Ria Merusak Amal

Ria Merusak Amal – Pada dasarnya setiap manusia memiliki tujuan hidup masing-masing. Ada manusia yang menjadikan hidup ini sebagai ajang pencarian popularitas dan ketenaran, ada juga yang terpokus pada pencarian harta dunia semata dengan mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, bahkan tak jarang dari manusia itu menjadikan dunia ini hanya sebagai arena untuk mencari kesemua yang disebutkan diatas popularitas, harta, pangkat, dsb. Apakah itu salah, jelas ini suatu kesalahan terbesar di sisi Allah dan Rasul-Nya apabila sampai melalaikan bahkan meninggalkan kewajiban terhadap yang memberikan itu semua. Dan akan sangat baik sekali bisa menyeimbangkan antara kewajiban dunia dan akhirat serta selalu memanfaatkan dengan sebaik-baiknya apa-apa yang telah dianugerahkan Allah pada manusia sebagai perwujudan rasa syukur kita pada-Nya.

Berfirman Allah didalam Qs Al Al Mukminun ayat 13-14.” Dialah yang memperlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaa-Nya) dan menurunkan untukmu rizki dari langit, dan tidaklah mendapat pelajaran kecuali orang-orang yang kembali (kepada Allah). Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadat kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukainya.” Firman Allah diatas mengatakan dengan tegas kepada setiap manusia, khususnya umat Islam, tentang bentuk dan ragam dari tanda-tanda kekuasaan Allah diatas permukaan bumi ini. Hal ini dijadikan-Nya tiada lain adalah untuk kemaslahatan umat manusia itu sendiri, maka tiada lain balasan yang pantas kita berikan hanyalah melaksanakan segala kewajiban dan menghentikan segala larangan-Nya tanpa disertai dengan unsur apapun yang mengarah kepada menyekutukan-Nya. Hal ini dikarenakan sedikit saja ada unsure, lain ria misalnya maka amalan itu akan rusak dan sia-sia belaka.

Dijelaskan, didalam menjalankan kewajiban harus ditunaikan dengan niat yang ikhlas hanya karena Allah semata. Pada dasarnya setiap perbuatan yang dilakukan oleh manusia akan mendapatkan hasil berdasarkan niatnya atau nawaitunya, kalau nawaitunya didasari dengan kebaikan Insya Allah hasilnya juga akan baik,tapi kalau sebaliknya nawaitunya itu yang sudah menyimpang, niscaya hasil yang akan diperoleh akan lebih menyimpang lagi bahkan akan lebih parah dari hanya sekedar niat/nawaitu. Maka dari itu Islam selalu menekankan untuk mengawali segala perbuatan khususnya dalam beramal dengan niat yang baik dan tulus ikhlas. Bersabda Rasulullah Saw.”Innamal Akmalu bil niati.” Sesungguhnya segala amal itu hendaklah disertai dengan niat.” ( Hr Bukhari & Muslim ).

Niat yang baik itu adalah niat yang tulus ikhlas, dengan niat yang tulus ikhlas inilah amal ibadah kita dapat diperhitungkan oleh Allah taalla. Sedangkan amal yang disusupi oleh niat yang tidak ikhlas hanya untuk mendapatkan pujian (ria)jelas amalannya itu akan rusak bahkan tiada arti sama sekali. Ria atau sengaja memperlihatkan, mempertontonkan, memamerkan setiap amal dan perbuatan dengan tujuan agar dapat dilihat orang dan akhirnya mendapatkan pujian, sanjungan dari orang lain itu adalah kesenangan orang munafik. Dan gawatnya orang yang memiliki sifat ini tidak semata-mata memuji dan menyanjung kebesaran Allah, namun sangat menyanjung dan menghormati pelakunya. Ria merupakan sifat yang tidak disukai oleh Allah dan Rasul-Nya, karena sifat ini selalu berorientasi untuk menaikkan namanya agar selalu disanjung dan dipuji orang, beribadah hanya sekedar ikut-ikutan bersama jamaah lain, sedangkan kalau dalam keadaan sendiri maka, keengganan dan rasa malas beribadah akan menjadi teman akrabnya bahkan dilenakan oleh rayuan syaitan. Perihal prilaku ria ini telah diterangkan Allah dalam Qs An Nisa-142.” Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud ria (dengan shalat) dihadapan manusia . Dan tidaklah mereka menyebut nama Allah, kecuali sedikit sekali.”. Jelas sekali ayat diatas mengatakan bahwa orang yang berlaku ria dalam beramal khususnya shalat termasuk orang-orang munafik yang malas untuk berterima kasih pada Allah.

Hal ini juga telah ditegaskan dalam hadis Rasulullah Saw berliau bersabda.” Allah tidak akan menerima amalan melainkan amalan yang ikhlas dan karena untuk mencari keridhaan Allah semata.” (Hr. Ibnu Majjah). Intinya, kewajiban beramal secara tulus ikhlas sangat menentukan nilai, mutu,  kualitas dan kuantitas amalan itu sendiri dimata Allah. Dikatakan,keikhlasan beramal ibadah merupakan bentuk penegasan atas kemurnian dan keesaan Allah, bukan sebatas itu saja, nilai ikhlas ini juga dapat dijadikan tameng untuk menahan segalan bentuk kemusyrikan maupun pengaruh syirik. Tentu hal ini tidak akan tertanam didalam hati dan pikiran kalau tidak dicoba untuk menerapkan dalam setiap sikap yang menghubungkan lahirnya jiwa ikhlas tsb. Diantaranya melalui keyakinan hati yang harus lebih diperkokoh lagi, ucapan dan tindakan yang melahirkan motivasi beribadah secara terus menerus dsb. Kalau hal ini sudah melekat dalam keseharian yang diiringi dengan keteraturan dalam beramal ibadah maka, makna tauhid yang sebenarnya yaitu pengesaan Allah Swt didalam berbagai aspek kehidupan setiap pribadi insya Allah akan terwujud.

Selain itu untuk mendapatkan mardatilllah-Nya setiap pribadi diwajibkan untuk selalu proaktif menjalankan dan harus memiliki komitmen yang teguh terhadap syariat Islam. Keharusan beramal dengan mengikis habis unsur ria atau ingin dipuji,sangat mendesak untuk diterapkan. Karena Allah tidak akan memberi nilai apa-apa kalau amalan apapun bentuknya, sunat apalagi yang wajib kalau masih diiringi dengan niat lain. Jelaslah sudah bahwa hanya amal ibadah yang didasari niat dan satu harapan, mengharapkan keridhaan Allah semata yang akan dapat mendatangkan manfaat terhadap apa yang diinginkan dari amalan tsb. Ya Allah tumbuhkanlah selalu niat yang ikhlas didalam beramal ibadah kepada-Mu dan tetapkankah kami semua dalam keikhlasan dikala Engkau mengambil kembali apa-apa yang sebenarnya Engkau miliki dari kami.

Maka menanamkan,menyirami dan memupuk jiwa ikhlas didalam setiap aktifitas ibadah sebesar dan sekecil apapun, merupakan syarat utama amalan itu mendapatkan tempat disisi Allah. Hal ini sangat perlu sekali dijadikan cerminan agar terjauh dari sifat ria, ingin dipuji agar disanjung orang banyak dsb,jadi kalau ada seseorang beramal ibadah tapi tidak berbekas pada tingkah laku,pola pikir,ucapan dan perangainya secara universal, berarti didalam hatinya itu masih bersemayam sifat ria yang haus akan pujian, sanjungan,dan dia semakin tidak menyadari bahwa unsur ria yang masih ada itu akan merongrong dan merusak amalannya. Oleh karena itu berusahalah untuk mengikis sehabis-habisnya sifat ria ini didalam hati, mengantinya dengan terus berusaha beramal ibadah secara ikhlas, jujur dan sungguh-sungguh. Persoalan ikhlas ini adalah persoalan hati dan hanya Allah dan diri kita sendirilah yang paling mengetahuianya. Allah Hu A’llam…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Page-level ads only appear on the page when AdSense thinks they'll perform well. Add the following Page-level code to more of your pages to increase the overall performance of ads on mobile. Copy the code below and paste it inside the tag of any page you want to show ads on. Place the same code just once per page, and AdSense takes care of the rest.
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.