Ibadah dan Bekerja

Ibadah dan Bekerja. Berfirman Allah didalam Qs Al Jumuah ayat 9-10 ” Wahai orang-orang yang beriman apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jumat, maka berjalanlah kamu untuk mengingat Allah dan tinggalkanlah perdagangan itu. Demikian itu lebih baik bagimu juka kamu mengetahui. ” Jika shalat itu lelah selesai bertebaranlah kamu dimuka bumi ini dan carilah karunia Allah dan ingatlah kepada Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung “. Hidup adalah suatu perjalanan yang harus dijalani dan dipenuhi sebagai suatu kewajiban atas semua amanah yang dibebankan pada pundak kita masing-masing. Dapat kita saksikan tak sedikit dari manusia yang terlalu dilarutkan oleh pencarian harta dunia, hidup mewah jadi prioritas utamanya (hedonis) harta dijadikan kiblat sebagai mainan mata. Sementara hati ( rohani) yang seharusnya juga diisi dengan keimanan, ketaatan dsb sering kali diabaikan, malah sering ditinggalkan dengan sengaja.

Pada dasarnya manusia itu dapat menilai dan melakukan segala sesuatu dengan baik dan cermat, dan tidak ada kebajikan dalam beribadah dan bekerja maupun dalam mengisi detik demi detik dalam hari-hari kita, kecuali selalu diiringgi dengan bertafakur serta berusaha untuk selalu berada dalam wadah kebaikan. Demikian pula didalam menjalankan ibadah-ibadah yang sudah menjadi perintah dari sang khalik, semuanya harus diiringi dengan pemikiran yang berorientasi kedepan. Hal ini akan dapat diwujudkan dengan selalu memperhatikan secermat mungkin segala tinggkah laku kita dari awal hingga akhir amal ibadah. Ibarat seorang petani yang mengolah kebunnya yang memainkan pemikiranya untuk mendapatkan hasil yang baik dan melimpah. Maka ia harus bekerja dengan penuh hati-hati dan secermat mungkin.

Didalam Qs Al Jumuah ayat 9 dan 10 diatas Allah menjelaskan bahwa apabila diseru untuk melaksanakan perintah-Nya yaitu shalat, maka suatu keharusan untuk meninggalkan segala urusan keduniawian dalam bentuk apapun dan dalam kondisi sesibuk apapun. Segera melaksanakan shalat, zikir, dan berdoa dengan tenang dan penuh kekhusukkan. Rasulullah Saw yang telah dijamin Allah taalla masuk sorgapun masih saja terus berlindung pada-Nya dari keadaan hati yang tidak pernah khusuk dan dari segala ilmu yang tidak bermanfaat. Sebagaimana sabda beliau yang diriwayatkan oleh Zaid Bin Argam ” Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mudari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusuk, dari nafsu yang tidak merasa puas dan dari doa yang tidak dikabulkan serta dari amal ibadah yang tidak diterima “.

Dari sabda Rasulullah Saw diatas terdapat penjelasan bahwa sangat merugi kalau keadaan hati kita tidak pernah khusuk, maka segala ilmu yang ada padanya tidak akan bermanfaat, suaranya tidak didengarkan dan lebih parahnya lagi setiap doanya tidak akan diperkenankan Allah. Karena orang yang bersangkutan menurut perspektif Beliau Saw dalam keadaan lalai dan pikiranya telah dilarutkan oleh kepentingan duniawi semata. Kalau seruan Allah dalam bentuk ibadah shalat sudah kita tunaikan dengan baik, benar, tepat waktu, maka pikiran akan kembali segar, hati akan kembali tenang dan siap untuk melaksanakan kewajiban selanjutnya yaitu berusaha dalam memenuhi kebutuhan akan dunia ini demi anak dan istri. Begitu juga didalam memenuhi hal keduniawi tersebut Allah Swt memerintahkan agar selalu mengingat-Nya sebanyak mungkin. Hal ini bertujuan agar apa-apa yang kita usahakan selalu mendapat berkah dan ridha dari-Nya dan terhindar dari berbagai bentuk kecurangan maupun penyelewengan. Allahlah yang maha mengetahui segala sesuatu baik yang kongkrit maupun yang abstrak ” Al mulgaibi Wal shahadatilazizul hakim “. Yang mengetahui yang gaib dan yang nyata yang maha perkasa lagi maha bijaksana “. ( Qs Al Taghaabun-18).

Didalam beramal ibadah dan bekerja, peran Al Quran dan Sunah Nabi tidak bisa dikesampingkan keberadaannya. Didalam meraih kebahagiaan Islam membimbing umatnya melalui dua pedoman diatas agar selalu melahirkan apa yang disebut keseimbangan, kebalancean yang dalam bahasa Arabnya disebut Tawazun. Sedangkan seseorang yang dalam kesehariannya selalu menyeimbangkan antara dua kepentingan tsb (dunia dan akhirat) disebut Mutawazun yang pada dasarnya sudah menjadi fitrah dari manusia. Dan Allah yang maha penciptapun menjadikan manusia itu selalu dalam keadaan seimbang dan sangat sesuai dengan kebutuhan manusia itu sendiri.untuk menjalankan segala suruhan. Allah tidak pernah memberikan sesuatu baik atau buruk diluar kesanggupan manusia. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah tidak seorangpun yang sanggup menyesatkannnya, dan barang siap yang telah disesatkan-Nya niscaya tidak seorangpun yang akan dapat memberi petunjuk kepadanya.

Pada hakekatnya ruang lingkup ibadah itu sangatlah luas dan tidak terbatas. Oleh karena itu beramal ibadah dalam perspektif Islam harus sesuai dengan kemampuan. Ibadah yang sifatnya wajib bagaimanapun harus dilaksanakan dengan penuh kesadaran dan tanggungjawab yang tinggi, begitu juga yang sifatnya sunah dan segala bentuk kebaikan yang bentuknya anjuran juga sangat baik untuk dilakukan, sebagai pelengkap jikalau ada kekurangan didalam menjalankan kewajiban dalam beramal. Bekerjapun harus disesuaikan dengan kemapuan dan keahlian yang dimiliki dan tidak terlalu memaksakan diri agar didapat hasil yang maksimal. Begitu juga Allah tidak pernah membebani manusia kecuali sesuai dengan kemampuan, seperti yang difirmankan Allah didalam Qs Al Baqarah-286. “

” Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupanya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa) ” Ya tuhan kami janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya tuhan kami janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana yang engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya tuhan kami janganlah Engkau pikiulkan kepada kami apa-apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami, ampunilah kami dan rahmatilah kami Engkaulah penolong kami maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir “.

Penggalan ayat diatas sangat mantap sekali dijadikan pedoman didalam beribadah dan bekerja, yang juga berisikan doa yang mengandung arti eratnya hubungan antara seorang hamba dengan Allah Aza Wajalla, bahkan Rasulullah sendiri sangat menganjurkan agar selalu membaca ayat dan doa diatas selesai melaksanakan shalat dan zikir. Hal ini bertujuan agar apa-apa yang kita usahakan baik untuk Allah (ibadah) maupun untuk keluarga (bekerja) tidak membuahkan hasil yang sia-sia belaka. Kepada Allah jua kita berlindung dari segala sesuatu yang akan mendatangkan mudharat. Allahu A’llam. Berbagai sumber.

Penulis Adalah Pengamat Sosial Keagamaan – Tinggal di Padang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Page-level ads only appear on the page when AdSense thinks they'll perform well. Add the following Page-level code to more of your pages to increase the overall performance of ads on mobile. Copy the code below and paste it inside the tag of any page you want to show ads on. Place the same code just once per page, and AdSense takes care of the rest.
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.