Memulai Dari Diri Sendiri

Memulai Dari Diri Sendiri. Yang paling berperan dalam diri manusia untuk mengendalikan setiap gerak-geriknya adalah pikiran dan hati, kedua unsur ini selalu ingin disinergikan yang akan melahirkan prinsip hidup.

Namun,tidak tertutup kemungkinan antara pikiran dan hati sudah tidak bisa disatukan lagi maka lahirlah kemunafikan, sehingga apa-apa yang diucapkan mulut hanya sekedar berita dan kabar  kosong dan janji-janji manis belaka.

Dengan inteligensinya,manusia itu bisa terbang lebih tinggi dari burung dan sanggup menyelam lebih dalam dari ikan, mungkin hanya nyawa saja yang tidak bisa dibuat manusia abad ini. Namun, intelegensi tampa hati sebagai penyaring dari segala macam rencana akan melahirkan kerusakan dan ketimpangan dalam bidang-bidang tertentu. Banyak sudah bentuk kerusakan sampai memakan korban jiwa dan materi yang tidak terhingga itu semua bersumber dari kecerdasan inteligensi manusia tanpa diiringi kecerdasan spiritualitasnya sebagai makhluk sosial.

Makhluk Allah yang paling mulia dipermukaan bumi ini adalah manusia yang menyebabkan manusia itu mulia adalah karena terdiri dari struktur akal pikiran dan hati yang dianugerahkan oleh Allah SWT, akal pikiran (intelegensi) dan hati (spiritual) inilah yang akan menjadikan manusia itu benar-benar menjadi seorang manusia.  Jadi akal pikiran dan hati nurani tersebut bukan hanya sekedar onggokan daging tampa arti.  Dia akan sangat berarti jikalau manusia yang punya dua unsur diatas sanggup menjadikannya sebagai landasan dalam bertindak.

Hari ini gaya hidup (life style) yang menyangkut, pilihan pekerjaan, kesibukan, makanan, mode pakaian, gaya bicara dan kesenangan-kesenangan semu lainya dalam masyarakat telah mengalami perubahan yang sangat mengecewakan. Cara hidup global yang lebih moderen dan cendrung berorientasi kebarat – baratan telah  merasuki sisi – sisi kehidupan umat manusia saat ini, tanpa kecuali umat Islam. Akibatnya banyak perilaku menyimpang yang terjadi bahkan sudah dianggap hal biasa. Anak hidup dengan cara dan gayanya, orang tuapun semakin sibuk dengan pekerjaannya

Sebagai umat Islam yang konsisten dengan doktrinya, sudah seharunya memiliki kepribadian yang mencerminkan kemuliaan dan kesucian ajaranya,yaitu akhlakul karimah. Maju mundurnya ajaran ini,sangat tergantung baik atau buruk perilaku dari penganutnya sendiri, baik perilaku secara individual maupun secara kelompok. Saat ini, dimana berbagai pengaruh asing yang masuk tak terkendali ini  harus selalu diwapadai dengan menekankan pada diri, keluarga, dan masyarakat untuk membudayakan akhlak terpuji dalam setiap lini kehidupannya.

Husnuzzan kepada Allah adalah satu dari rajutan akhlak karimah yang diperintahkan untuk menerapkannya. Ini bermakna selalu berprasangka baik ( positive thinking ), terhadap apa-apa yang diberikan Allah SWT pada kita.  Sebaliknya larut dalam sangkaan buruk / su’uzzan ( negative thinking ) apalagi terhadap Allah akan membuat hidup selalu gelisah, cemas, stress bahkan sampai depresi dan tekanan jiwa lainnya.

Kalau kita mau menyelami lebih dalam lagi tentang kekuasaan Allah didalam menciptakan alam plus isinya ini, adalah merupakan rahmat yang paling spektakuler dalam seluruh ciptaan-Nya, dan semua ini adalah untuk dan demi manusia. Rahmat dalam artian yang sebenarnya adalah segala sesuatu yang dapat mendatangkan manfaat dan nikmat yang besar. Namun, untuk merengkuh rahmat Allah ini, setiap manusia akan selalu dituntut untuk terus menggali dan memperlajari melalui ilmu pengetahuan. Allah SWT, dalam setiap tingkatan tidak pernah membeda-bedakan umat manusia dalam usaha meraih manfaat dari nikmat-Nya, hal ini tentunya harus melalui usaha yang sungguh-sungguh dan terarah dari manusia itu sendiri.

“ Allah yang telah menundukan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizin-Nya,dan supaya kamu dapat mencari sebagian karunia-Nya dan mudah-mudahan kamu bersyukur. Dan Dia menundukan untukmu apa yang dilangit dan dibumi semuanya ( sebagai rahmat ) dari pada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.” ( QS. Al Jasiyah : 12-13 )

Memang ada sebagian manusia yang tidak beruntung didalam meraih nikmat Allah,hal ini bukan berarti Allah itu benci terhadap orang tersebut. Dalam hal ini ada baiknya dilakukan dulu evaluasi,mungkin ada dari syarat kualitas atau kemampuan yang belum maksimal dilakukan. Didalam situasi dan kondisi ini yang sangat dibutuhkan adalah kesabaran yang mendalam, doa yang khusyuk dan tawakal. Prestasi / prestise apapun bentuknya hanya akan menghampiri manusia yang dengan gigih berusaha didalam hal mewujudkan keinginannya. ” Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” ( QS. An Najm : 39 )

Manusia harus selalu berpositife thinking dan menganggap bahwa tidak ada yang sia-sia diciptakan Allah dipermukaan bumi ini, dari ini semua diharapkan akan lahir sikap untuk selalu introspeksi diri dalam setiap ruang dan waktu yang diberikan-Nya. Dengan demikian jiwa akan bersih jauh dari penyakit hati, rasa syukur yang dalam serta akan dapat memacu semangat untuk lebih agresif penuh inovatif  dalam berusaha dan beramal.

Selain itu perilaku giat yang didorong rasa optimisme yang tinggi akan melahirkan rasa percaya diri dan nilai positif dalam segala bentuk usaha. Keyakinan ini akan melahirkan sugesti yang kuat dan lapang dada dari para pelakunya,guna mewujudkan hasil yang seimbang baik untuk dunia (materi) maupun untuk akhirat (amal ibadah).

Berfirman Allah. ”…Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah (nasib) suatu kaum sehingga mereka mau mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” ( QS. Ar Ra’du : 11 ). Dan firman-Nya lagi. ” …Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir “. ( QS. Yusuf : 87 ). Yang diperkuat lagi dengan hadis qudsi. ” Aku selalu menurutkan sangkaan hamba-Ku,jika ia baik sangka kepada-Ku maka ia dapat dari apa yang ia sangkakan. Dan jika ia buruk sangka kepada-Ku maka ia mendapat apa yang ia sangkakan kepada-Ku.” ( Hr. At Thabrani dan Ibnu Hiban )

Memang sesuatu hal yang sangat manusiawi sekali kalau setiap orang selalu memiliki keinginan untuk meningkatkan taraf kehidupannya hari demi hari. Ajaran Islam pun selalu membukakan jalan kearah itu. Bahkan secara tegas dikatakan bahwa Islam bukan ajaran yang memiskinkan umatnya,tapi ajaran Allah ini selalu mendorong umatnya mencari kekayaan dan kesuksesan sampai pangkat dan jabatan, dengan mendorongnya untuk giat dan rajin bekerja dalam aturan-aturan yang telah ditetapkan syariat. Islam tidak ingin umatnya miskin dan papa,karena hal ini dekat dengan kekufuran bahkan bisa kafir.

Sebagai stimulasi untuk meraih kekayaan dan kesuksesan itu Allah memberikan jalan. ” Apabila telah ditunaikan shalat,maka bertebaranlah kamu dimuka bumi,dan carilah karunia Allah (rizki) dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.” ( QS Al. Jumuah : 10 )

Selain itu islam selalu menyuruh umatnya untuk selalu berinisiatif yang merupakan rangkaian sifat terpiji yang harus selalu dikembangkan, diharapkan akan lahir sikap mandiri dengan mendayagunakan segenap kemampuan intelegensi dan spiritualilitasnya  guna meraih suatu keberhasilan dan kesuksesan di dunia dan di akhirat.

Berbagai bentuk penyimpangan sosial yang kerap terjadi akhir-akhir ini menandakan bahwa sebagian masyarakat sudah mulai meninggalkan nilai dan norma yang dianut selama ini. James W. Van der Zenden, menyatakan bahwa penyimpangan sosial itu merupakan suatu prilaku yang oleh semua orang dianggap sebagai hal yang tercela dan diluar batas toleransi.

Tak bisa kita pungkiri realita dari berbagai bentuk penyimpangan sosial yang kita temui sehari-hari telah mengikis sedikit demi sedikit nilai moral yang selama ini menjadi ikon dinegara kita. Penjarahan uang negara ( korupsi ), perampokan, tawuran yang bukan saja dilakukan para pelajar, tak mau ketinggalan juga para kaum intelektual mahasiswa bahkan sampai para wakil rakyat. Pembunuhan, penyalahgunaan narkoba, tindakan kekerasan dalam institusi pendidikan (senior vs yunior) yang berakhir pada kematian dan kini rakyat dibingungkan dengan banyaknya calon pemimpin yang disodorkan parpol plus dengan janji-janjinya masing-masing dsb, telah memperburuk sisi-sisi kehidupan manusia Indonesia yang notabenenya sebagai makhluk sosial dan berperadapan ini.

Seharusnya, sebagai manusia yang memiliki adat dan budaya, harus saling melindungi dan saling menghargai antar sesama,sudah seharusnya mengedepankan asas musyawarah dan mufakat, tolong menolong guna mencapai tujuan hidup bersama. Islam sebagai agama yang rahmatan lil allamin didalam usaha mencerminkan akhlakul karimah  akan selalu memberikan jalan dan kekuatan luar biasa kalau setiap manusia dengan penuh kesadaran menjalankan setiap perintah dan mengentikan setiap larangan-Nya.

Karena itu Islam sangat menganjurkan untuk memulai hari-hari kita dengan kebaikan yang harus bersumber dari kejujuran hati. Dalam pandangan Islam manusia yang baik itu adalah,manusia yang menjaga dan mengamplikasikan akhlak terpuji dalam kehidupannya sehari-hari. Janganlah sekali-kali berniat menodai Islam,dengan perilaku yang mencemarkan kesucian dan keagunganya mulailah segala bentuk kebaikan itu dari diri sendiri. mengawali hari-hari kita dengan kesan baik,dengan mengucapkan kata-kata positif tentang diri sendiri dipagi hari insya Allah sampai sore bahkan malamnya diri akan tetap dinaungi kebaikan.

Penulis : Penggiat Dakwah dan Pemerhati Masalah Sosial

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.