Kroposnya Bangunan Iman Melemahkan Denyut Nadi Kehidupan

Kroposnya Bangunan Iman Melemahkan Denyut Nadi Kehidupan. Iman dan Takwa telah dibangun diawali semenjak umur mukalaf (baligh) dan ditunjang lingkungan yang kondusif terutama dilingkungan rumah tangga seperti kesalehan dari kedua orang tua. Pada perjalanan hidup itu sendiri tidak tetap tetapi mengalami perubahan disetiap diri seseorang muslim. Rasulullah SAW. Bersabda : “ dan mengisyaratkan bahwa Iman itu YAZIIDU WA YANGUS (naik turun) karenanya Rasulullah SAW. Mewanti-wanti umatnya agar senantiasa menjaga stabilitas Iman dengan taubat, mengakui atas kesalahan yang dilakukan. Para sahabat mengerti dan sangat memahami terhadap pesan-pesan tersebut sehingga membekas dalam hati mereka yakni selalu saja terbetik kekhawatiran akan kekurangan Iman. Padahal telah jelas bahwa merekalah (sahabat) generasi penerus yang utama dan pertama. Hal ini menedakan bahwa bertambah dan berkurangnya Iman sangat menentukan perjalanan menuju kehidupan yang hakiki akhirat.

Dituntut setiap muslim mengetahui hal-hal yang dapat menjadikan keroposnya bangunan iman dan melemahkan denyut nadi kehidupan sebagai berikut :

  1. Lemahnya akhlak
  2. Lemahnya ke hatian-hatian
  3. Lemahnya zuhud
  4. Takut pada rezki. Lemahnya akhlak (dha’ful akhlak).

Seorang yang telah siap di tarbiyah (di didik) oleh Allah SWT. Melalui syariat-Nya akan mudah menangkap semua bentuk sinyal tarbiyah dari Allah SWT. Untuk kemudian ia tanam sebagai ikrar fikrah yang selanjutnya menjadi perilaku kebiasaan diri dan akhirnya terbentuklah akhlak mulia, yang memperoleh ridha Allah SWT. Allah SWT, adalah ujud setiap yang lahir tanpa rekayasa. Pada waktu dan kesempatan kapan saja sikap itulah yang muncul. Itulah akhlak, dalam bahasa tasauf tidak bergerak sesuatu kecuali izin Allah SWT, yang mengikuti petunjuk Al-Quran dan Sunah SAW. Kekuatan akhlak tercermin dari bagaimana seseorang berlaku benar dalam kesendirian. Dan bagaimana ia bias mempertahankan kebenaran ketika ia bersama atau tidak bersama orang lain.

Apakah ia mampu konsisten dengan nilai syariat atau bukan. Ketika ia mencoba untuk tidak konsisten dalam suatu perkara saja misalkan dalam kesendirian ia mentoleransikan diri dari seperti pada kesendiriran ia mentoleransi diri dari pelanggaran hokum syarak namun ketika bersama dengan orang lain ia berusaha untuk konsisten itulah pertanda mulai melemahnya akhlak. Lemahnya kehati-hatian. (dha’ful wara’). Kehati-hatian menduduki kunci penting dalam perjalanan kehidupan, dalam satu riwayat bagaimana kehati-hatian sahabat Abubakar ra. Abubakar sampai mengorek-ngorek tenggoroknya hanya sekedar ingin memuntahkan makanan yang telah sempat masuk kedalam perutnya, setelah beliau tahu makanan tersebut merupakan hadiah dari hasil pekerjaan haram. Sementara pada dunia semakin maju disemua lini kehidupan disaksikan ke waraa’an umat Islam semakin menampakkan kelumpuhannya sehingga rapuh, mudah tumbang dilanda kemajuan zaman yang ditandai serba bebas bila di bandingkan dengan mereka yang selalu hidup berpedoman terhadap ajaran Al-Quran dan Sunah SAW.

Bila sudah meninggalkan kedua ajaran (Al-Quran dan Sunah)terserabut berakibat membuat bangunan iman jadi kerdil bahkan tidak tertutup kemungkinan melemah sama sekali pada akhirnya hilang kemampuan untuk memelihara meninggikan izzah (kemuliaan) diri sendiri apalagi izzah kaum muslimin. Lemahnya kehati-hatian. Lemahnya dalam aktivitas berdampak membawa sifat malas menjaga diri dari yang haram. Sebaiknya senantiasa menjaga diri agar tidak terjebak dari semua peluang penyimpangan. Imam Syafi’I mengatakan : “ Jika aku bertemu orang lain maka aku akan berusaha memberi mamfaat kepadanya dan kalau tidak aku akan mengambil pelajaran darinya agar bermamfaat bagi diriku”.

Sejarah mencatat sosok Imam Syafi’I memiliki pribadi yang kokoh bagai batu karang. Lemahnya sikap wara’ dari yang haram pada diri hakikatnya bermula dari perjalanan hati yang selingkuh dengan nafsu rendah. Buruk sangka kepada Allah SWT merupakan salah satu pangkal tolaknya, atau ( memprotes ketetapan Allah SWT). Diantara buruk sangka umpamanya. Lemah muragaba tu Allah (rasa diawasi oleh Allah) akan memotivasi diri untuk terjatuh dalam perkara subhat bahkan ke haraman meskipun berusaha ditutup-tutupi dari pandangan manusia sesungguhnya serapat apapun manusia memnyembunyikan keburukan atau kebaikannya pasti cepat atau lambat Allah akan menampakkannya tinggal menunggu perjalanan waktu. Lemahnya zuhud (dha’fu zuhud) Allah SWT menjelaskan : “ Bahwa kehidupan dunia adalah permainan dan merupakan sesuatu yang melalaikan”.(Q.S. Al-Hadid : 20).

Takut pada rezki (dha’fu tawakul). Artinya takut tidak memperoleh rezki hingga menimbulkan kepanikan hidup tak jarang satu-satunya penyebab keputus asaan adalah dengan gantung diri. Disadari rezki dalam kekuasaan Allah, semua makhluk berada dalam jaminan Allah SWT. Allah menjelaskan : “ Dan tidak ada suatu binatang melata pun dibumi melainkan Allah lah yang memberi rezkinya”. (Q.S. Huud : 6). Tugas manusia ikhtiar dengan optimum dalam lingkaran syari’ tentang hasil ada dalam genggaman Allah dengan segala kehidupan.

Inilah arti dan hikmah keroposnya bangunan Iman melemahkan denyut nadi kehidupan. (Berbagai sumber)…. (bk).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.