Wujud Ajaran Tauhid

Wujud Ajaran Tauhid. “Sebaik – baiknya manusia adalah yang selalu memberi manfaat kepada manusia lain “ .( HR. Muttafagun Alaih ). Sebagai manusia Islam yang baik, mengerti dan senantiasa mempergunakan akalnya, apa – apa yang dilarang agama bagaimanapun situasi dan kondisinya harus ditinggalkan mengantinya dengan berbagai bentuk suruhan yang datangnya dari Allah Swt, menurut kemampuan yang kita miliki dan terus berusaha untuk meningkatkan kemampuan tersebut. Salah satu dari sekian banyak perintah Allah tersebut yang harus mendapatkan perhatian serius dari setiap pribadi muslim adalah menumbuhkan sikap rela berkorban dalam wujud tolong – menolong, terhadap mereka yang membutuhkan pertolongan. Pertolongan dalam wujud pengorbanan minimal yang bisa kita berikan adalah dalam bentuk doa yang tulus, memberikan ilmu yang bermanfaat, nasehat yang berguna dsb. Allah sangat menyukai orang – orang yang rela berkorban dan mau menolong sesama. “ Allah itu senantiasa menolong hambanya selagi hambanya itu menolong saudaranya.” ( HR. As Shaikhan ).

Menumbuhkan sikap rela berkorban, baik dari segi materil maupun moril merupakan wujud ajaran agama tauhid ( Islam ). Bahkan ajaran berkorban paling awal sekali kita terima dari Al Quran adalah kisah dua orang putra Nabi Adam As ( Habil & Qabil ), yang harus dikabarkan secara berantai dari generasi ke generasi dan dari zaman ke zaman, agar generasi sesudah kita bisa memetik hikmah yang terkandung didalamnya. Untuk dijadikan referensi moral dalam mengamalkan ajaran tauhid secara kaffah, benar dan sungguh – sungguh agar keimanan kita terhiasi dengan baik Jelas, sangsi moral dalam bentuk dosa – dosa sosial yang terselubung diselimuti kabut kebohongan & kepalsuan, kalau setiap pribadi muslim / muslimah, tidak mengajarkan atau tidak menceritakan kisah ketauladanan para Rasul yang telah mehias dunia ini dengan segala kebaikan , apa penyebab maju dan mundurnya umat – umat terdahulu, serta ancaman apa yang akan dijatuhkan Allah kalau kita mengingkari setiap petunjuk yang turun melalui ayat suci Al Quran dan Al Hadis Saw sebagai petunjuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.

Seperti yang sudah kita ketahui negeri kita saat ini sedang dilanda berbagai macam krisis sementara ujian demi ujian dalam bentuk bencana & musibah terus menghantui kita. Apa yang harus kita perbuat dalam situasi dan kondisi seperti saat sekarang ini ?. Tiada lain kita harus lebih mendekatkan diri beribadah, berdoa dan berusaha sambil mengharapkan perlindungan hanya pada Allah Swt. Al Quran secara terperinci menerangakan bahwa ajaran berkorban / menumbuhkan sikap rela berkorban dalam membantu sesama merupakan salah satu dari bentuk ujian. Apakah manusia itu memang sungguh – sungguh beriman atau sekedar berpura – pura saja ( munafik ). Ajaran berkorban perdana sekali kita ketahui adalah dari Al Quran yaitu Qs Al Maidah – 27 “ Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam ( Habil & Qabil ) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua ( Habil ) dan tidak diterima dari yang lain ( Qabil ). Ia berakata ( Qabil ) : “Aku pasti membunuh “ . Berkata Habil : Sesungguhnya Allah hanya menerima ( Qurban ) dari orang – orang yang bertaqwa “.

Ungkapan, ceritakanlah pada mereka maksudnya disini adalah anak keturunan Nabi Adam As sampai pada umat Nabi Muhammad Saw yaitu umat Islam, memberi wejangan ceritanyapun harus dengan jujur tampa ada unsur rekayasanya. Agar diri kita dan generasi berikutnya, benar – benar memahami hakekat dari rela berkorban yang di ilustrasikan Habil, dan sikap tidak rela berkorban yang di ilustrasikan oleh si Qabil, yang keduanya menerima ganjaran yang berbeda dari apa yang mereka kerjakan / usahakan. Menurut yang diceritakan Al Quran dua orang putra Nabi Adam As ini memiliki sikap dan tempramen yang jauh berbeda. Habil sebagai orang yang besungguh – sungguh beriman Tawadu’, rendah hati, penyabar, ringan tangan, gemar memberi dan sifat – sifat terpuji lainya. Sebaliknya Qabil suka memelihara prilaku jahat, kasar sebagai ciri orang yang tidak beriman, congkak, sombong, angkuh, pemarah, iri, dengki, maunya benar sendiri dan sangat kejam dan serakah sekali. Contoh – contoh orang seperti Habil & Qabil inilah yang akan terus menghiasi atau merusak dunia ini.

Manusia – manusia baik, yang suka beramar makruf dan manusia – manusia yang selalu menebarkan maksiat, larut dalam dosa dan sangat hubut dunia ( cinta dunia ) serta perbuatan jahat lainya. Dari kisah yang diceritakan Al Quran diatas dapat kita ketahui bahwa dua orang putra Nabi Adam As diatas telah mengilustrasikan bagaimana janji Allah terhadap orang yang ikhlas dan penuh keridhaan dalam memberi melalui pengorbanan dalam wujud materi maupun non materi. Dan ancaman Allah terhadap orang yang terlalu memperhamba / memperbudak dirinya pada harta dunia dan berlaku kikir, kasar, serakah, seperti yang diperagakan Qabil.

Ajaran berkorban kedua yang disuguhkan Al Quran yang harus kita tauladani dan ajarkan dalam mewujudkan ajaran tauhid yaitu sikap rela berkorban, adalah kisah Nabi Ibrahim As. Dijelaskan pada kita, diwaktu Nabi Ibrahim As kedatangan mimpi didalam tidurnya, yang tidak lain adalah wahyu dari Allah. Qs As Shaffaat ayat 102 menceritakan peristiwa ini “ Maka tatkala dia ( Ismail ) sampai usia dewasa berkata Ibrahim, ” Hai Putraku bahwasanya Aku melihat dalam mimpi ( dalam tidurku ) aku menyembelihmu, maka perlihatkanlah bagaimana pendapatmu, ”berkata ia ( Ismail ) : “ Hai ayahku laksanakanlah apa yang diperintahkan ( oleh Allah ) kepadamu, maka Insya Allah engkau akan mendapatkan aku termasuk golongan orang – orang yang sabar “.

Memahami ayat Al Quran diatas dapat kita petik suatu kesimpulan bahwa ujian yang paling berat yang diterima Nabi Ibrahin As kala itu adalah, Allah memerintahkan beliau untuk menyembelih anaknya sendiri yang sedang tumbuh remaja, tampan serta cerdas.

Secara akal sehat, orang tua mana yang tidak akan sedih menerima ujian ini, melihat anaknya yang sedang tumbuh kemudian harus dikorbankan atau dihabisi, inilah bentuk ujian yang terberat. Tetapi bagi orang yang beriman dan bertaqwa, senantiasa bertawakal pada Allah, tidak ada yang harus diutamakan selain perintah dari Allah Swt, taat pada atasan itulah yang diperagakan untuk kita oleh Nabi Ibrahim As dan putranya Ismail. Pada hakekatnya pelaksanaan perintah Allah secara kaffah, benar serta sungguh – sungguh dan penyerahan total hanya kepada Allah Swt itulah wujud dari ajaran tauhid.

Dari sekian banyak ajaran agama Islam yang harus dilaksanakan secara benar, ikhlas dan berkesinambungan salah satunya adalah menumbuhkan dan meimplementasikan sikap rela berkorban. Hal ini bertujuan untuk lebih meningkatkan nilai taqwa dan rasa persaudaraan khususnya sesama muslim ( Ukhuwah Islamiyah ). Seperti yang disabdakan Rasulullah Saw “ Perumpamaan seorang mukmin itu ( dalam kasih sayang mereka, lemah lembutnya dan rasa cinta mereka ) bagaikan satu tubuh yang apabila sakit salah satu diantara anggota tubuhnya, maka seluruh tubuhnya akan merasakan sakitnya. “ ( HR.Bukhari ). Dengan demikian, kita sebagai generasi penerus muslim hendaknya selalu mengasah kepekaan sosial kemasyarakatannya, terutama sekali bagi para pemimpin negeri ini, rela dan mau memberi terhadap orang yang membutuhkan pertolongan ( jaan nan kanyang juo nan batambuah ). Dengan terus meneladani sikap rela berkorban yang di perankan oleh para pendahulu kita maupun para Nabi. Demi terwujudnya ajaran tauhid yang benar di sisi Allah Swt dan Rasul – Nya. Allah Hu A’llam. Berbagai sumber

Terbit Pada Harian Haluan, Pada Tanggal 25 Agustus 2006 – Penulis Adalah Pengamat Sosial Keagamaan – Tinggal di Padang ]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.