Ijtihad dan Kreatifitas Berfikir

Ijtihad dan Kreatifitas Berfikir. Mengunakan pertimbangan akal pikiran dalam hukum atau undang-undang memegang peranan penting,khususnya dalam ajaran Islam. Al Quran menyerukan agar umat manusia selalu mendayagunakan akal pikirannya semaksimal mungkin.

Akal pikiran yang sehat lagi cerdas,akan jadi menuntun jalan untuk mendekatkan diri pada Allah Swt. Sebaliknya orang yang tidak mempergunakan akal pikirannya akan mudah dipengaruhi oleh hal-hal yang buruk,malah Al Quran mengibaratkannya dengan binatang yang bisu,tuli dan dungu.

Benarkah demikian . Coba perhatikan kembali firman Allah yang terdapat dalam Qs Al A’raf ayat 179.” Dan Kami jadikan isi untuk neraka jahanam kebanyakan dari golongan Jin dan Manusia. Mereka mepunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami ( ayat-ayat Allah ) dan mereka mempunyai mata ( tetapi ) tidak pergunakannya untuk melihat ( tanda-tanda kekuasaan Allah ),dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak ddipergunakannya untuk mendengar ( ayat-ayat Allah ). Mereka itu seperti binatang ternak,bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”

Lebih lanjut Al Quran sebagai pedoman hidup umat Islam,tidak menjelaskan secara rinci dan sempurna berbagai aspek dalam kehidupan ini. Tapi ada Al Hadis sebagai pelengkap dan peyempurnanya.

Namun realitanya,masih ada juga beberapa hal dan permasalahan yang mengalami banyak penafsiran. Bahkan,sampai sekarang masih ada persoalan yang tidak ditegaskan secara kuat dan gamlang oleh Al Quran maupun hadis. Akibatnya, munculah perbedaan-perbedaan dan kontroversi di dalam tubuh Islam dan kaum muslimin.

Mulai dari perbedaan pendapat menentukan masuk dan akhir Ramadhan,pro dan kontra pornografi dan pornoaksi sampai pada masalah dan persoalan halal atau haramnya mengkomsumsi suatu barang dan lain sebagainya. Ditambah lagi pihak yang berwenang dalam hal ini para ulama terkesan ragu-ragu bahkan lamban dalam menyelesaikannya sehingga persoalanya berlarut-larut tanpa keputusan yang pasti.

Tidak jarang terjadi setiap keputusan yang telah disahkan dalam menjawab kontroversi yang ada malah ,melahirkan kontroversi baru. Akibatnya masyarakat dibikin bingung dan bertanya – tanya mana yang harus dijalankan. Dalam kasus rokok halal atau haram misalnya.

MUI sebagai badan pemerintahan yang menurus soal keagamaan menetapkan rokok haram kalau dihisap ditempat umum,oleh anak-anak atau wanita hamil. Namun diakhir keputusan larangan merokok versi MUI ini bersifat kompromis dan tidak berlaku pada semua kalangan ( Padek 27 Jan 2009 ). Pertanyaanya, kok mengeluarkan fatwa pakai kompromi segala ?,apalagi masalah halal-haram yang akan berdampak pada perkembangan amal ibadah seseorang.

Lain kagi versi NU,sebagai ormas Islam mengatakan rokok itu makruh ( dianjurkan untuk dihindari ). Sedangkan dilain pihak menjelaskan,setiap unsur yang makruh tidak apa-apa dipergunakan/dikosumsi asal diawali dengan membaca nama Allah ( Bismillahirahmanirahim).

Jelas bagi mereka-mereka yang awam soal keagamaan akan kebingungan,putusan mana yang harus dia jalankan. Belum lagi kerugian yang bakal dialami oleh produksi rokok,pedagang yang mengantungkan hidup dan keluarganya dari jualan rokok dan lain sebagainya.

Mungkinkah dalam keputusan ini ditunggang oleh kepentingan tertentu ?,atau hanya sekedar kumpul-kumpul menghabiskan uang Negara ? Memang disadari satu culture politik yang sampai kini tetap langgeng,guna mengalihkan perhatian masyarakat, pengamat dan para kritikus adalah. Membuat masalah baru didalam masalah lama,dengan harapan masyarakat akan melupakannya dan focus pada masalah baru. Allah Hu A’llam.

Didalam kajian Islam beda pendapat ( Pro dan kontra ) yang terjadi ditengah-tengah umat adalah sesuatu hal yang wajar dan merupakan sunatullah. Bahkan bisa menjadi rahmat yang besar kalau tetap on the track dalam kerangka ukhuwah islamiyah. Dijelaskan hikmah yang terkandung dalam perbedaan tersebut,setiap umat manusia khususnya umat Islam,akan didorong untuk berfikir rasional guna menemukan kebenaran yang hakiki.

Alam semesta dengan segala fenomena-fenomena isinya ini dibentangkan Allah Swt adalah untuk manusia-manusia yang mau mempergunakan akal pikirannya,demi kemaslahatan bersama.” Sesungguhnya dalam penciptaan langit daan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.” ( Qs Ali imran -191).

Al Quran mengakui bahwa wahyu ini merupakan sumber ilmu yang tinggi dari akal,tetapi disamping itu,AlQuran juga menjelaskan bahwa kebenaran ajarannya yang titetapkan oleh wahyu dapat dipertimbangkan oleh akal pikiran manusia. Sebaliknya Al Quran juga meng klaim orang-orang yang tidak mau mendayagunakan akal pikiran dan indra yang lainya sebagai suatu kesesatan.

Dijelaskan adanya perbedaan penafsiran dari hukum Islam yang sudah ada,mewajibkan setiap kaum muslim,khususnya para ulil amri untuk berfikir lebih objektif dan rasional lagi didalam menemukan jalan kebenaran. Didalam usaha ini terdapat sumber hukum lain yaitu Ijtihad. Menurut bahasa kata ini berasal dari fiil madi ( Ijtihada ),bentuk fiil mudari ( yajtahidu ) dan bentuk masdar ( ijtahadan ). Yang bermakna,telah bersungguh-sungguh,mencurahkan tenaga,pikiran dan bekerja semaksimal mungkin.

Sedangkan secara terminologi Ijtihad berarti. Suatau pekerjaan yang mengandalkan segala daya rohani untuk menemukan hukum syara’ atau menyusun suatu pendapat dari suatau persoalan hukum,yang tetap bersumber dari ajaran Al Quran dan Hadis Saw. Namun,kelompok atau lembaga yang menjalankan ini harus berasal dari para alim ulama yang benar-benar paham dan mengerti tentang hukum Islam,sebagai syarat mutlaknya dan tidak di tunggangi oleh kepentingan tertentu.

Banyak keputusan dari para ahli agama dalam menetapkan masalah hukum yang kadang jauh meleset dari hukum resmi (Al Quran dan Sunah ). Hal inilah yang seringkali melahirkan perbedaan,pro dan kontra bahkan pertikaian. Sangat kita harapkan hasil keputusan dari para ahli agama Islam sedapat mungkin tidak melahirkan keragu-raguan dan kebimbangan ditengah-tengah umat yang majemuk ini.

Dijelaskan lebih jauh lagi bahwa ijtihad ini merupakan sumber hukum keempat setelah Al Quran,hadis Saw, dan ijma’. Hal ini berdasarkan Hadis Rasulullah Saw saat akan melepas seorang sabahat beliau Muaz bin Jabal menjadi gubernur kenegeri Yaman. Dari Muaz, bahwasanya Nabi Muhammad Saw. Ketika menyutusnya ke Yaman Berkata. “ Nabi : Bagaimana engkau memutuskan suatu perkara yang dibawa orang kepadamu ?. Muaz. Saya akan memutuskan menurut kitabullah ( Al Quran ). Nabi. Dan jika didalam kitabullah engkau tidak menemukan sesuatu menyangkut soal itu ? Muaz. Jika begitu saya akan memutuskannya berdasarkan sunah Rasulullah. Nabi. Jika engkau tidak menemukannya juga ?. Muaz. Saya akan mempergunakan pertimbangan akal pikiran ( Ijtahidu bira’yi ) tampa ragu-ragu sedikitpun. Habis itu Beliau Saw menjelaskan dengan bersabda.” Maha suci Allah yang memberikan bimbingan kepada utusan (Rasul-Nya) dengan satu sikap yang disetujui Rasulnya.” ( Hr Ad Darimy).

Dari Hadis Rasulullah Diatas jelas mengambarkan arti penting mendayagunakan akal pikiran sebagai kelebihan yang dimiliki manusia. Didalam membuka jalan menemukan kebenaran apabila jalan tersebut secara gamlang tidak terdapat didalam Al Quran dan Hadis yang telah baku tersebut. Sehingga kejelasan dari hasil,pokok persoalan yang jadi kontroversi selama ini tidak simpang siur dan jelas ( haram,halal atau mubah ).

Ijtihad sudah dimulai sejak zaman Rasulullah seperti yang dijelaskan Hadis diatas. Hal ini dikarenakan semua orang tak mungkin menyerahkan tiap-tiap perkara yang muncul kepada Beliau. Setelah Beliau Saw wafat,ijtihad ini lebih luas lagi pengaruhnya. Bahkan dizaman kekhalifahan pernah dibentuk lembaga penasehat yang betugas mengurus segala perkara. Seperti perkara hak asasi umat,aqidah,ibadah,fikih,akhlak sampai pada masalah muamalat yang bersifat insidental.

Islam memberikan penghormatan dan penghargaan yang tinggi terhadap pemikiran yang tercermin dalam ijtihad sebagai sumber hukum pendamping setelah kedua sumber hukum yang disebutkan diatas. Maka ijtihad dan ijma’ berfungsi sebagai pengeraknya. Malah tampa upaya ijtihad dan ijma’ ( kesepakatan para ulama ),kedua sumber hukum Al Quran dan Hadis Rasul Saw tersebut akan lumpuh.

Maka menjadikan ijtihad ini sebagai tambahan sumber hukum Islam sebagai penguat serta memacu dalam kreatifitas berfikir dengan segenap kemampuan yang dimiliki tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Sesungguhnya jalan yang terang dan petunjuk itu secara realita sudah dirangkum Allah sedemikian rupa. Tinggal dari niat masing-masing kita apakah mau direalisasikan dengan benar dan tegas,atau malah sebaliknya,mengorbankan kemaslahatan umat hanya untuk kepentingan sesaat. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu,Kami berikan aturan dan jalan yang terang.” ( Qs Al Maidah – 48 ) Allah Hu A’llam bishowab… [ Penulis : Pengiat Dakwah dan Pemerhati Masalah Sosial keagamaan ]


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Page-level ads only appear on the page when AdSense thinks they'll perform well. Add the following Page-level code to more of your pages to increase the overall performance of ads on mobile. Copy the code below and paste it inside the tag of any page you want to show ads on. Place the same code just once per page, and AdSense takes care of the rest.
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.