Tidak Ada Perlunya Menyerahkan Kepemimpinan Kepada Orang Kafir

Tidak ada perlunya menyerahkan kepemimpinan kepada orang kafir – Tidak diragukan lagi bahwa ketika orang kafir menjadi pemimpin, ia akan lebih mengutamakan dirinya dan menekan kaum muslim serta berambisi untuk meremehkan dan menghinakan mereka, merendahkan jabatan mereka dan mengangkat kedudukan orang – orang kafir lainnya, mendekatkan kedudukan orang kafir itu pada dirinya dan memberikan posisi penting kepada mereka.

Ketika ada orang kafir yang memeluk Islam, maka ia akan ditekan, diturunkan jabatannya dan dijauhkan, atau berambisi untuk menghalanginya memeluk Islam. Inilah alasan tidak perlunya menyerahkan kepemimpinan kepada orang kafir, jika memang di antara kaum muslimin ada yang lebih baik daripadanya.

Selain itu, diantara prinsip – prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah wajib hukumnya untuk taat kepada pemimpin kaum Muslimin selama mereka tidak memerintahkan untuk berbuat kemaksiyatan, meskipun mereka berbuat zhalim. Karena mentaati mereka termasuk dalam ketaatan kepada Allah, dan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah wajib hukumnya.

“ Hai orang – orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar – benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. ( QS : 04 : An – Nisaa : Ayat : 59 )

“Wajib atas seorang Muslim untuk mendengar dan taat (kepada penguasa) pada apa – apa yang ia cintai atau ia benci kecuali jika ia disuruh untuk berbuat kemaksiatan. Jika ia disuruh untuk berbuat kemaksiatan, maka tidak boleh mendengar dan tidak boleh taat.” ( HR : Bukhari )

“ Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi suatu kaum maka dijadikan pemimpin – pemimpin mereka orang – orang yang bijaksana dan dijadikan ulama – ulama mereka menangani hukum dan peradilan. Juga Allah jadikan harta – benda di tangan orang – orang yang dermawan. Namun, jika Allah menghendaki keburukan bagi suatu kaum maka Dia menjadikan pemimpin – pemimpin mereka orang – orang yang berakhlak rendah. DijadikanNya orang – orang dungu yang menangani hukum dan peradilan, dan harta berada di tangan orang – orang kikir” . ( HR : Dailami )

Bedasarakan pemahan tersebut, disamping wajib hukumnya memilih pemimpin seorang muslim juga tetap harus mempertimbangkan beberapa hal berikut :

1. Mampu Menegakkan Keadilan

Keadilan Islam telah sejak lama ditulis tinta emas sejarah peradaban manusia, baik ketika perang maupun dalam kondisi damai. Abu Bakar Ash – Shiddiq sebelum mengirim pasukan untuk berperang melawan pasukan Romawi, pesan yang disampaikan kepada pasukannya adalah, ”Jangan berkhianat. Jangan berlebih – lebihan. Jangan ingkar janji. Jangan mencincang mayat. Jangan membunuh anak kecil, orang tua renta, wanita. Jangan membakar pohon, menebang atau menyembelih kambing kecuali untuk dimakan. Jangan mengusik orang – orang Kristen yang sedang beribadah. Berangkatlah dengan bismillah.”

Ketika seseorang terpilih menjadi pemimpin mulai dari level terendah hingga tertinggi, dalam Islam, ia tak lagi menjadi pemimpin bagi sebagian kalangan yang mencalonkan atau memilihnya. Tapi ia menjadi pemimpin bagi seluruh konstituen. Oleh karena itu, atribut – atribut partisan seperti ketua partai, ketua ormas, atau apapun bentuknya, harus ditanggalkan

2. Mengembangkan nilai – nilai Islam ke dalam tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara

Sebagai seorang pemimpin, kewajibannya adalah seperti yang difirmankan Allah: “ Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang – orang yang beruntung.” ( QS : Ali Imran : Ayat : 104 )

Seyogyanya, nilai – nilai Islam tersebut tidak hanya sekadar slogan atau seremonial semata, tapi benar – benar dibuktikan dalam kehidupan sehari – hari sang pemimpin, keluarga, staf – stafnya, dan juga dalam kebijakan yang menyentuh hajat hidup orang banyak. Tentu penyebaran nilai – nilai Islam ini harus dilakukan secara bertahap dan tepat sasaran. Artinya, tidak terburu – buru dan juga tidak hanya menonjolkan kulit saja.

3. Mengedepankan kepentingan dan pertimbangan moralitas

Kebijakan pihak berwenang saat ini sangat amburadul. Apapun akan digusur bila kepentingan ekonomi – bisnis yang berbicara. Judi menjadi legal, hanya dengan dalih menambah devisa untuk pembangunan. Prostitusi dilindungi demi memenuhi tuntutan para pelaku maksiat. Minuman keras terus dibiarkan berproduksi untuk menambah pajak.

Belum lagi berbicara korupsi, kolusi, pencurian uang rakyat semakin menjadi – jadi dengan berbagai dalih. Moralitas inilah yang harus dikedepankan pihak – pihak yang berwenang, jika ia ingin sukses memimpin negeri.

4. Tidak menunjuk pejabat dari kalangan orang – orang yang tak taat agama dan bergelimang dosa

Maraknya kasus korupsi di lembaga – lembaga tinggi Negara dan lembaga – lembaga terhormat lainnya, mencerminkan lemahnya aspek uji kepatutan dan kelayakan yang hanya menyangkut aspek otak saja. Belum lagi ratusan kasus para pejabat yang tertangkap basah tengah pesta narkoba. Ditambah lagi para pejabat yang gemar ”jajan” dan berselingkuh, yang ditenggarai sudah menjadi salah satu gaya hidup para petinggi negeri ini.

5. Mempertahankan negeri dengan gelora jihad

Semangat jihad sudah hilang dan goyah oleh pragmatisme sesaat. Penyakit ini bukan hanya mengiris mental masyarakat umum, tapi juga menyayat elemen pertahanan, mereka yang berseragam justru sibuk berbisnis mengeksploitasi sumber daya alam dan melupakan tugas pokoknya.

6. Membelanjakan uang negara secara proporsional dan tidak merampas hak rakyat

Perilaku boros, manja, foya – foya, dan kehidupan jet set yang dipertontonkan para pejabat, birokrat, dan para pemimpin negeri ini sudah menjadi pemandangan umum. Mereka gelontorkan uang pajak untuk keperluan konsumtif yang sejatinya tidak perlu dilakukan.

Hal ini nampak jelas dari mobil mewah yang digunakan, rumah megah yang ditinggali, hingga berbagai fasilitas yang rakyat kebanyakan mustahil mencicipinya. Ironisnya, semua kebobrokan ini dilakukan saat rakyat kecil diperas dan diperintahkan untuk mengeratkan ikat pinggang.

7. Lebih berpihak kepada orang – orang lemah dan rakyat jelata

Keberpihakan ini sangat dirindukan oleh mayoritas anak bangsa. Berkali – kali sudah Indonesia berganti penguasa, tapi kehidupan rakyat tak kunjung beranjak baik. Malah, rakyat semakin diperbudak, dinistakan, harga diri mereka diinjak – injak, harta mereka digusur, hak – hak mereka dirampas, hingga tak ada kenikmatan yang dapat dirasakan. Semua akibat kebijakan penguasa yang tidak berpihak kepada rakyat kecil.

Jadi, saat ini dan selamanya Insya Allah, umat Islam tidak akan pernah memerlukan seorang pemimpin dari kaum kafir apalagi pemimpin dari kaum kafir yang berakhlak buruk. Umat Islam hanya membutuhkan seorang pemimpin dari golongan kaum muslimin agar menjadi rahmat bagi alam semesta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Page-level ads only appear on the page when AdSense thinks they'll perform well. Add the following Page-level code to more of your pages to increase the overall performance of ads on mobile. Copy the code below and paste it inside the tag of any page you want to show ads on. Place the same code just once per page, and AdSense takes care of the rest.
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.