Kesombongan Perdana Dalam Sejarah Umat

Kesombongan Perdana Dalam Sejarah Umat. Setiap insan yang dilahirkan pada hakekatnya berada dalam lingkaran kesucian karena itulah fitrah dari kemanusiaan, yang harus di implementasikan dalam bentuk dan tindak – tanduk serta prilaku sehari – hari. Dalam perkembanganya manusia itu selalu menuntut suatu perubahan yang akan menentukan tingkatan – tingkatan yang ada di masyarakat, saling berkompetisi, adu argumentasi dan lain sebagainya yang akan melahirkan apresiasi tertentu dari individu maupun kelompok. Dalam mengarungi lautan kehidupan yang sarat dengan berbagai macam perubahan dan pengaruh baik exsternal maupun internal yang berkonotasi dengan persaingan yang ketat tersebut dalam berbagai bidang dan usaha. Banyak sedikitnya akan mempengaruhi pola pikir, perasaan dan tabiat umat manusia pada umumnya yang tersangkut pada sifat – sifat terpuji ( Akhlakul karimah ) dan sifat tercela ( Akhlakul mazmumah ).

Perbedaan dari tingkat inilah yang akan terus menghiasi alam semesta ini mulai dari Nabi Adam sampai pada Nabi Muhammad Saw turun temurun. Secara keislaman sifat dan tabiat yang telah di sebutkan di atas telah tertuang dengan jelas dan sempurna di dalam Al Quran dan hadis Rasul Saw berikut penafsiranya serta beberapa peristiwa yang di alami umat terdahulu akibat dari kemungkaran mereka sendiri. Salah satu sifat yang termasuk kedalam kategori kemungkaran dari sekian banyak sifat tercela, yang semakin hari semakin membudaya di tengah – tengah masyarakat kita adalah “Kesombongan”. Yang merupakan kemungkaran perdana dari sekian banyak bentuk kemungkaran yang dilakukan umat manusia, yang diwariskan oleh iblis laknatullah.

Seperti firman Allah Swt dalam surat Al Baqarah – 34, ” Dan ingatlah ketika kami berfirman kepada malaikat sujudlah kamu kepada Adam maka sujudlah mereka semua kecuali iblis ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang – orang kafir “. Menyingkapi ayat Al Quran di atas dimana manusia pertama yang di ciptakan Allah adalah Adam dengan segala kesempurnaan fisik, akal pikiran maupun nafsu atau keinginan. Dengan mengunakan empat macam warna tanah di antaranya tanah yang berwarna hitam, putih, merah dan tanah warna campuran. Yang pada intinya akan mencikal bakali sifat dan tabiat manusia melalui empat sampel tanah tersebut.

Di ayat lain surat Al A’raaf – 12 Allah Swt berfirman, yang relevansinya dengan prilaku Iblis. “ Apakah yang menghalangimu untuk sujud pada Adam di waktu aku menyuruhmu ?. Iblis menjawab, Aku lebih baik dari pada Adam, engkau ciptakan aku dari api sedangkan dia engkau ciptakan dari tanah ”. Pada dasarnya apa – apa yang di perintahkan Allah terhadap makhluk harus di jalankan dengan penuh kepatuhan, begitu juga dalam hal larangan harus kita hentikan dengan penuh kesabaran dan tawakal. Karena itulah salah satu bentuk ketaatan makhluk terhadap penciptanya, khususnya umat manusia yang menginginkan kebahagiaan dunia wal akherat kekal dan abadi..

Kalau kita rujukan kembali pada surat Al A’raaf – 12 di atas, akan terrgambar bahwa makhluk Allah yang pertama sekali melakukan kemungkaran dalam sejarah peradapanya adalah Iblis, yaitu kesombongan dikala di suruh sujud pada makhluk Allah lainya yaitu manusia ( Adam ) waktu masih bersama – sama dalam sorga. Iblis dengan kesombonganya membantah perintah Allah tersebut dengan alasan keturunan atau asal, karena menurut Iblis dirinya lebih mulia dari pada Adam, dengan kata lain unsur api lebih mulia di bandingakan dengan unsur tanah. Intinya para pembaca, sorga bukan tempat makhluk yang memiliki sifat mungkar yang salah satunya sombong, seperti yang telah di perbuat Iblis terhadap Nabi Adam yang akibatnya terhadap diri Iblis itu sendiri di keluarkan dari dalam sorga. Jadi, kalau ada manusia yag bersifat sombong terhadap makhluk Allah lainya berarti dia sudah penerima dan pewaris tabiat Iblis dan Setan.

Selain faktor keturunan atau asal, sifat sombong juga bisa muncul dari faktor pangkat, kedudukan maupun jabatan, yang merupakan salah satu amanah dari Allah untuk di pergunakan dan di fungsikan dengan sebaik – baiknya. Berapa banyak sudah pangkat dan kedudukan yang di salah gunakan sebahagian manusia hanya untuk kepentingan pribadi dan golongan sampai muncul kebangaan dan keangkuhan terhadap sesama manusia. Yang juga berimbas pada kerugian negara yang tidak sedikit, akibat penyalahgunaan jabatan di berbagai instansi dan bidang khususnya di negara kita ini. 

I’tibar lain yang bisa di pahami dari manusia yang telah menjadi penerima tongkat estavet pewaris sifat sombong yang di turunkan Iblis adalah Fir’aun. Yang pada awalnya tertulis dalam sejarah ia hanya manusia biasa dan dari keturunan orang biasa, kemudian karena mendapat kedudukan dan pangkat sebagai penguasa negeri Mesir muncul sifat sombong, takabur dan angkuhnya. Sampai – sampai ia mengangkat dirinya sebagai tuhan, selain itu Fir’aun dengan kesombonganya juga mengklaim negeri Mesir dengan segala keindahan dan keelokanya sebagai miliknya, sehingga ia bebas mengembangkan kekuasaanya dengan berbuat seenak perutnya. Dengan membunuh semua bayi laki – laki yang lahir, karena takut kelak akan menghancurkan kekuasaanya, serta perbuatan mungkar lainya yang sangat menyengsarakan rakyatnya kala itu. Seperti yang tertuang dalan Al Quran – 4 yang artinya. 

“Sesunguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang – wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya terbecah – belah dengan menindas segolongan dari mereka, menyemblih anak laki – laki mereka dan membiarkan hidup anak perempuan mereka. Sesunguhnya Fir’aun termasuk orang – orang yang berbuat kerusakan”. Itulah kekejaman dan kesadisan Fir’aun yang di picu oleh sifat sombong, angkuh dan takabur, meskipun demikian tidak ada yang mampu menghalang – halangi kehendak Allah Swt untuk menghancurkan kekuasaan dan kerajaan Fir’aun tersebut

Selain faktor keturunan, pangkat dan kedudukan faktor harta, ilmu dan keterampilan kalau tidak di pergunakan dan mensyukurinya dengan sebaik – baiknya juga bisa melahirkan sifat sombong. Dengan tidak mau menyadari bahwa segala sesuatu itu datang dari Allah, yang dilimpahkan dalam kontek karunia dan rezkinya. Pelaku sombong yang di sebabkan harta dan ilmu ini di ilustrasikan dalam Al Quran seperti kisah Qarun. Dimana Qarun tidak mengakui dan menolak dengan tegas bahwa ilmu dan harta yang di milikinya itu datangnya bukan dari Allah, melainkan dari kerja keras, ilmu dan kepintarannya sehinga dia bisa menjadi seorang konglomerat. Seperti yang di abadikan Allah dalam surat Al Qashash – 78 tentang kesombongan Qarun, dengan mengatakan “ Sesunguhnya harta kekayaan ini adalah karena ilmu yang ada padaku….” 

Ilustrasi Fir’aun dari sifat sombong, angkuh yang lahir akibat buruk dari pangkat, kedudukan dan jabatan yang di sandangnya, yang akhirnya di binasakan Allah dengan di tengelamkan kedasar laut merah beserta para pengikutnya, yang di picu oleh rasa marah untuk menghancurkan petunjuk yang di turunkan melalui Nabi Musa As. Begitu juga Qarun ditengelamkan Allah Swt ke dalam perut bumi beserta harta kekayaanya juga akibat dari kesombongan dan keangkuhannya. Sehingga sampai sekarang berkembang mitos kalau ada yang menemukan harta terpendam, orang menyebutnya dengan harta karun atau harta si Qarun.

Kisah dua anak manusia di atas serta kisah – kisah penyebab kehancuran umat terdahulu hendaknya selalu menjadi pelajaran berharga bagi kita yang hidup di zaman sekarang ini, dengan senantiasa mengambil hikmah dari perilaku buruk tersebut. Dengan mempergunakan dan mengfungsikan dengan sebaik – baiknya segala bentuk amanah, karunia, serta pemberian Allah lainya, yang telah di limpahkan Nya. Kita semua banyak yang menyadari bahwa prilaku sombong, angkuh yang di istilahkan dengan egois, ego akan merusak tatanan dan nilai – nilai kehidupan dalam masyarakat. Tapi sangat di sayangkan prilaku sombong ini seakan – akan sudah membudaya dalam diri sebahagian orang, dengan suka menyebut – nyebut kebaikan, mengangap diri lebih baik, lebih mulia, lebih suci, lebih taat, lebih pandai, tidak memperdulikan kaum duafa lain sebagainya

Kalau gejala sombong terus di pelihara perkembanganya dalam dada dan pikiran kita, tampa ada sedikitpun usaha untuk mengikisnya, bukan mustahil kedepanya akan melahirkan Fir’aun – Fir’aun maupun Qarun – Qarun baru di abad moderenisasi ini, yang akan berimbas pada keburukan dan murka Allah pada umat manusia lainya yang tidak bersalah. Wasalam Penulis adalah Pengamat Sosial Keagamaan, Tinggal Di Padang | Terbit Pada Harian Haluan Pada Hari Jumat Tanggal 16 Sepember 2005 )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Page-level ads only appear on the page when AdSense thinks they'll perform well. Add the following Page-level code to more of your pages to increase the overall performance of ads on mobile. Copy the code below and paste it inside the tag of any page you want to show ads on. Place the same code just once per page, and AdSense takes care of the rest.
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.