Kerja dan Harga Diri

Kerja dan Harga Diri. Allah Swt berfirman ” Sesungguhnya Kami telah menetapkan kamu sekalian dimuka bumi dan Kami adakan bagimu dimuka bumi itu (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur “. ( Qs Al A’raf ayat 10 ). Firman Allah diatas menerangkan bahwa bumi dan isinya ini adalah mutlak milik Allah. Menjadi suatu keharusan pula untuk mengekslorasinya, memanfaatkannya, dan mengolahnya sedemikian rupa, bukan malah sebaliknya, mengeksploitasinya tanpa ada batasan, memusnahkannya, sehingga isi hutan habis dibabat oleh para badut-badut serakah, yang berimbas pada labil bahkan rusaknya ekosistimdari tatanan alam yang sudah ada yang sering membawa semua jenis makhluk hidup pada kesengsaraan akibat longsor.

Banjir bahkan banjir itu datang bukan lagi berbentuk air tok, tapi sudah bercampur dengan lumpur panas yang menenggelamkan mata pencaharian sampai pada pemukiman penduduk diseberang pulau sana. Itulah akibat dari memperturutkan hawa nafsu dan kerakusan manusia, mereka memang benar-benar sudah buta untuk mensyukuri nikmat Allah, bahkan niat untuk melestariakan alam beserta isinya ini tak pernah singgah dalam hati walau sedetikpun.

Sudah kita terima secara sadar bahwa manusia itu diadakan dimuka bumi ini adalah untuk menemukan kebahagiaan bukan hanya didunia ini semata, namun juga harus bisa menemukan kebahagiaan itu untuk negeri akhirat kelak. Saat ini ditengah negeri ini didera krisis multidimensi, bencana alam yang datang silih berganti dsb, sementara para pemimpin tetap asyik dalam menikmati segala fasilitas yang ada. Mungkinkah setiap pribadi kita bisa menemukan kebahagiaan itu ?. Hanya dengan berpangku tangan, banyak berhayal, tiori hanya tinggal tiori dsb, jelas kebahagiaan dan kepuasan lahir bathin mustahil kita dapatkan.

Maka bekerja dengan sungguh-sungguh akan melahirkan harga diri dan nilai ibadah akan bertambah dimata Allah. Begitu juga Allah Swt telah menghamparkan semua yang ada dibumi sebagai lapangan untuk mencari penghidupan (rizki). Oleh karena itu, bertebaranlah dimuka bumi dalam mencari anugerah dari sang pemberi Allah Aza Wajalla.

Al Quran nul karim adalah kitab suci yang hidup danselalu memberikan pencerahan langsung pada umat Islam, harus selalu didayagunakan didalam menemukan jalan yang diridhoi Allah Swt (JG). Didalam kitab suci ini banyak kita temui perintah agar setiap insan selalu mendaya gunakan akalnya untuk kepentingan diri, keluarga , agama maupun masyarakatnya. Tentu hal ini akan bisa dilakukan dengan menerapkan sikap disiplin dan selalu mengunakan waktu yang terbatas ini secara evektif dan evisien. Rasulullah Saw bersabda .” Bahwa siapa yang amal usahanya lebih baik dari hari kemarin maka orang itu termasuk orang yang beruntung, dan jika amal usahanya sama dengan yang kemarin termasuk orang yang rugi, dan jika amal usahanya lebih buruk dari yang kemarin, maka ia termasuk orang yang terkutuk “. ( Hr. Tabrani).

Pernyataan Rasul Saw diatas menganjurkan agar amal dan usaha yang kita lakikan dari hari ke hari harus selalu ditingkatkan, melalui ilmu pengetahuan yang harus selalu dikejar, keterampilan yang harus selalu diasah, kesabaran yang harus ditingkatkan, keuletan, dan melalui semangat kerja yang tinggi. Produktifitas kerja mauppun kualitas amal ibadah sangat tergantung dari hal itu semua. Sehingga usaha didalam memenuhi kebutuhan rohani (amal) dan kebutuhan jasmani dengan sendirinya akan meningkat.

Didalam ajaran Islam selalu menekankan umatnya untuk menbudayakan kerja keras denagn senantiasa meningkatkan kualitas diri (harga diri), yang berorientasikan pada masa depan. Dodalam meealisasikan hal diatas memohon kepada Allah melalui doa dan usaha yang sungguh-sungguh, ikhlaspun tidak kalah pentingnya.

Pada hakekatnya harga diri seseorang akan terangkat apabila setiap pekerjaan yang dikerjakan selalu memberikan hasil yang memuaskan, baik untuk dirinya sendiri, tempat ia bekerja, maupun terhadap relasi, masyarakat, bangsa dan negaranya. Maka, jelas yang membuat harga diri ter dan diinjak-injak orang lain adalah selalu tidak komitmen dalam bekerja, tidak pandai memegang amanah, suka korupsi dan tidak bertanggungjawab.

Dalam perspektif Islam keduluan maupun kekinian, seseorang yang bersusah payah mencari karunia Allah dan hasilnya digunakan sepenuhnya dijalan Allah, maka Allahpun menyamakan derajatnya dengan para mujahid yang berperang dijalan Allah. Seperti yang Beliau Saw sabdakan. ” Sesungguhnya Allah menyukai hamba yang berkarya (kerja) dan terampil. Barang siapa yang bersusah-payah mencari nafkah untuk keluarganya, maka dia serupa dengan seorang mujahid dijalan Allah Swt. ” ( Hr. Ahmad ).

Dan hadis BeliauSaw lagi “Jika ada seseorang yang keluar dari rumah untuk bekerja guna mengusahakan kehidupan anaknya yang masih kecil, maka ia telah berusaha dijalan Allah. Jika ia begerja untuk dirinya sendiri agar tidak sampai meminta-minta pada orang lain, itupun dijalan Allah. Tetapi jika ia bekerja untuk berpamer, membanggakan diri dan penghasilan atau untuk bermegah-megahan. Maka itulah dijalan syaitan atau karena mengikuti jalan Syaitan ” (Hr. Tabrani). Kalau Syaitan dan Iblis sebagai usuh yang nyata bagi manusia khususnya manusia muslim sudah ikut campur dalam hal apapun, jelas semuanya akan berujung pada kesesatan yang nyata.

Bekerja sangat berkorelasi dengan harkat dan martabat manusia, seseorang yang telah bekerja dan bersungguh-sungguh dalam pekerjaanya akan menaikkan harkat, martabat serta kemulianya. Sebaliknya orang yang tidak bekerja alias jadi penganguran, selain kehilangan harkat dan martabat sebagai manusia orang tersebutpun akan mudah terjerumus pada perbuatan hina. Jelasnya bekerja termasuk ibadah, kerja dan ibadah harus diseimbangkan, kerja bukan hanya kebutuhan tapi juga kewajiban. Berpahala jika dilakukan dan berdosa bila ditinggalkan.

Namun begitu, Islam selalu memberikan arahan, tuntunan maupun etika dalam bekerja. Tujuannya agar pekerjaan yang kita lakukan tak hanya mengugurkan kewajiban saja, tapi juga harus berbuah pahala, melahirkan kuantitas, kualitas kerja yang seimbang. (bekerja untuk dunia dan bekerja untuk akhirat).

Citra seorang muslim seharusnya bagai sebatang pohon kelapa yang tidak ada satupun dari stuktur anatominya yang sia-sia, semuanya bermanfaat mulai dari daunnya sampai keakar-akarnya, baik bagi sikaya apalagi bagi simiskin. Sikap hidup seperti ini sudah mulai terkikis dan terdegradasi dari kehidupan masyarakat kekinian, digantikan oleh sikap hidup yang hanya mementingkan diri sendiri, hedonisme bahkan suka menganggap remeh pihak lain dengan mempergunakan sarana dan prasarana umum menjadi milik pribadi dan keluarga dengan seenaknya.

Bekerja dalam konsep Islam merupakan kewajiban atau fardhu. Setiap yang fardhu melahirkan dosa kalau di abaikan apalagi ditinggalkan. Rasul Saw bersabda ” Mencari rizki yang halal itu wajib hukumnya sesudah mengerjakan yang fardhu ( shalat, puasa). ” ( Hr. Tabrani ). Beliau Saw menegaskan bahwa, bekerja itu wajib setelah melakukan suruhan Allah dan jangan sekali – kali meninggalkan yang fardhu karena kesibukan dalam bekerja. Kerja tidak dibengkalaikan, ibadah didahulukan, karean kedua – duanya adalahtermasuk ibadahyang tinggi pahalanya di hadapan Allah. Allah Hu’Allam

(Terbit Pada Harian Haluan Pada Hari Jumat Tanggal 04 M e i 2007, Penulis Adalah Pengamat Sosial Keagamaan, Tinggal di Padang )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.