Kenapa Allah Begitu Murah Hati Kepada Bangsa Indonesia ?

Kenapa Allah Begitu Murah Hati Kepada Bangsa Indonesia ? – Dalam penggalan-penggalan hidup sebelum ini, bisa jadi teramat jarang di antara kita yang menyadari kehadiran Allah dalam setiap persoalan yang dihadapi bangsa ini. Ketahuilah bahwa sesungguhnya bangsa Indonesia termasuk bangsa yang amat dicintai Allah SWT. Karena dalam serangkaian prahara yang nyaris meluluhlantakkan eksistensi republic ini, Allah selalu ”turun tangan” memberikan ”ma’unah-Nya” agar republik ini utuh kembali.

Setelah sekian ratus tahun bangsa ini dijajah oleh imperialis Belanda, karena keberadaan para ”Wali Allah” yang ”muslih li ghoirihi yang menjadi pimpinan masyarakat kecil yang ”saleh”, maka Allah tetap menurunkan ma’unah-Nya agar bangsa ini selamat dan bisa segera mengakhiri penjajahan Belanda. Proses ini melahirkan seorang tokoh bernama Soekarno. Ketika pemerintahan Soekarno terjebak dalam perang ideologis masih saja Allah SWT hadir memberikan jalan konstitusional untuk menyelesaikan persoalan ini

Tetapi ketika prahara peralihan kekuasaan jatuh ke tangan Soeharto. Untuk kesekian kalinya, Allah juga menurunkan ma’unah-Nya. Namun ketika Pak Harto sudah tak berdaya untuk memenuhi kebutuhan pokok bangsa ini, prahara itu kembali datang. Tetapi sekali lagi ma’unah Allah tidak pernah bosan turun untuk menyelesaikan semua persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia. Kenapa? Kenapa Allah bisa begitu bermurah hati kepada kita? Benarkah ini sebuah hal yang kebetulan belaka?

Sesungguhnya, Menurut kacamata para wali, ini semua terjadi karena Allah masih punya agenda besar. Entitas bangsa ini akan selalu utuh kalau di tengah-tengah mereka masih terdapat seorang atau lebih para kekasih Allah yang kita biasa menyebut mereka dengan ”Wali-Wali Allah’‘.

Sekali saja kita menyakiti hati wali-wali ini, maka itu artinya kita sudah ”memaklumatkan perang kepada Allah”. Kalau ini sampai terjadi, maka jangan pernah berharap Allah akan turun lagi untuk memberikan ma’unah-Nya kepada kita. Dalam sebuah riwayat disebutkan, Anas Ibnu Malik yang mendapatkan kisah dari Baginda Rasul dan beliau memperolehnya dari Malaikat Jibril AS, Allah berfirman, ”Man Ahaana Lii Waliyyan Fa Qod Baarozanii Bil Muhaarobah” (Barang siapa menyakiti salah seorang wali-Ku, berarti telah memaklumatkan perang kepada-Ku).

Memang Allah tak pernah bergantung pada tingkat ketaatan seorang hamba kepada-Nya karena Allah akan tetap Maha Besar meski tak ada seorang pun dari manusia yang menyembah-Nya. Kalau ma’unah turun, itu semata karena Allah memenuhi janji-Nya. ”Wa Man Ahbabtuhuu Kuntu Lahuu Sam’an Wa Bashoron Wa Yadaan Wa Muayyadan’‘ (Siapapun yang Aku cintai, maka Aku akan menjadi telinga, mata, tangan dan tiang penopang yang kokoh baginya).

Komunitas yang berasyik masyuk dengan cinta Allah ini, akan selalu hidup tenang dan membuat tenang komunitas lain yang berhubungan dengan komunitas cinta Allah. Karena itulah, kalau ada seorang pemimpin yang mencoba-coba merusak, menjadi orang ketiga, menebar rasa benci, Allah akan langsung ”cemburu” dan akan langsung memberikan pembelaan kepada rakyat yang sungguh mencintai Allah SWT ini. Komunitas semacam ini, jangan pernah diganggu karena advokad mereka adalah Allah Yang Maha Adil dan Maha Perkasa.

Dan bangsa ini akan menjelma menjadi ”negeri thoyyibatun wa robbun ghofuur”, kalau para pemimpin dengan rakyatnya saling mencintai. Dan Allah akan semakin mencurahkan rasa sayang, kalau para pemimpin dan rakyatnya yang saling mencintai juga mencintai Allah SWT.

Kini, menjelang detik-detik pergelaran agenda nasional, ”Intikhoobul Malik” (pemilihan pimpinan nasional) yang akan menyita banyak perhatian serta menyedot tidak sedikit energi bangsa yang sudah teramat tipis ini, kita kembali akan menghadapi persoalan terpenting dalam penggalan kehidupan bangsa ini. Kalau kita sampai salah, sedikit saja dalam menentukan pilihan, maka prahara lanjutan kembali akan menghadang.

Kini, masihkan Allah ”berkenan” turun tangan untuk kesekian kalinya ketika kita dihadapkan pada pilihan yang belum tentu baik dan benar bagi kehidupan bangsa ke depan?

Memang, memilih seorang presiden, tentu bukanlah soal yang mudah karena semakin banyak pilihan semakin luas kesempatan untuk menimbang-nimbang, dan semakin sempit pula pilihan itu menjadi benar dan tepat (Kullu Syay’in Idzaa Ittasa’a Dloqo). Tetapi sebaliknya, kalau pilihan yang disajikan amat terbatas, maka kesulitan bagi bangsa ini juga akan semakin meluas (Kullu Syay’in Idzaa Dloqo Ittasa’a). Karena dua kaidah Ushul Fiqih ini serta karena rumitnya pilihan yang ada, maka ada baiknya bagi kita untuk tidak serta merta memasuki spektrum ini.

Karena itu, kalau kita belum bisa menemukan pemimpin yang mencintai rakyatnya dan mencintai Tuhannya, maka cukuplah bagi kita sebagai rakyat untuk saling mencintai. Sebab, bila dilahirkan seorang pemimpin tetapi tidak menyayangi kita, Allah pasti akan mengganti dengan proses yang tidak pernah kita bayangkan untuk menyelamatkan sebuah bangsa yang saling mencintai dan mencintai Allah SWT. ( disarikan dari tulisan KH A Hasyim Muzadi )

Comments 1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Page-level ads only appear on the page when AdSense thinks they'll perform well. Add the following Page-level code to more of your pages to increase the overall performance of ads on mobile. Copy the code below and paste it inside the tag of any page you want to show ads on. Place the same code just once per page, and AdSense takes care of the rest.
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.