Jauhi Si Perusak Amal

Jauhi Si Perusak Amal. “Allah Swt berfirman dalam Qs Al Qiamah ayat 13 – 15 “Dikabarkan ketika itu kepada umat manusia amal perbuatan yang dilakukan dahulu dan yang kemudian, bahkan manusia diangkat menjadi saksi atas dirinya sendiri, sekalipun ia kemukakan berbagai alasan “. Memahami sepotong firman Allah diatas yang berkorelasi dengan amal ibadah manusia maksudnya disini adalah, amal perbuatan yang tidak perlu diungkapkan, dinampakkan atau dipamerkan pada orang lain, selain Allah dan dirinya sendiri yang mengetahui. Karena, dirinya sendirilah nantinya yang berperan sebagai hujjah atau saksi. Maka, kunci utama yang harus selalu dipegang oleh seorang muslim / muslimah adalah beramallah secara jujur, ikhlas dan penuh kesungguhan sebagai pemenuhan tuntutan hati nurani manusia Islam.

Al Quran nul karim dan Sunah Saw, mengabarkan secara gamlang pada umat manusia bahwa hidup didunia ini bukanlah kehidupan yang kekal dan abadi. Hidup yang berarti adalah hidup yang disertai amal, dan amal yang akan diterima adalah amalan seperti yang disebutkan diatas ( jujur, ikhlas dan sungguh – sungguh ). Yang didasari oleh ketaatan yang murni, hanya pada Allah semata, oleh sebab itu ajaran Islam selalu menganjurkan, bahwa setiap amal yang dikerjakan tidak boleh dijadikan sumber keuntungan yang sifatnya pribadi, yang pada akhirnya akan melahirkan sifat – sifat tercela, bahkan durhaka. Sehingga amal kebaikan yang telah susah payah kita kumpulkan menjadi rusak berantakan dan akhirnya gugur. Bagaikan air didaun keladi tidak berbekas sedikitpun, kecuali hanya debu – debu hitam yang diterbangkan angin siap menunggu guyuran air hujan.

Jauh sebelum itu, sebagai umat Islam yang dianugerahi akal dan pikiran oleh Allah Swt, sangat perlu sekali mengetahui mengenai sepak terjang Iblis dan para kroni – kroninya yang menyalurkan segala aspirasinya melalui rohani maupun jasmani manusia. Jelasnya siperusak amal itu sendiri adalah Iblis laknatullah dengan memanfaatkan organ tubuh manusia sebagai wadahnya. Selain itu, hal ini juga menjadi urgent sekali untuk kita ketahui dan untuk menentukan sudah sampai dimana hasil karya ibadah yang telah kita perbuat untuk Allah yang pada akhirnya untuk diri kita sendiri juga. Yang jelas Iblis, setan bersama para kroninya sudah berjanji untuk menjerumuskan semua keturunan Adam kejurang yang terhina, sehina setan dan iblis itu sendiri sampai akhir dunia ini.

Pasukan setan itu sendiri juga memiliki berbagai macam strategi jitu, bekerja siang dan malam, pagi dan sore atas perintah hawa nafsu manusia, masuk yang terkadang tampa kita sadari telah jauh sekali merusak dan mengerogoti amal ibadah kita. Berlindung kita pada Allah dari godaan, gangguan dan bijuk rayu Iblis dan setan.

Telah banyak terjadi beberapa sikap dan prilaku manusia secara kasat mata dipegaruhi oleh musuh terbesar umat islam ini. Hidup yang berlebih – lebihan ( Hedonisme ) misalnya, yang suka mengambur – hamburkan harta dalam situasi dan kondisi yang tidak diperintahkan Allah bahkan tidak bermanfaat sedikitpun pada orang lain, bahkan lebih parah lagi cendrung merusak. Al Quran menjelaskan hukum prilaku seperti ini adalah haram. Hal ini berdasarkan firman Allah Swt dalam Qs Al Isra 26 – 27 “ Dan berikanlah pada keluarga – keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang sedang dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghambur – hamburkan ( hartamu ) secara boros. Sesungguhnya pemboros – pemboros itu adalah saudara – saudara syaitan, dan syaitan itu sangat ingkar pada tuhannya. “

Secara logika pemaboros biasanya cepat menjadi miskin atau fakir dan kalau ini terus berlanjut tidak mustahil akan berubah menjadi kafir yang dalam bahasa Al Quranya disebut Riddah ( Kufur setelah Islam ) atau dalam bahasa sederhananya berpindah kepercayaan atau keyakinan. Qs Al Baqarah – 217 memperjelas akan hal ini “ Barang siapa yang murtad diantara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka itulah yang sia – sia amalannya didunia dan diakhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal didalamya”.

Oleh karena itu sebagai muslim / muslimah yang mengharapkan perjumpaan yang baik dengan khaliknya, jauhi dan hindarilah prilaku boros dan hidup berlebih – lebihan dalam mempergunakan harta, walaupun kita diberikan rizki yang berlebih oleh Allah, dan jangan pula terlalu kikir dan pelit dalam membelanjakannya, Harus ada keseimbangan diantara keduanya, jangan besar pasak dari pada tiang begitu kebayakan orang memberi istilah.

Sederhananya, harta yang dikaruniakan oleh Allah Swt kepada kita hendaknya jangan selalu dihambur – hamburkan untuk hal – hal yang tidak berguna atau tidak ada perintahnya dalam Al Quran maupun Al Hadis Saw, karena perbuatan yang demikian termasuk pemborosan. Sabda Nabi Muhammad Saw “ Rasulullah Saw bertemu dengan Sa’ad pada saat berwudhuk lalu Rasulullah menegur, alangkah borosnya wudhukmu itu wahai Sa’ad !” Sa’ad berkata, ” Apakah dalam berwudhuk ada pemborosan ? Rasulullah Saw bersabda “ Ya meskipun kamu berada ditepi sungai yang mengalir”. ( HR.Ahmad Bin Ibnu Majjah ).

Hadis Rasulullah Saw diatas mengisyaratkan bahwa perbuatan berlebih – lebihan atau prilaku hidup boros bukan saja dalam masalah harta dalam berwudhuk yang banyak airnya sekalipun kita dilarang berlaku boros dan berlebih – lebihan. Selain prilaku boros, si perusak amal yang harus kita jauhi adalah prilaku yang pada saat sekarang ini banyak berjangkit pada diri umat manusia, dialah prilaku bergunjing.

Dalam bahasa agamanya di sebut dengan Gibah yaitu: Membicarakan aib atau cela ( keburukan ) seseorang atau satu pihak kepada orang lain dan menyebarkanya dimuka umum. Prilaku bergunjing atau gibah ini sangat dilarang keras dalam islam, hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Qs Al Hujarat – 12 ” Hai orang – orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa.

Dan janganlah kamu mencari – cari kesalahan orang lain. Dan janganlah sebagian kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ( melalui prilaku bergunjing ), dan tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah pada Allah sesungguhnya Allah maha penerima taubat lagi maha penyayang.

Firman Allah diatas juga didukung oleh Hadis Rasulullah Saw yang sangat mengecam bahkan mengutuk prilaku orang – orang yang suka bergunjing ini. “ Barang siapa mencemarkan kehormatan saudaranya, maka Allah akan mencampakkan kehormatan dirinya, maka Allah akan mencampakkan api neraka jahanam melalui mukanya nanti pada hari pembalasan ( kiamat ) “ ( HR.Tarmizi ).

Oleh karena itu agar amal ibadah kita mendapatkan tempat dan perhitungan yang baik dari Allah Swt, kita harus menjauhi apa – apa yang akan merusak, mengugurkan nilai amal itu sendiri. Apalah gunanya beramal ibadah Shalat, Puasa, Naik Haji, Sedekah dsb, kalau sifat – sifat tercela seperti prilaku hidup Hedonisme, bergunjing, iri, hasad, dengki, merasa diri paling pintar, Ujub, Takabur, Suka menjilat pada atasan demi keuntungan pribadi dan sifat – sifat tercela lainya masih tetap ditumbuh suburkan dalam diri.

Marilah kita sama – sam membuang apa yang akan merusak amalan itu, karena sekecil dan sebesar apapun amalan itu, dinampakan atau disembunyikan kita pasti akan melihatnya dan merasakan sendiri akibat baik atau buruknya. Kelak.

Penutup. Marilah, melalui goresan tinta yang sederhana ini kita sama – sama meningkatkan kesadaran beragama dalam lingkungan kita masing – masing. Sebagai umat Islam kita harus mengikti jejak Rasulullah Saw, yang merupakan tuntutan mutlak bagi kelangsungan hidup dalam membina kemantapan dan kekokohan iman serta kelangengan ibadah kita.

Jangan dijadikan agama Islam ini sekedar rutinitas atau ritual belaka yang tidak meninggalkan manfaat sedikitpun terhadap diri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara ini. Islam itu bukan hanya dilihat dari penampilan atau atribut yang Islami saja, jilbab yang bagus, mahal dan besar, topi haji yang putih berkilat, tasbih yang panjang – panjang jubah yang besar, atau bahkan jengot yang panjang sampai ke pusat.

Tapi, Islam memandang manusia itu dari ketaatan, keikhlasan, kesungguhannya yang selalu menjaga amalanya itu dari apa – apa yang akan merusaknya, dan selalu menjaga hubungannya dengan Allah, sesama manusia maupun dengan alam sekitarnya. Jelasnya umat Islam dimanapun berada pasti akan berhasil dalam segala perjuangannya, yang salah satunya harus selalu menapak tilasi jejak – jejak Rasulullah Saw. Mencontoh sikap dan tindak tanduk beliau.

Agar kontak bathin dalam wujud komunikasi lahiriah antara umat Islam khususnya, pemimpin dan rakyatnya serta para pemimpin dan para ulama akan terwujud dengan baik dan sempurna dibumi pertiwi ini. Yang didukung kesetiaan dalam merealisasikan segala perintah Allah dan Rasul – Nya. Allah Hu A’llam. Berbagai Sumber.

[Terbit Pada Harian Haluan, Pada Tanggal 01 September 2006 Penulis Adalah Pengamat Sosial Keagamaan – Tinggal di Padang ]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.