Agama, Pembebanan Yang Membebani

Agama, Pembebanan Yang Membebani – Agama yang dimaksud dalam kajian ini adalah apa yang difahami dalam bahasa Arab dengan Ad Dien yang bisa ditafsirkan dalam bermacam-macam makna seperti pembalasan, yang menjadi sebab dari sebuah pembalasan, perkiraan dan perhitungan, menundukkan, pengurusan dan kesetaraan atau memperlakukan sebanding dengan cara kita memperlakukan.

Menurut sejarahnya, makna dari kata agama atau ad dien ini adalah suatu kata yang berumur sudah sangat tua perkembangannya dalam masyarakat dan mengacu kepada makna ketuhanan yang dapat difahami dengan mudah sesuai dengan perkembangan akal budi dan budaya masyarakat pada saat itu, seperti memaknai agama atau ad dien dengan upacara atau perayaan ketuhanan yang dilakukan dengan penyertaan penyembelihan-penyembelihan korban yang dipersembahkan kepada sembahan dan pujiannya.

Seiring dengan perkembangan kemajuan kecerdasan dan budaya manusia kata agama atau ad dien ini terus berkembang seperti dalam bahasa latin disebut dengan Religion dan agama itu sendiri berasal dari bahasa Sangsekerta di India kemudian masuk ke Indonesia dan kata Agama itu selanjutnya menjadi bahasa Indonesia secara umum dengan makna yang tetap sebagai agama atau syariat yang bisa ditafsirkan dalam kajian ini sebagai aturan atau undang-undang yang mengikat seorang hamba untuk mengikuti dan mengerjakannya, sehingga dapat dikatakan bahwa Agama bukanlah barang baru dalam sejarah perkembangan kebudayaan umat manusia tapi justri telah berkembang seiring dengan perkembangan manusia itu sendiri

“ Dia Telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang Telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang Telah kami wahyukan kepadamu dan apa yang Telah kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama ( * ) dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).” ( QS : 042. Asy Syuura: ayat 13 )

( * ) yang dimaksud: agama di sini ialah meng-Esakan Allah s.w.t., beriman kepada-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhirat serta mentaati segala perintah dan larangan-Nya.

“ Itu adalah umat yang lalu; baginya apa yang Telah diusahakannya dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang Telah mereka kerjakan.” ( QS : 02 : Al-Baqarah : Ayat 134 )

Para sarjana barat barat setelah dalam waktu yang sangat lama secara khusus mencoba mencari dan memahami tentang pengertian dan makna agama ini dan baru pada akhir abad ke sembilan belas mereka menemukan makna dari agama itu sendiri yang definisikan dalam empat definisi yaitu :

  1. Agama itu ialah mempercayai bahwa Tuhan Semesta Alam ( Rabb Al ‘Alamin ), tidak menghendaki dan tidak memerlukan amalan-amalan hamba-Nya. Segala amalan yang dilaksanakan para hamba adalah untuk kepentingan para hamba sendiri
  2. Allah SWT adalah Tuhan Yang Sangat Penyayang karenanya Allah menyukai kebaikan untuk hamba-Nya dan tidak memberatkan hamba-Nya dengan berbagai macam atauran yang memberatkan melaikan untuk menghasilkan manfaat kebaikan kepada hamba-Nya itu sendiri.
  3. Bahwasanya ibadat-ibadat itu wajib sesuai dengan aturan hidup manusia serta sesuai dengan tabiat atau perilaku manusia dan tidak menyalahi kodrat kemanusiaan serta merusak nilai-nilai kemanusiaan tetapi memperbaiki dan memanusiakan manusia itu sendiri sesuai dengan derajatnya yang mulia.
  4. Ibadat-badat tubuh itu dipandang sebagai jalan untuk mensucikan jiwa manusia dan membersihkannya. Sesungguhnya bukan ritual peribadatan itu yang dikehendaki Tuhan melaikan kewajiban ibadah itu mempunyai makna yang sesuai dengan maksud peribadatan itu, sehingga apabila seseorang telah mengerjakan kewajiban ibadahnya tapi tidak mampu mengaplikasikan hakikat dari ibadah itu dalam kehidupan dunianya, maka itu sama saja artinya dia belum mengerjakan.

Sedangkan menurut Jumhur para ulama agama itu dinamai dustur ketuhanan dengan hukum dan syariat kerana merupakan undang-undang yang tersusun rapi dan indah dengan sangat sempurna serta mudah difahami manusia sesuai kodratnya. Sehingga makna agama dapat kita definisikan dengan “ Dutur Ilahi yang didatangkan Allah SWT buat menjadi pedoman hidup dan kehidupan manusia di alam dunia untuk mencapai kemuliaan dan kesejahteraan akhirat “

“ Pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. “ ( QS : 05 : Al Maidah : ayat 3 )

“ Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. “ ( QS : 05 : Al Maidah : ayat 6 )

“ Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih orang-orang yang Telah diberi Al Kitab ( * ) kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, Karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. “ ( QS : 03 : Ali Imran : Ayat : 19 )

( * ) Maksudnya ialah kitab-kitab yang diturunkan sebelum Al Quran.

“ Barangsiapa mencari agama selain agama islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. “ ( QS : 03 : Ali Imran : Ayat : 85 )

Dengan pengertian tersebut, dapat difahami bahwa agama merupakan satu-satunya jalan untuk memuliakan dan meninggikan kemuliaan manusia dengan cara memuliakan Allah SWT, Tuhan Semesta Alam ( Rabb Al ‘Alamin ) melalui ketaatan dan ketundukan terhadap perintah-perintah-Nya tanpa sebab yang menyebabkannya selain dari sebab Tuhan itu sendiri.

Muara dari seluruh rangkaian ritual peribadatan yang dialaksanakan manusia adalah Allah sebagai tujuan tunggal, maka pemahaman bahwa awal agama itu adalah mengenal Allah ( awalluddini makrifatullah ) yang dilanjutkan dengan kualitas makrifat yaitu berupa penyaksian dengan akal budi dan hati tanpa penyerupaan dalam lingkup ruang dan waktu. Dan apabila sebagai hamba yang disempurnakan dengan segala kekurangan dan keterbatasan, tidak mampu mencapai maqam makrifat tersebut, maka dengan meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa Allah melihat kita, sudah merupakan pencapaian yang lebih dari cukup. ( Kembali ke Dasar )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.