Ingat Mati dan Motivasi Hidup

Ingat Mati dan Motivasi Hidup. Diceritakan dalam suatu hadis “ketika Allah beriradat mencabut roh seseorang mukmin maka, datanglah seorang malaikat maut (Izrail) dari arah mulutnya untuk melaksanakan iradat Allah tadi, lalu keluarlah zikir dan berkata : Tiada jalan bagimu dari arah ini, sebab zikir pada Allah selalu melintasi mulut ini. Maka, malaikat maut berpindah kearah tangan, namun tangan orang mukmin itupun menolak, sebab ia selalu dipakai untuk mengulurkan sedekah, menyayangi anak yatim, menulis ilmu pengetahuan dan mengangkat senjata kemedan juang membela agama Allah. Selanjutnya malaikat maut melirik kakinya, namun apa daya kaki juga menolak, alasanya kaki sering digunakan untuk berjalan menghadiri shalat berjamaah, shalat jumat, pertemuan majelis taklim, wirid malam dsb. Begitu juga telinganya sering dipakai untuk mendengarkan bacaan Al Quran, mendengarkan nasehat-nasehat soal kebaikan dsb. Akhirnya malaikat maut ingin mencabut rohnya dari arah mata, namun mata juga menolak, alasanya selalu dipakai untuk memperhatikan dan mengamati kebesaran Allah, melihat kitab-kitab Allah dan pandangan-pandangan baik lainya. (Duratun Nasihin).

Dari berbagai arah ditubuh orang mukmin yang selalu beramal shaleh dan menetapkan kebaikan, malaikat maut sangat kesulitan untuk mengeluarkan rohnya. Akhirnya Allah memerintahkan malaikat untuk menuliskan asma-Nya ditepak tanganya, untuk diperlihatkan pada roh orang mukmin tsb. Maka, atas kekuasaan Allah yang memiliki roh itu ditambah kecintaan roh itu pada Allah. Maka, ia dapat keluar dari dalam jasad dengan mudah. Begitulah proses kerjanya malaikat maut didalam mencabut nyawa, kalau jasadnya tersebut penuh dengan kebaikan, keshalehan, iman yang mantap dsb. Maka, sipencabut nyawa sekalipun akan kelimpungan untuk memisahkannya dari jasad, memang karena izin Allah jualah segala sesuatu bisa terjadi. Lalu bagaimana dengan orang kafir yang selalu ingkar, munafik bahkan atheis ?. Jelas, Izrafil sangat senang memisahkan roh dengan jasadnya, karena tidak ada halangan yang membuatnya mengadu pada Allah. 

Maut atau kematian, merupakan ketentuan mutlak Allah Aza Wajalla atas semua makhluknya yang bernyawa. Kematian memang menakutkan, meski hanya sekedar untuk dibicarakan. Tetapi justru membicarakan/mendiskusikan perihal kematian dengan segala kondisinya akan memberikan rambu yang sangat kuat, bahkan akan meninggalkan bekas yang sangat mendalam. Tentu dalam hal ini harus dilakukan secara kontiniu dan sungguh-sungguh. Ingat mati sangat besar manfaatnya untuk lebih meningkatkan amal ibadah kita pada Allah dimasa-masa yang akan datang. Secara keislaman bumi dan isinya termasuk roh dan jasad manusia adalah mutlak milik Allah. Maka, disaat yang punya roh tersebut berkeinginan untuk memutasikannya kealam lain, tidak ada dari bangsa maupun golongan manapun yang kuasa untuk menghalanginya, walaupun jasad dan roh tsb diletakan dalam benteng yang kokoh sekalipun. Jadi, tak sepatutnya kita terlalu meratapi dan menangisi apa-apa yang sebenarnya bukan menjadi milik kita. Seharusnya kita sadar dan menangisi, persiapan apa yang telah kita sediakan untuk menyambut sang maut tsb ?. Mengapa setiap kewajiban yang dibebankan Allah untuk kebaikan kita sendiri sering kita abaikan bahkan dengan sengaja kita tinggalkan ?. Pertanyaan inilah yang harus selalu dilontarkan pada diri masing-masing. Jelasya, semuanya ini adalah milik Allah dan pasti akan kembali pada Allah dalam kurun waktu yang sangat dirahasiakan-Nya, baik dalam bentuk kebaikan (sorga) maupun dalam rupa keburukan (neraka). Hidup ini adalah belantara luas, begitu yang sering kita dengar, belantara tempat kita meraih segala keinginan, begitulah keadaan manusia diciptakan mempunyai banyak kehendak yang kesemuanya pada umumnya berpedoman pada suatu keharusan yang diciptakan, harus sukses dalam segala urusan dan bidang, harus bahagia lahir bathin dan harus-harus lainya. 

Sayangnya, betapa banyak orang yang telah sukses, namun lupa bahwa sesungguhnya kesuksesan itu adalah pemberian Allah. Akhirnya kesuksesan dan ketenaran yang didapat itu sering menyeret orang tsb, kejalan yang salah, sombong, takabur, tamak, serakah, bahkan suka berlaku aniaya dan sewenang-wenang. Prilaku seperti ini kalau tumbuh subur dalam hati maka, berbagai bentuk penyelewengan akan tumbuh subur dimana-mana. Padahal Islam sebagai ajaran satu-satunya yang memerintahkan umatnya untuk berlaku tawadu’ dengan selalu menjalin tali persaudaraan diantara umat manusia hari demi hari semakin terabaikan. Rusuh disana-sini, rasa benci yang tak kunjung terkikis, anak marah pada orang tua, orang tua yang tak sudi lagi menerima kahadiran anaknya dsb. Apakah ini yang diajarkan Islam pada kita selama ini ?. Ditambah lagi para pejabat kita semakin disibukan dalam mengurus jabatanya, sementra kepentingan rakyat semakin terabaikan, harga kebutuhan pokok semakin melambung, kemiskinan dan penganguran semakin meningkat dsb. Malah didalam situasi dan kondisi seperti sekarang ini gampang saja bagi pemerintah, mengatakan ini semua diakibatkan oleh berbagai bencana yang terjadi, kok bencana yang dikambing hitamkan, bukankah musibah dan bencana yang diturunkan Allah karena ulah dari manusia bahkan para pejabat itu sendiri ?. Bencana bisa diminimalisir hanya dengan menjauhi segala macam penyebabnya. Tak akan habis-habisnya perdebatan ini kalau setiap diri tidak bersedia merenungi apa yang telah diperbuatnya untuk kelestarian alam ini, mengoreksi diri sendiri dan harus takut hanya kepada Allah semata. 

Takut pada Allah harus sebenar-benarnya takut. Allah berfirman “. Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa (takut) kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati selain dalam keadaan beragama Islam”. (Qs Ali Imran-102). Maka, jelas rasa takut yang amat sangat kepada Allah inilah yang akan melahirkan nilai keimanan dan ketaqwaan yang hakiki. Dzikrul maut sangat besar manfaatnya bagi kita, agar ada pengingat dan penegur diri dikala mulai terjerumus kejalan yang salah dalam mengejar tujuan hidup. Pada keseluruhan tujuan dan tugas hiduplah inilah, setiap diri akan menemukan banyak godaan, rayuan, rintangan maupun halangan. Godaan pertama yang harus selalu diwaspadai datangnya dari golongan Iblis dan Syaitan, yang pada saat ini semakin banyak berbentuk manusia melalui tipuan, rayuan dan omong besarnya. Allah Swt menegaskan”. Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati… (Qs Ali Imran-185). Karena itulah Beliau Saw selalu mengingatkan.” Perbanyaklah mengingat sipenghancur kesenangan (maut). Karena maut itu pasti memisahkan seseorang dari apapun dan dari siapapun yang disenanginya, serta mencampakkan siapa saja kedalam lubang seukuran badan yang gelap gulita.” Penulis, pembaca dan kita semua tampa kecuali, saat ini, sedang menanti giliran menuju lubang sempit dan gelap gulita itu, dan hanya amal shalehlah yang akan sanggup melebarkan dan menerangi jalan kita menuju kehadirat-Nya. 

Intinya, ingat mati sangat penting untuk direnungkan, tetapi sekali-kali jangan sampai tidak mendorong lahirnya motivasi hidup untuk lebih giat lagi dalam hal kebaikan, menyegerakan taubat, menyeringkan istiqfar, menjauhi prilaku tercela dan terus berusaha untuk selalu menaikan poin timbangan amal dalam bidang apa saja sesuai kemampuan. Kalau hal seperti ini sudah bisa diimplementasikan dalam keseharian. Maka manfaat besar berdzikrul maut seperti awal pembicaraan diatas, sudah dapat kita kantongi, sehingga lepasnya roh dari jasad, Insya Allah akan menjadi lancar dan tidak terlalu memilukan. Allah Hu A’llam.Penulis : Pengamat Sosial Keagamaan | Tinggal di Padang | Terbit Pada Harian Haluan Pada Hari Jumat Tanggal 08 Juni 2007 )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Page-level ads only appear on the page when AdSense thinks they'll perform well. Add the following Page-level code to more of your pages to increase the overall performance of ads on mobile. Copy the code below and paste it inside the tag of any page you want to show ads on. Place the same code just once per page, and AdSense takes care of the rest.
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.