Mengumpulkan Bekal Akhirat

Mengumpulkan Bekal Akhirat.  Allah SWT berfirman. Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan hanya permainan dan senda-gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya ?. ( Qs Al An’am : 32).

Diceritakan ketika Nabi Nuh as akan meninggal dunia, bertanyalah para sahabatnya. Bagaimanakah engkau merasakan hidup ini wahai nabi Allah ?. ( mereka wajar bertanya seperti ini karena nabi Allah nuhlah yang memiliki umur paling  panjang mencapai 950 tahun ). Nabi Nuh menjawab aku merasa bahwa hidup ini hanyalah sebagai sebuah rumah yang memiliki dua daun pintu, yang aku masuk dari pintu yang satu lalu keluar dari pintu yang satunya lagi.

Merujuk dari firman Allah dan cerita disaat nabi nuh akan meninggal dunia diatas,  akan tergambar bagi manusia yang berfikir bahwa arti kehidupan ini hanya bersifat sementara ( relatife ). Semua bentuk permainan dan perlombaan yang ada didalamnya hanyalah senda-gurau belaka. Namun sayang hanya sebagian manusia yang mau terlibat dalam pemahaman ini, sedangkan sebagian yang lain semakin dibuai oleh nikmatnya ayunan dunia ini.  Allah SWT telah memberikan kesempatan dan peluang pada segenap manusia, tapi kesempatan yang sangat bernilai ini tidak mempengaruhi sedikitpun mata hati manusia itu untuk kembali pada jalan yang benar. Manusia Islam khususnya, tidak dilarang meraih suatu keinginan apapun bentuknya, asal cara-cara untuk mendapatkannya harus sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul, melalui pemahaman dari dua pedoman hidup manusia (al quran dan hadis SAW). Inilah yang disebutkan dalam ajaran Islam dengan Tawazun/Mutawazun (menyeimbangkan antara kepentingan dunia dan kepentingan untuk akhirat ).

Kalau ditelusuri lebih dalam ada dua kenikmatan yang telah diberikan Allah yang sering kali ter- dan diabaikan umat Islam sekarang ini, yaitu nikmat kesehatan dan nikmat kesempatan waktu. Dua nikmat ini sangat besar kontribusinya dalam melahirkan arti hidup bagi umat manusia secara umum. Manusia itu hidup dalam lorong waktu, diantara senang dan susah dan diantara untung dan merugi. Artinya, kerugian yang bersumber akibat terlalu digiurkan oleh godaan dunia semata, sehingga dengan Allah semakin jauh. Sedangkan bagi yang beruntung adalah selalu merajut tali-temali sang waktu ini dengan sebaik-baiknya,  menjadikan dunia ini sebagai bekal bagi kehidupan akhirat yang abadi.

Kita harus menyakini bahwa suatu saat dunia ini pasti akan dilipat oleh yang empunyanya yaitu Allah SWT, itulah hari kiamat dimana tempat segala perilaku diminta pertanggungjawabannya. Sebelum itu, setiap yang bernyawa akan mengalami kematian. Dijelaskan, seperti apapun kehidupan seseorang sesungguhnya suatu saat ia pasti akan mati. Orang yang sehat akan mati, yang sakitpun demikian, orang kaya dan miskin, orang pandai dan bodoh pun akan mati, rakyat jelata, penguasa, pejabat, politikus, tentara, koruptor, penyuap siapapun dan apapun status orang tersebut bahkan malaikatpun tak akan luput dari kematian. Kita akan dibalas sesuai dengan amal perbuatan, maka sudahkah setiap diri mempersiapkan bekal untuk menyambut kematian itu ?.

Al Quran yang merupakan panutan hidup banyak menyebutkan perihal maut dan hari akhir ini diantaranya Al Qiamah, Ash Shaakhkhah, Ath Thamah, Al Waqiah dsb. Apa yang diinformasikan secara berulang-ulang tersebut mengisyaratkan bahwa kehidupan manusia bukan diatas dunia ini saja. Kematian dan kiamat merupakan pintu dari awal kehancuran seseorang plus alam semesta ini. Berfirman Allah. Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan kamu tidak dibalasi kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan. ( Qs Yasin-54 ).

Tidak semua orang yang mau memahami hal ini orang-orang yang ingkar dan kufur mengangap kejadian besar hari kiamat hanya sebagai fenomena alam semata, malah mereka berfikir akan bisa menyaksikan peristiwa yang maha dahsyat ini. Pernyataan mereka ini dibantah lansung oleh Allah dalam Qs Yasin 49-50.  Mereka tidak menunggu melainkan satu teriakan saja yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar. Lalu mereka tidak kuasa membuat suatu wasiatpun dan tidak (pula) dapat kembali kepada keluarganya.

Allah yang memiliki kekuasaan penuh terhadap alam semesta ini memberitakan kiamat itu tidak akan datang melainkan dengan tiba-tiba, tidak dijelaskan hari, tanggal atau jamnya. Karna itu jangan menunggu datangnya hari tua untuk beribadah,  persiapkanlah bekal itu sejak dari sekarang. Ingatlah arus dunia ini memang sangat kuat, kitapun menyadari tak ingin hidup merugi dan sengsara, kesempatan hidup senang  yang ditawarkanpun tak kuasa kita tolak. Namun sebagai orang yang berilmu dan berakal kitapun tidak ingin menjual kepentingan akhirat yang hakiki demi memenuhi ambisi duniawi yang kenikmatannya hanya sesaat.

Zahid Yahya bin Muadz pernah berpesan. Penolakan kebenaran yang bersumber dari Allah merupakan tindakan yang tidak mulia,  mengutamakan dunia atas akhirat itupun sangat tidak bijaksana. Artinya, hanya manusia yang hina dan bodohlah yang selalu melihat pada masalah syahwat belaka tampa mau memikirkan akibat yang akan ditimbulkannya. Alangkah meruginya kita disaat menghadap Allah dalam situasi seperti ini, ketika sang maut atau kiamat datang kita sedang asyik bersantai dengan segala hal yang tidak bermanfaat, kita akan menyesal nantinya namun penyesalan disaat itu tidak akan berguna sama sekali.

Biasanya orang seperti yang disebutkan diatas akan meminta penangguhan kematian ketika bertatap muka dengan Malaikat Maut. Qs Al Munafiqun : 10 menguatkan akan hal ini. Ya tuhanku mengapa Engkau tidak menangguhkan ( kematian  )ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shaleh.

Kita diingatkan untuk selalu mengenali dan menyadari akan kuatnya gelombang nafsu dunia ini, sadarilah selalu bahwa dunia ini hanyalah panggung sandiwara yang sarat badai fitnah yang bisa menghancurkan hidup jika semakin dilalaikan oleh gemerlapnya. Membeli kehidupan dunia bukan untuk kepentingan akhirat inilah bencana dan malapetaka terbesar yang dialami umat saat ini,  yang akhirnya menyeret pada kemaksiatan. Bukan tidak mungkin akan menjadi penutup usia yang diberikan Allah selama ini. Zainal Abidin Ali bin  Husein pernah ditanya. Siapakah orangnya yang paling terancam bahaya ? Ia menjawab, adalah orang yang tidak mau melihat dunia sebagai bahaya untuk dirinya. ( Uyun Akhbar 2/230).

Segera lari dari kehidupan dunia ini adalah tindakan yang paling tepat dilakukan saat ini, lari dalam artian tidak meninggalkannya secara keseluruhan kemudian membiarkannya dikuasai oleh orang-orang penghamba nafsu untuk dipergunakan sekehendak hatinya. Sementara kita lebih memilih hidup miskin dari pada kaya. Maksudnya adalah tidak selalu menempatkan dunia diatas kepentingan akhirat, tidak menyempatkan aktifitas dunia dengan mengesampingkan aktifitas untuk akhirat. Jadikanlah kehidupan dunia ini sebagai kendaraan yang pas untuk senantiasa meyelusuri lorong-lorong menuju ridha Allah SWT.

Sesungguhnya jika seluruh umat manusia dipermukaan bumi ini beriman pada Allah, tidaklah akan mempengaruhi akan keagungan Allah. Dan sebaliknya, Allah tidak akan rugi secuilpun jikalau manusia seluruhnya mengingkari-Nya. Manusialah yang butuh amal shaleh sebagai bentuk pembuktian tanggungjawab atas nikmat kehidupan yang telah dianugerahkan pada sekalian umat manusia. Betapapun besar kezaliman dan dan amal ibadah yang kita kerjakan, keagungan dan kemahabesaran Allah tetap juga tidak akan terpengaruh. Dialah Allah yang tidak membutuhkan makhluk tapi makhluk itulah yang sangat membutuhkan Allah.

Jadikanlah kehidupan hidup ini sebagi tempat untuk mengumpulkan bekal hidup untuk akhirat kelak, dengan selalu berusaha meningkatkan ilmu pengetahuan duniawi dan amal ibadah untuk ukhrawi, hanya inilah yang amat berperan untuk menentukan episode akhir kehidupan kita. Pertanyakanlah kemanakah menit-menit dan detik-detik hidup kita habiskan ?. Hidup ini barulah akan berarti bilamana dipergunakan untuk mencari keridhaan Allah disela-sela kesibukan duniawi kita, tidak ada istilah terlambat dalam beramal dan menuntut ilmu, niat yang ikhlas akan memotivasi setiap jiwa yang ingin mencari bekal untuk akhirat dengan selalu beramal shaleh yang dinaungi bangunan ibadah yang kuat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.