Kontradiksi Fenomena Contek Masal

Kontradiksi Fenomena Contek Masal. Waktu terus berjalan, dari detik menjadi menit, dari menit menjadi jam, dari jam menjadi hari. hari telah berganti minggu, minggu berganti dengan bulan, bulan bertukar dengan tahun. Sepanjang hari, sepanjang minggu, sepanjang bulan, sepanjang tahun aneka rekayasa dan pergelaran sandiwara bodoh telah dipertontonkan oleh orang – orang yang selama ini dikenal sebagai pemimpin bangsa untuk menutup kebiadaban dan kejahatan yang telah mereka lakukan dalam menjemput kehancuran dan kebinasaan bangsa dalam kehinaan.

Sementara kita sebagai rakyat hanya bisa tersenyum dalam diam. Bermimpi tentang kemuliaan dalam tidur yang sudah teramat panjang. SampaI – sampai kita sendiri lupa untuk tersadar karena sudah terlalu lama tenggelam tanpa pegangan dalam diam yang membenam dalam – dalam.

Penguasa negeri ini secara sadar telah memaksa kita untuk lupa dan tidak peduli dengan tata aturan moral dan akhlak. adab dan sopan santun, nilai – nilai dan kemuliaan, budaya dan kebanggaan. Kehormatan sekarang adalah nilai materi, kebahagiaan sekarang adalah kebohongan, kebaikan adalah kehancuran orang lain. Fitnah dan pergunjingan adalah moral yang didakwahkan

Ketika seorang anak bangsa Alifa Achmad Maulana Siswa SDN Gadel II Surabaya dan ibunya Siami, dengan kepolosan dan keluguan yang dimilikinya telah berani menampilkan sebuah nilai kejujuran yang kemudian dikenal dengan istilah ” Contek Masal “, semua orang sepertinya berusaha untuk tersentak dan mengagetkan dirinya sendiri, bahwa ternyata kejujuran itu masih ada di negeri ini. Sebuah mutiara nilai yang selama ini telah dianggap hilang. Hilang tentu rimbanya dan mati tak jelas kuburnya

Rasa kaget itu sengaja diperlihatkan secara besar – besaran, entah untuk sekedar mengingatkan atau sebuah sindiran kepada para penguasa ( seharusnya pemimpin ) negeri ini bahwa nilai – nilai moral dan kejujuran itu sekarang masih ada dan HANYA dipakai dan dipraktekkan oleh orang kecil yang lugu, bukan oleh orang – orang pintar berpendidikan tinggi dan bukan oleh para para penguasa dan para pengusaha predator kanibal.

Solah merasa tersindir atau hanya sekedar untuk membuktikan dan pembenaran atas kegagalan sistem pendidikan yang telah diterapkan selama ini, pemerintah secara resmi, melalui menteri pendidikan nasional, membantah dengan tegas bahwa sesungguhnya aksi contek masal itu tidak terbukti, yang sekali gus berarti bahwa kejujuran itu sesunggunnya tidak pernah ada. Kebohongan, kemunafikan, kecurangan masih tetap tumbuh subur dan menjadi nilai – nilai yang melekat dan mengakar dalam tatanan kehidupan sosial masyarakat Indonesia

Yah….  Menyedihkan memang. Tapi itulah yang terjadi ketika seorang pemimpin yang seharusnya mampu memposisikan dirinya sebagai seorang yang terhormat dan menjunjung tinggi nilai – nilai kehormatan diri dan kehormatan lembaga yang dipimpinnya tidak mampu berfikir dan bersikap serta bertindak dengan kearifan nurani dan hanya mementingkan variabel – variabel angka dalam mengembangkan sistem pendidikan, dan mengabaikan nilai – nilai moral dan akhlak serta kejujuran nurani dalam mendidik dan melahirkan anak didik menjadi manusia – manusia yang baik secara lahiriyah dan batiniyah

Kontradiksi yang saling berlawanan tersebut, secara besar – besaran telah dilahap media dan disuguhkan setiap hari di rumah – rumah kita dan menjadi konsumsi dan menu harian anak – anak kita di rumah. Dengannya anak dan keluarga kita telah belajar bahwa  ” kejujuran itu adalah nilai – nilai kuno yang tak lagi pantas untuk untuk dipertahankan”

Siapakah yang sepantasnya kita salahkan dalam situasi seperti ini ?

Bangsa ini telah tumbuh dan berkembang secara tidak bermoral. Presiden yang rencananya akan memposisikan dirinya sebagai icon anti korupsi, telah diberikan label sebagai seorang pembohong oleh beberapa agamawan, Sementara para kiyai yang lain gigih membela kebohongan itu atau memilih tetap diam seperti masa orde baru agar tetap dapat menerima sedekah dari penguasa.

Partai Demokrat sebagai pemenang pemilu karena propaganda anti- korupsi ternyata tak lebih dari sindikat penyamun serta maling – maling biadab yang terkuak melalui nyanyian sumbang yang memgerikan salah seorang petinggi ( bendahara umum ) Partai Demokrat yang bernama Muhamad Nazaruddin.

Kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ( PDIP ) yang selama mengkampanyekan dirinya sebagai partai wong cilik di bawah koordinasi Panda Nababan juga berbondong – bondong masuk penjara dalam kasus suap dalam pemilihan Deputi Senior Bank Indonesia Miranda Gultom ( disidik KPK dengan kasus gratifikasi bukan suap sehingga kasusnya hanya terputus pada penerima dan pemberi tetap bisa bebas, melenggang dengan jabatan haramnya ) serta dugaan praktek mafia anggaran di DPR – RI yang ujung – ujungnya hanya memperkaya diri sendiri. Partai – partai lain sekarang sedang antri menuju kursi pesakitan sebelum ke penjara

Dengan kenyataan ini, pelan tapi pasti, bangsa ini telah menuju kepunahan budaya, sekarat, merangkak menuju kehancuran. Tak ada lagi yang pantas dibanggakan sebagai bangsa Indonesia selain dari kemegahan masa lalu. Ketika moral dan akhlak masih merupakan suatu nilai luhur yang pantas untuk diperjuangkan ( Kajian Umum )

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Page-level ads only appear on the page when AdSense thinks they'll perform well. Add the following Page-level code to more of your pages to increase the overall performance of ads on mobile. Copy the code below and paste it inside the tag of any page you want to show ads on. Place the same code just once per page, and AdSense takes care of the rest.
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.