T T S ( Taat, Tawaduk, Sabar )

TTS ( Taat, Tawaduk, Sabar ). Mendekatkan diri pada Allah Swt merupakan suatu keharusan yang mutlak bagi seorang muslim / muslimah kapanpun, dengan cara apapun dan dimanapun. Beberapa hal yang urgent dilakukan untuk memuluskan jalannya, yang harus dilakukan antara lain, dengan selalu membersihkan jiwa dari penyakit hati seperti hasad, iri, dengki, egois dsb. Kesucian hanya miliki Allah, orang-orang yang suci hati dan pikiranya akan selalu berusaha mendekatkan diri pada-Nya. Namun, masih banyak dari umat Islam yang belum juga merasa terpanggil hatinya untuk mengenal Allah lebih dekat, melalui apa-apa yang menjadi suruhan-Nya. Kecendrungan melakukan dosa dan maksiat sangat menjadi penghalang antara manusia dengan Khalik. Jelasnya, kedekatan Allah pada seorang hamba tergantung sekali akan kedekatan hamba tersebut pada Allah, dan sebaliknya Allah sebagai pemilik mutlak alam raya beserta isinya ini akan sangat jauh sekali apabila manusia itu berlaku apatis, acuh tak acuh, suka membantah terhadap seruan-Nya.

Beribadah secara Lillahitaalla (ikhlas) selalu taat, tawaduk, sabar merupakan salah satu cara untuk mendekatkan diri dan sangat disukai oleh Allah dan Rasul-Nya. Taat secara bahasa adalah senantiasa tunduk dan patuh, baik terhadap Allah, Rasul maupun ulil amri. Hal ini sudah tertuang didalam Qs An Nisa ayat 59 “ Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al Quran) dan Rasul ( Sunahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya “. Berpedoman pada sepotong firman Allah diatas yang memerintahkan orang-orang yang beriman supaya selalu memurnikan ketaatan hanya kepada Allah, Rasul maupun ulil amri. Soal pemimpin yang bagaimana yang harus ditaati tsb ? tentu pemimpin yang juga taat kepada Allah dan Rasulnya, lalu masih adakah pemimpin yang memiliki sifat seperti yang di uraikan diatas ? yang lebih mengutamakan kepentingan umum&rakyat badarai diatas kepentingan pribadi dan keluarganya ?.

Taat pada Allah tidak hanya asal taat, didalam pelaksanaan teknisnya harus benar dan sungguh-sungguh sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, dan dengan tampa alasan apapun menghentikan segala larangan-Nya. Sebenarnya apa-apa yang menjadi perintah Allah Taalla sudah tidak diragukan lagi pasti tersimpan segala kemaslahatan (kebaikan), sedangkan apa-apa yang menjadi larangan-Nya sudah tertulis akan segala kemudharatanya (keburukan). Kemudharatan (bencana alam dimana-mana) yang sering terjadi akhir-akhir ini merupakan imbas dari tidak menghiraukan segala larangan Allah dan Rasul-Nya. Qs Ali Imran ayat 32 memperjelasnya “ Katakanla, taatilah Allah dan Rasul-Nya, jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir “. Begitu juga ketaatan kepada Rasul, yaitu Rasulullah Saw dengan selalu meimplementasikan yang terdapat dalam hadis beliau. Sebagai utusan Allah Nabi Muhammad Saw mempunyai tugas menyampaikan amanah kepada umat manusia tampa memandang status, jabatan, suku dsb. Oleh karena itu bagi setiap muslim yang taat kepada Allah Swt harus melengkapinya dengan mentaati segala perintah Rasulullah Saw sebagai utusan-Nya. Sebagai mana yang difirmankan Allah didalam Qs At Taqabun ayat 12 “ Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, jika kamu berpaling, maka sesungguhnya kewajiban rasul kami hanyalah menyampaikan (amanah Allah) dengan terang “. 

Allah Swt adalah adalah khalik, pencipta alam semesta beserta isinya ini. Rasulullah Saw adalah utusan-Nya untuk seluruh umat manusia bahkan kelahiran dari beliau Saw alam semesta ini mendapat rahmat yang tidak ternilai harganya. Oleh karena itu siapapun yang telah berikrar (bersyahadad) maka dengan sendirinya lahirlah suatu kewajiban dalam bentuk ketaatan kepada keduanya dalam situasi dan kondisi apapun. Namun jenis ketaatan seperti yang disebutkan diatas akan lebih sempurna kalau diiringi dengan ketaatan dan kepatuhan kepada ulil amri atau pemimpin. Ketaatan tersebut dalam artian harus selalu taat dan mematuhi peraturan-peraturan yang telah ditelurkan secara bersama, tentu selam peraturan itu masih diatas nilai-nilai kemanusiaan dan tidak menyimpang dari aturan agama Islam. Ketaatan itu bukan hanya harus diimplementasikan pada pemimpin dalam artian luas saja dalam artian sempitpun harus menjadi keseharian kita, seperti kepada orang-orang yang memiliki kuasa dan kedudukan yang lebih tinggi. Seorang anak harus taat dan patuh pada kedua orang tuanya, murid kepada gurunya, istri kepada suaminya agar kasus-kasus perceraian yang marak terjadi belakangan ini dan dengan berbagai macam penyebabnya dapat diminimalisir dsb. Dari Ibnu Umar Ra. Nabi Muhammad Saw bersabda “ Wajib bagi seorang muslim mendengarkan dan taat sesuai dengan yang disukai dan apabila diperintah untuk menjalankan maksiat jangan dengarkan dan jangan taati “. ( Hr. Muslim ).

Ketatatan yang kita lakukan kepada Allah, Rasul dan ulil amri merupakan ketaatan yang akan berakibat baik terhadap amal ibadah kita selama ketatan tersebut tidak diselimuti oleh berbagai bentuk kebohongan, penyakit hati, kemunafikan dsb. Malah Islam sangat memuliakan umatnya yang memiliki sifat tawaduk dengan selalu merendahkan hati baik terhadap Allah maupun terhadap sesama manusia. Kita sebagai muslim harus menyadari bertawaduk merupakan bagian dari akhlakul karimah yang melahirkan manusia-manusia yang berprilaku baik, dengan memunculkan suatu kesadaran akan hakikat kejadian dirinya dan tidak pernah mempunyai alasan untuk merasa lebih baik, lebih pintar, lebih kaya, lebih ganteng, lebih cantik maupun lebih-lebih lainya antara dirinya dengan orang lain. “ Dan hamba-hamba tuhan yang maha penyayang itu adalah orang-orang yang berjalan diatas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka.mereka mengucapkan kata-kata yang baik ‘. ( Qs Al Furqan-63 ).

Berdasarkan firman Allah diatas yang memerintahkan umatnya untuk selalu merendahkan hati (tawaduk) terhadap sesama dengan selalu optimistis dalam berusaha dan selalu mengucapkan kata-kata yang bermakna baik dan jujur dengan segala kelemah-lembutan yang dimiliki Islam. Bahkan orang-orang yang tawaduk ini bukan saja mendapat keuntungan di dunia ini saja derajatnyapun akan diangkat oleh Allah di akhirat kelak. Seperti yang disabdakan Rasulullah Saw “ Barang siapa yang merendahkan diri dihadapan Allah, maka Allah akan mengangkat derajatnya pada tempat yang tinggi. Dan barang siapa yang memiliki sifat takabur dan merasa bangga dengan dirinya lagi sombong apalagi kepada Allah. Maka Allah akan menghinakannya sampai ketempat yang serendah-rendahnya “. ( Hr Ahmad ). Dari ‘Iyad Bin Khimar ra berkata “ Bersabda Rasulullah Saw. Sesungguhnya Allah Swt memberikan wahyu kepadaku agar kamu sekalian selalu bersikap tawaduk dan menjauhi perilaku sombong dan jangan saling menyakiti “. Intinya, setinggi apapun ilmu yang kita miliki, sebanyak apapun harta yang telah kita kumpulkan dan setaat apapun kita pada Allah, kalau tidak dihiasi dengan sikap tawaduk dengan segala konsekuensinya maka jelas semuanya itu akan sia-sia belaka baik dimata Allah maupun dimata manusia ( saikua capeh saikua capang, saikua lapeh saikua tabang ). 

Peliharalah prilaku taat, tawaduk serta selalulah berlaku sabar didalam menjalani hari-hari kita, karena perilaku tersebut mengambarkan karakteristik muslim-muslimah sejati, apalagi didalam situasi dan kondisi saat ini, dimana berbagai persoalan bagaikan deburan ombak yang datang menghantam batu karang. Maka tiada tempat kita mengadu selain kepada Allah semata dan selalu bersabar dalam menghadapi itu semua. Karena kesabaran dalam menghadapi sesuatu yang tidak berkenan dihati merupakan salah satu kunci dalam menjalani ujian dan coabaan Allah taalla. Berfirman Allah “ Bersabarlah terhadap musibah yang menimpa kamu sesungguhnya yang demikian itu adalah sebaik-baik pekerjaan “. (Qs Lukman –17). Sabar bukan saja didalam menerima cobaan atau ujian bersabar didalam hal menikmati kesenangan duniapun tidak kalah pentingnya hal ini dapat dilakukan dengan menahan dan mengekang diri dari memperturutkan hawa nafsu. Begitu juga sabar didalam taat kepada Allah dan Rasul-Nya, sabar didalam menyemaikan kabaikan baik dalam bentuk lisan maupun tulisan, sabar dalam pergaulan, sabar dalam bekerja dsb merupakan lorong-lorong untuk melahirkan keimanan dan ketaqwaan kita pada Allah Swt. Allahu A’llam. Berbagai Sumber.Penulis Adalah Pengamat Sosial Keagamaan | Tinggal di Padang | Terbit Pada Harian Haluan Pada Hari Jumat Tanggal 15 Juni 2007 )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.