Kami Tidak Toleran Karena Kami Manusia

Kami Tidak Toleran Karena Kami Manusia  –  Membaca dan mencermati rendahnya tingkat toleransi atau tingginya tingkat intoleransi di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama islam seperti yang dirilis sebagi kesimpulan atas hasil survey yang lakukan oleh Lembaga Survei Indonesia ( LSI ) pada tanggal 1 sampai 8 Oktober 2012 lalu dibandingkan dengan hasil survey yang dilakukan pada tahun 2005 yang lalu yaitu :

  • 15,1% umat islam tidak nyaman bertetangga dengan orang yang berbeda agama naik 8,2 % dari 6,9 pada tahun 2005
  • 41,8 % umat islam tidak nyaman bertetangga dengan orang Syiah naik 15,1 % dari 26,7 % pada tahun 2005
  • 46,6 % umat islam tidak nyaman bertetangga dengan orang Ahmadiyah naik 8,5 % dari 38,1%  pada tahun 2005
  • 80,6 % umat islam tidak nyaman bertetangga dengan orang Ahmadiyah naik 15,9 % dari 64,7%  pada tahun 2005

Dari survei tersebut dinyatakan bahwa semakin rendah tingkat pendidikan umat Islam, maka semakin rendah pula tingkat toleransinya demikian pula dengan tingkat pendapatannya. Sedangkan tingkat toleransi terendah diarahkan terhadap komunitas LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, dan Transgender) yang mencapai 80,6 persen.

Artinya, bahwa mayoritas penduduk Indonesia yang beragama Islam lebih nyaman hidup bertetangga dengan orang yang beda agama dari pada hidup bertetangga dengan orang Islam yang berbeda paham agama seperti Syiah atau Ahmadiyah dan lebih – lebih lagi dengan para kaum LGBT ( Lesbian, Gay, Bisexual, dan Transgender ) terutama kaum homoseksual, sehingga, Lembaga Survei Indonesia ( LSI )  menyimpulkan bahwa umat Islam Indonesia sangat tidak toleran

Menarik memang, namun, tanpa membicarakan perolehan persentase angka – angka dari hanya berjumlah 2.000 orang responden yang disurvey atau kurang dari satu per seribu persen ( – 0,001 % ) dari jumlah penduduk atau populasi, maka terlihat bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan dan penghasilan umat Islam berbanding terbalik dengan kesadaran keagamaannya, artinya semikin pintar dan semakin terpelajar serta dan semakin kaya seseorang itu akan cendrung semakin jauh dari nilai – nilai agama.

Kesimpulan ini tentunya sangat mempirihatinkan dan sekali gus merupakan sebuah peringatan kepada kita semua bahwa sekolah dan lembaga pendidikan yang ada saat ini ternyata telah membuat manusia semakin menjauh dari Tuhan dan lebih mengutamakan pencapaian – pencapaian terhadap hal – hal yang bersifat materi . Artinya pendidikan agama yang dilaksanakan di lembaga – lembaga pendidikan di Indonesai terhadap umat Islam sudah dinyatakan gagal total yang diikuti dengan keberhasilan pencapaian para musuh Islam dalam menghancurkan aqidah dan akhlak umat

Dan ironisnya orang – orang bodoh dan miskin yang selama ini dianggap rendah ternyata mempunyai tingkat kepedulian yang lebih baik terhadap kehancuran aqidah adan akhlak generasi mendatang. Ini artinya, orang – orang miskin dan bodoh yang beragama Islam itu lebih menerima hidup bertetangga dengan orang yang beda agama dari pada hidup bertetangga dengan orang Islam yang berbeda paham agama seperti Syiah dan Ahmadiyah. Mereka lebih faham dan lebih sadar akan kebenaran agama Islam. Mereka lebih bisa membedakan bahwa orang yang memiliki pemahaman berbeda dengan alhlulsunnah wal jama’ah ( Syiah dan Ahmadiyah ) adalah sesat dan menyesatkan. Akhirnya, mereka tidak mau hidup bersama dan berdampingan orang – orang yang sesat yang bisa menghancuran generasi setelah mereka dengan kesesatannya

Sedangkan terhadap komunitas LGBT ( Lesbian, Gay, Bisexual, dan Transgender ), orang – orang miskin dan bodoh itu faham betul bahwa kumunitas ini dalah komunitas yang dengan sadar telah mencoba melawan dan menantang kondrat Allah untuk beranak dan berketurunan demi melanjutkan keberadaan species – nya di masa mendatang dan komunitas LGBT ( Lesbian, Gay, Bisexual, dan Transgender ) ini jauh lebih berbahaya dan lebih berpotensi menghancurkan generasi umat manusia di masa mendatang.

Perlu dipahami bahwa aktifitas seksual kaum Homoseksual dan kaum lebianis ini merupakan aktifitas terkutuk dan sangat merendahkan derajat kemuliaan manusia sebagai makhluk. Tidak bisa dibayangkan, bagaimana mereka begitu nyaman dengan aktifitas terkutuk itu, sementara binatang yang derajat kemakhlukannya jauh lebih rendah dari manusia tidak  mau melakukannya. Iblis dan syetan yang merupakan makhluk durhaka dan terkutuk juga tidak mau melakukan itu, sehingga perilaku homoseksual dan lesbian itu kedudukannya jauh lebih rendah dari binatang dan lebih terkutuk dari syetan.

Sementara umat islam yang miskin dan bodoh itu sadar betul bahwa derajat kemanusiaannya sebagai makhluk telah ditinggikan dan dimuliakan Allah melalui Islam sebagai agama tauhid terkahir dan mereka tidak nyaman hidup berdampingan dan bertetangga dengan makhluk yang secara sadar telah merendahkan derajat dan martabatnya sendiri menjadi lebih rendah dari binatang dan lebih terkutuk dari syetan. Jadi, wajar saja “ Kami Tidak Toleran Karena Kami Manusia ” ( kajian umum )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.