Orang Yang Merugi Dalam Shalat

Orang Yang Merugi Dalam Shalat. Rasulullah Saw bersabda “ Sesungguhnya amalan yang pertama sekali di hisap dari seorang hamba di hari kiamat kelak adalah ibadah shalatnya. Apabila ibadah shalatnya baik, maka ia termasuk orang yang beruntung. Namun, apabila ibadah shalatnya itu rusak, maka ia termasuk golongan orang-orang yang merugi” ( Hr. Nasai ). Pemberitahuan Rasulullah Saw di atas yang menyangkut soal ibadah sentral dan pokok kita sehari-hari pada Allah SWT, yaitu ibadah shalat dengan satu tujuan agar manusia taat, patuh dan beriman pada-Nya. Perintah shalat ini maupun ibadah-ibadah lainya murni bukan untuk kepentingan Allah, Akan tetapi seluruh keuntungan dan manfaatnya pasti akan kembali pada manusia itu. Lalu shalat yang seperti apa yang akan membawa keuntungan dan manfaat pada kita ?, apakah shalat yang di kerjakan hanya dalam hitungan detik yang terkesan asal-asalan?, atau shalat yang pengerjaanya selalu di ujung waktu ( melalaikan ) ?, atau hanya untuk sekedar mengugurkan kewajiban saja.

Hal inilah yang sangat di takutkan sekali oleh Nabi kita Muhammad Saw, karena di waktu beliau sedang melaksanakan Isra – Mikraj, beliau melihat suatu kejadian yang sangat aneh sekali. Di mana banyak orang laki-laki dan wanita tengah melabrak diri mereka dengan memukul kepalanya sendiri, darah mengalir akibat pukulan itu yang tak obahnya seperti sungai besar. Sambil mengeluh dengan penuh penyesalan mereka berkata ‘celakalah kami ini, alangkah sakitnya penderitaan ini. Maka, aku (Nabi) bertanya yaa Jibril, siapa mereka itu dan mengapa mereka memukuli kepala mereka sendiri sambil terus mengerang kesakitan?. Jibril menjawab mereka adalah dari umatmu yaa Muhammad yang melakukan Shalat selalu tidak tepat pada waktunya (lalai & suka melalaikan). ( Durattun Nasihin).

Padahal Al Quran sudah menerangkan bahwa shalat yang paling utama dan mempunyai nilai pahala yang tinggi adalah shalat yang di kerjakan di awal waktu, yang juga merupakan syarat mutlak di terimanya ibadah shalat tersebut. Yang akan mengacu pada sikap menghargai waktu dan bersikap disiplin yang tergambar dalam ibadah pokok itu. Shalat yang di kerjakan tepat waktu dan sesuai dengan kaifiatnya (Pelaksanaan teknis), tepat dan tertib, adalah salah satu bentuk pengabdian kita pada Allah SWT. Diluar shalat orang yang mengerjakanya harus mampu pula mewujudkan arti shalat itu sendiri kedalam bentuk amal shaleha/baik, dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Seperti orang yang melakukan sujud berarti tidak akan berprilaku sombong, ponggah atau takabur, karena ia adalah makluk yang tunduk dan patuh hanya pada Allah semata.

Telah bersabda Rasulullah Saw, ” Janji yang terikat erat antara kami dengan mereka adalah shalat maka, barang siapa yang meninggalkanya berarti ia telah kafir” ( Hr. Ahmad & Ashabus Sunan ). Merujuk dari sebait hadis Rasul di atas, bahwa agama islam sangat menekankan pada umatnya bahwa perbedaan antara kafir dan islamnya atau lebih tegasnya lagi tidak ber-agamanya, seseorang terletak pada shalat atau tidak shalatnya orang tersebut karena di dalam shalat itu tercantum nawaitu/niat, kalimat dan perkataan-perkataan yang suci seraya mengagungkan kebesaran-Nya dengan Allah Huu Akbar ( Allah Maha Besar ) dalam setiap gerakanya.

Akan sangat mulia, kalau melaksanakan shalat itu tepat pada waktu yang sudah di tetapkan Allah, dan selalu melahirkan dan mengedepankan sikap rela berkorban, tawadhu’, dan senantiasa sadar untuk mengistrospeksi diri. Hal ini akan bisa terwujudkan dalam kebersamaan yang direalisasikan dalam bentuk shalat berjamaah, yang kedudukan pahalanya terpaut 27 derajat. Seperti yang di kutip dari salah satu hadis Rasulullah Saw, “ Dari Ibnu Umar r.a bahwa sesungguhnya rasulullah Saw pernah bersabda, shalat berjamaah itu lebih baik dari pada shalat sendiri (munfarit) dengan dua puluh tujuh derajat”.( Hr Bukhari & Muslim).

Selain memiliki keampuhan dalam persaudaraan, shalat yang di laksanakan secara berjamaah terasa lebih nikmat jika di bandingkan dengan shalat Munfarit. Kenikmatanya terletak pada kepuasan bathin dalam kebersamaan yang akan melahirkan suasana keakraban. Jika shalat berjamaah setiap waktu, di kerjakan di dalam setiap komunitas terkecil ( keluarga), pastilah akan menimbulkan nuansa kekeluargaan, harmonis, akrab dan di ridhoi Allah Swt sehingga akan melahirkan motivasi untuk meningkatkan ibadah lainya secara kaffah. Kedisiplinan yang tinggi dan sifat-sifat mulia lainya yang telah terbingkai melalui pengamalan shalat sendiri-sendiri, akan menjadi lebih sempurna dan bermanfaat yang mendukung sekali terbentuknya sikap tertib, demokrasi, sikap menghargai waktu dan semangat kebersamaan melalui pengamalan shalat berjamaah dan shalat sunah lainya sebagai pengiringnya.

Al Quran surat Al Ankabut ayat 14, adalah salah satu dari sekian banyak firman Allah yang berisikan perintah mendirikan/menegakan/mengerjakan shalat, “ Dan dirikanlah shalat sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar”. Secara etimologi shalat berasal dari bahasa Arab yang berarti doa, dan menurut istilah adalah Ibadah tertentu yang tersusun dari beberapa perbuatan dan perkataan yang di awali dengan takbiratur ihram dan di akhiri dengan salam. Perkataan yang di maksud berkaitan erat dengan niat serta bacaan yang baik dan benar, sedangakn perbuatan dalam mengerjakanya merupakan gambaran dari kepatuhan dan ketidak berdayaan seorang hamba kelak di akherat. Hal ini dapat kita rasakan di mana kepala yang sangat kita hormati selama hidup di dunia sama rendahnya dengan telapak kaki di kala kita melakukan sujud. Namun, yang tak kalah urgennya bagaimana setiap diri mampu mengesampingkan segala kesibukan yang berbau duniawi di kala seruan suci itu datang memanggil, serta mengamalkan dan menerapkan ajaran-ajaran yang terkandung dalam ibadah shalat itu sendiri. Sebab sekecil apapun perbuatan yang kita lakukan baik dan buruk pasti mendapat ganjaran dari Allah Swt.

Di dalam pengertian sederhananya, shalat itu merupakan tiang dari agama islam, barang siapa dengan penuh kesadaran berwudhuk dengan air yang suci lagi mensucikan, lalu melaksanakan shalat dengan penuh keikhlasan lillahita’alla dan penuh kekhusukan berarti ia sudah mendirikan tiang dari agama islam itu sendiri. Begitu juga sebaliknya, barang siapa yang meninggalkan shalat baik dengan sengaja maupun tidak sengaja sedang di mengetahui, berarti dia sudah meruntuhkan tiang dan sendi-sendi agama islam itu sendiri dan tidak memahami atau tidak mau memahami apa yang di firmankan Allah dalam Qs Taha ayat 14 “ Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku”.

Dilain hal Rasulullah Saw memberikan satu peringatan yang berhubungan dengan ibadah sentral umat islam ini. Bahwasanya orang yang suka melalaikan waktu shalatnya termasuk orang-orang yang merugi dan neraka Wail-lah yang cocok untuknya. Sedangkan orang yang mengaku umat islam namun tidak tergerak hatinya atas panggilan Ilahi untuk sujud pada-Nya, akan di masukan kedalam neraka Saqar. Disini kita sebagai manusia yang berfikir harus bisa merajuk suatu kesimpulan, jangankan untuk meninggalkan ibadah shalat ini, melalaikan waktunya saja sudah berdosa Nauzubillzh min zhalik.

Shalat/sembahyang, merupakan suatu kewajiban yang harus di pentingkan dan di dahulukan oleh umat islam dan waktu-waktunya pun sudah menjadi ketentuan dari Allah lewat Al Quran dan sunah Nabi. Namun sangat kita sayangkan mudah dan gampang saja bagi sebahagian orang khususnya umat islam di zaman sekarang ini untuk melalaikan waktu-waktu shalat wajib yang sudah di tentukan tadi, tidak hanya sebatas itu meningkalkan shalatpun kelihatanya sudah menjadi hal yang biasa bagi mereka.

Beberap buah firman Allah SWT di atas, cukuplah kiranya memberikan kontribusi positif pada kita berupa dasar hukum yang meyakinkan pikiran dan hati kita, bahwasanya kedudukan ibadah shalat ini sangat penting dalam usaha mendekatkan diri pada sang maha pencipta. Tentulah ibadah shalat yang sesuai dengan apa-apa yang di ajarkan Rasulullah Saw sebagai tauladan bagi seluruh umat manusia khususnya umat islam. Bukanya shalat yang pengamalanya asal-asalan, krasak-krusuk dsb, dan bukan pula ibadah shalat yang di kerjakan di ujung waktu dan dengan terpaksa. Janganlah kita termasuk orang-orang yang selalu mendustakan agama Allah, dan janganlah kita termasuk orang-orang yang merugi dalam pelaksanaan ibadah sentral dan pokok tersebut. Karena ibadah shalat ini merupakan perealisasian amaliah bagi amaliah keimanan itu sendiri. Berbagai Sumber… ( Terbit Pada Harian Haluan Pada Hari Jumat Tanggal 24 Februari 2006 |  Penulis Adalah Pengamat Sosial Keagamaan | Tinggal di Padang )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.