaannya tidak akan menemui sasarannya yang ingin dicapai dari tujuan hukum itu sendiri dan tidak akan memiliki nilai yang sempurna yaitu kebenaran yang datang dari Allah SWT, yang dalam istilah tasawuf dinamakan hakikat yang merupakan inti dari hukum itu sendiri.

Hukum itu ditetapkan atau beredar menurut ilatnya. Kalau ilatnya masih ada maka hukumnya ada, kalau ilatnya sudah hilang maka hukumnya akan hilang, sehingga hubungan antara syariat dengan hakikat dapat dinyatakan bahwa syariat itu adalah lahirnya dan hakikat itu adalah batin dari tujuan penetapan suatu hukum.

Untuk mencapai tujuan dari sebuah penetapan hukum diperlukan jalan atau cara serta metode mencapainya agar dalam pelaksanaannya tidak menyimpang dari tujuan penetapan hukum yang telah ditetapkan. Sebab tanpa mengetahui jalannya atau caranya dalam mencapai suatu tujuan hukum tentunya akan sulit untuk sampai ke tujuan. Jalan atau cara atau metode tersebut dinamakan tariqat.

Sedangkan tasawuf merupakan sikap hati rohani yang takwa yang selalu ingin dekat kepada Allah SWT. Apabila dihubungkan dengan pengertian syariat dalam artian luas yang meliputi seluruh aspek hidup dan kehidupan manusia akan mempunyai hubungan yang sangat erat dan saling mengisi antara satu dengan yang lain.

Sehingga untuk mencapai kemaslahatan diri dan umat di dunia dan akhirat dalam arti yang sesungguhnya tujuan hidup harus sejalan, simultan dengan tujuan tasawuf, yaitu melaksanakan hakikat ubudiyah guna memperoleh tauhid yang haqqul yakin, makrifatullah yang tahqik.

Tujuan tasawuf dalam artian ini, tidak mungkin hanya dilaksanakan dengan zikir atau zikrullah dalam artian khusus saja, tapi harus dilaksanakan sejalan dengan pelaksanaan syariat. Oleh sebab itu seluruh aktifitas syariat harus digerakkan, didasarkan, dimotivasikan dan dijiwai oleh hati nurani yang ikhlas lillahi ta’ala yang kesemuanya bermuara kepada ridla Allah dan kemaslahah diri dan kemaslahatan umat yang menjadi tujuan dari syariat.

Setelah kemaslahatan diri dan maslahah umat telah diperoleh, harus digerakkan dan diarahkan pula kepada memperkokoh dan mentahqikkan tauhid makrifatullah yang merupakan satu-satunya tujuan Allah swt menjadikan makhluk yang bernama mansuia. Imam Malik mengatakan bahwa  barangsiapa berfikih / bersyariat saja tanpa bertasawuf niscaya dia berkelakuan fasik ( tidak bermoral ) dan barang siapa yang bertasawuf tanpa berfikih / bersyariat, niscaya dia berkelakuan zindiq ( menyelewengkan agama ) dan barang siapa yang melakukan kedua-duanya, maka sesungguhnya dia adalah golongan Islam yang hakiki, tulen  . Dan Imam Ali Ad-Daqqaq mengatakan bahwa  sesungguhnya syariat itu adalah hakikat. Bahwa sesungguhnya syariat itu wajib hukumnya, karena ia adalah perintah Allah SWT. Demikian juga hakikat adalah syariat untuk mengenal Allah ( makrifat kepada Allah ). Hakikat itu wajib hukumnya, karena ia adalah perintah Allah.

Tujuan atau sasaran ajaran dan amal tasawuf, yaitu melaksanakan hakikat ubudiyah guna memperoleh tauhid yang haqqul yakin, makrifatullah yang tahqik. Yang menjadi kunci makbulnya adalah adab beribadat itu sendiri. Ibadat yang berbentuk syariah itu harus digerakkan oleh hati yang khusuk, tawaduk dan lillahi ta’ala. Situasi dan kondisi hati yang demikian inilah yang dinamakan adab beribadat.

Sehingga Tokoh sufi Al Jalajili mengatakan bahwa  tauhid itu diwajibkan oleh Iman. Barang siapa yang tidak beriman, maka ia tidak bertauhid. Iman itu wajib, karena diwajibkan oleh syariat. Barang siapa yang tidak bersyariat, maka ia tidak beriman dan tidak bertauhid. Syariat itu wajib, karena diwajibkan oleh adab. Barang siapa yang tidak beradab, maka ia tidak bersyariat, tidak beriman dan tidak bertauhid. 

Para mukhlasin yang sudah dapat mewujudkan pengabdian semata-mata karena Allah swt, Allah swt akan menganugerahkan ilmu makrifat kepadanya, yaitu ilmu mengenal rahasiarahasia ghaib yang dinamakan dengan Ilmu Ladunni seperti yang telah diberikan kepada Nabi Khidir a.s dan hamba-hamba-Nya yang dikehendakinya yaitu hamba yang hanya mengabdikan dirinya kepada Allah swt ” Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Amin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.