Istiqamah Dalam Keimanan

Istiqamah dalam keimanan. Setiap insan muslim harus selalu menyadari bahwa umat manusia itu diciptakan Allah kepermukaan bumi ini bukan sebatas untuk menjalani sisi-sisi kehidupan ini saja. Melainkan juga untuk menunaikan tugas-tugas keagamaan secara vertikal maupun horizontal, yang berujung pada mempertanggungjawabkan keberhasilan ( sorga) atau kegagalan ( neraka) . Maka, dari sinilah akan terlahir sebuah potensi alternatif yang menjadi bingkai utama dalam merajut kehidupan ini. Menjadi manusia taat yang memiliki pendirian teguh ( istiqamah) atau malah sebaliknya menjadi manusia yang labil pendirian atau tak berpendirian tergantung kemana arah angin serta suka membelakangi seruan yang datangnya dari Allah Swt. Jelasnya, mau sorga taburkan amal kebaikan, koleksi sifat-sifat terpuji, ambil suri tauladan dari Rasul-Rasul Allah dsb, kalau tidak mulut neraka Jahanam siap mencabik-cabik jiwa kita kelak.

Bersyahadad, adalah syarat utama bagi seseorang dalam membuka pintu keislaman, hal ini bukan sekedar pengakuan dimulut saja, melainkan harus memahami atas pengakuan tersebut. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk merealisasikan pengakuan tersebut diantaranya, dengan penuh komitmen mengisi setiap ruang kehidupan ini dengan nilai-nilai keislaman yang murni, baik dalam kondisi aman apalagi dalam situasi dan kondisi terancam, baik ditengah kegembiraan maupun ditengah cobaan hidup yang datang silih berganti, apalagi disaat kegelisahan yang begitu buasnya seakan menghancurkan segalanya, maupun ditengah dendam kesumat yang tak tertahankan lagi. Allah lebih memuliakan orang miskin yang sabar, tawakal, berkomitmen, konsisten maupun konsekuen ( Islam) , ketimbang orang kaya&berkecukupan yang mendapatkan cobaan maupun ujian, walaupun mereka menetapkan kesabaran, tawakal, komitmen dsb. Namun pada realitanya tidak semua orang yang memiliki pemahaman baik tentang Islam, mampu merealisasikan pemahamannya dalam seluruh sisi kehidupan ini. Malahan yang telah mampu merealisasikannyapun tidak banyak yang sanggup bertahan dalam mengatasi berbagai persoalan hidup yang datang bak deburan ombak menghantam batu karang ini. Tak semua orang mampu mempertahankan komitmennya tsb. Komitmen dalam Islam merupakan satu-satunya jalan dan peluang untuk memurnikan nilai-nilai ketauhidtan seorang hamba. Dalam bahasa Al Qurannya komitmen biasa disebut dengan Istiqamah yang bermakna “tetapkanlah”.

Hal ini telah diserukan Allah dalam firmannya dalam Qs Huud-112 “ Maka tetapkanlah ( istiqamahlah) kamu pada jalan yang benar, sebagai mana diperintahkan kepadamu dan ( juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia maha melihat apa-apa yang kamu kerjakan“. Dari sepotong ayat diatas, secara bahasa istiqamah adalah lawan dari kata Thuqhyan ( penyimpangan atau melampaui batas) . Seseorang dikatakan istiqamah, jika dia sanggup berdiri tegak disuatu tempat ( agama) tampa bergeser sedikitpun, orang yang istiqamah adalah mereka yang mampu bersikap teguh pendirian dan selalu konsisten dan konsekuen dengan sikapnya dan pemikirannya. Tidak terpengaruh dengan segala cobaan, kesusahan, kesulitan dsb, maupun dalam bentuk harta yang berlimpah dalam wujud kesenangan dunia.

Komitmen atau beristiqamah dalam Islam bagaimanapun situasi dan kondisi kehidupan ini, susah maupun senang harus tetap menjadi benteng keimanan seseorang. Hal ini telah dipesankan Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah beliau bersabda “ Berlaku moderatlah ( konsistenlah, istiqamahlah) dalam keyakinan, ketahuilah bahwa sesungguhnya tak ada seorangpun yang selamat dari amalnya. Para sahabat bertanya dan juga engkau yang Rasul Allah ?. Beliau Saw menjawab dan juga aku tidak bakal selamat. Hanya saja Allah telah menyelimutiku dengan rahmat dan anugerahnya “. ( Hr Muslim ) . Dari uraian hadis Saw diatas bahwa istiqamah dalam Islam tidak hanya diperintahkan kepada manusia-manusia muslim/muslimah biasa. Namun juga berlaku dan diharuskan Allah kepada manusia-manusia muslim luar biasa seperti para Nabi dan Rasul Allah.

Jelasnya muslim yang selalu istiqamah sembari selalu bermuhasabah kedalam diri, adalah salah satu jalan untuk mempertahankan dan menghiasi keimanan dan aqidah, berbudi pekerti luhur dalam kondisi apapun. Tak obahnya seperti pohon kelapa yang menjulang tinggi, selalu tegar dalam menghadapi gempuran angin maupun hujan yang datangsiang dan malam, tampa mempengaruhi pada akarnya, ( tegar, kuat, kokoh) . Abu Bakar Ash Shiddiq mengatakan bahwa istiqamah adalah kesucian tauhid, tidak menyekutukan Allah dengan apa dan siapapun. Sedangkan Umar Bin Khatab memberikan komentarnya bahwa istiqamah merupakan suatu komitmen yang harus dimiliki umat Islam untuk melaksanakan perintah Allah, menghentikan segala larangan dalam wujud sifat-sifat tercela seperti menipu, mencuri, korupsi, pungli dsb. Istiqamah, sejajar dengan nilai keikhlasan yang tumbuh dari dalam jiwa dengan memurnikan ketaatan hanya kepada Allah semata, mengekang diri dari segala prilaku yang berbau kemaksiatan, merupakan pendapat dari Ali Bin Abu Thalib.

Bagaimanapun pendapat mereka tentang istiqamah, yang jelas ajaran Islam menekankan pada umatnya untuk setiap saat meningkatkan nilai keimanan dan selalu komitmen dengan keyakinan yang dimiliki. Yakin bahwa hanya Allah sebagai pelindung dari segala yang akan mencelakakan hidup baik didunia maupun diakhirat, yang didorong pula dengan suatu keyakinan bahwa hanya amal ibadah yang ikhlaslah yang akan dibalasi sorga. Berfirman Allah dalam Qs Fushshilat ayat 30-32 “ Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat, didalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh ( pula) apa yang kamu minta. Sebagai hidangan ( bagimu) dari tuhan yang maha pengampun lagi maha penyayang “. Yang diteruskan dalam Qs Al Ahqaf ayat 13-14 yang menjelaskan “ Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan tuhan kami ialah Allah, kemudian dia tetap istiqamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada ( pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni sorga, mereka kekal didalamnya sebagai balasan atas apa yang mereka kerjakan “.

Dua ayat diatas mengambarkan betapa pentingnya memiliki komitmen agama dalam bentuk, beristiqamah yang melahirkan keteguhan dalam pendirian. Sabar dalam berusaha harus dijadikan keseharian dan menyerahkan segala sesuatunya hanya kepada Allah semata ( Tawakal Alallah) . Dalam hal ini Rasulullah Saw memberi jawaban atas pertanyaan seorang sahabat  “ Wahai Rasul Allah, katakanlah kepadaku suatu perkataan dalam Islam yang aku tidak akan bertanya kepada siapapun selain engkau “. Beliau Saw bersabda “ Katakanlah aku hanya beriman hanya kepada Allah semata, kemudian tetapkanlah ( beristiqamahlah, konsistenlah) jangan sekali-kali menyimpang “. ( Hr. Muslim) . Muslim/muslimah yang memiliki komitmen dan selalu konsisten dalam keyakinan Islamnya akan melahirkan nilai-nilai kebenaran, keberanian maupun keteguhanyang dikandung ajaran Islam secara universal didalam seluruh aspek kehidupannya. Oleh karena itu mulai detik ini, bagaimanapun situasi dan kondisi yang ditemui dalam hidup ini jangan pernah berniat untuk lari dari pijakan Islam, karena tidak ada agama yang menjanjikan sorga didunia ini kecuali ajaran dan syariat Islam. Dijelaskan, kalau kita terlalu dilarutkan dalam pencarian harta dunia maka dikhawatirkan urusan akhirat akan tertinggal, tapi kalau kita mendahulukan urusan akhirat dengan segala perintahnya maka Allah yang maha kaya akan memenuhi segala urusan yang berkorelasi dengan keduniawian kita. Istiqamahlah dalam Islam, teguhkan hati dalam merambah jalan menuju ilmu pengetahuan, biasakanlah untuk memberi apa yang bisa diberikan agar hati kita selalu mendapatkan nur Illahi. Orang bijak bilang dengan ilmu Insya Allah hidup kita akan menjadi mudah&terarah dan, dengan Islam membuat hidup kita menjadi berkah dan terlindungi menuju lorong-lorong ketaqwaan. Memang, untuk benar-benar menjadi orang beriman mungkin sulit, tapi lebih sulit lagi beristiqamah didalam keimanan itu sendiri. Allah Hu A’llam. | Berbagai Sumber | Penulis Adalah Pengamat Sosial Keagamaan | Tinggal di Padang | Terbit Pada Harian Haluan Pada Hari Jumat Tanggal 02 Maret 2007

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.