Fastabiqul Khairat

Fastabiqul Khairat. Allah Swt berfirman.” Dan carilah pada apa-apa yang telah dikaruniakan Allah kepadamu, kebahagiaan negeri akhirat dan janganlah kamu lupakan kebahagiaanmu dari (kenikmatan) duniawi. Dan berbuat baiklah kamu kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu membuat kerusakan dibumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Qs Al Qashash-77). Kebahagiaan negeri akhirat adalah keinginan dari kita semua, hal ini tidak akan pernah terwujud dan sulit untuk meraihnya kalau, setiap diri tidak berusaha membuka jalan kearah kenginan tersebut. Allah tidak menyukai dan tidak menyuruh umat manusia memfokuskan diri soal akhirat semata, dengan meninggalkan dan mengesampingkan jatah kenikmatan dan kesenangan hidup didunia ini.. Hendaknya setiap diri harus bisa mempergunakan kenikmatan maupun kesenangan dunia, sebagai kendaraan untuk mendapatkan kebahagiaan negeri akhirat dengan segenap kemampuan yang diberikan-Nya.

Melalui usaha maupun pekerjaan yang kita lakukan dengan sungguh-sungguh, doa, sabar dan tawakal sebagai sandarannya serta selalu saling berkompetisi didalam berbuat kebaikan dsb, adalah satu kendaraan yang paling tepat dan efektif untuk meraih kebahagiaan hidup didunia dan kehidupan negeri akhirat yang abadi. Tapi kalau sebaliknya, suka membuat kerusakan.permusuhan maupun kerusuhan dimana-mana, maka jangan disesali diri akan dikucilkan masyarakat dan sangat dimurkai oleh Allah taalla dengan menurunkan azab dan kutukan-Nya. Maka, hal-hal yang dilarang Allah dan Rasul-Nya harus dihilangkan sedini mungkin, mengantinya dengan berprilaku terpuji dan senang dalam berbuat kebaikan. Saling berkompetisi dan berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan (Fastabiqul Khairat) bermakna, Selalu mentaati dan patuh untuk mengamplikasikan dan merealisasikan segala perintah Allah dan mengekang diri untuk menjauhi larangan-Nya. Kalau dikaji lagi dengan seksama betapa pemurahnya Allah, dimana didalam melaksanakan segala bentuk kewajiban hanya berdasarkan kesanggupan manusia itu. Dalam artian, dikerjakan dengan penuh kesadaran menurut kekuatan fisik, hati maupun pikiran. Sedangkan didalam menghentikan larangan tidak bisa ditawar-tawar (di ago-ago lagi) bagimanapun situasi dan kondisinya harus dihentikan. Kebaikan dalam wujud apapun datangnya dari Allah itu pasti, manusia diberi tugas untuk menyebarkannya. Sedangkan keburukan dengan segala konsekuensinya baik yang tampak maupun yang tersembunyi datangnya dari syaitan, dan itu juga sudah jelas, dan kewajiban manusia harus selalu menjauhinya agar tidak terjerumus lebih jauh lagi kedalam langkah dan tingkah laku dari kehidupan syaitan tersebut.

Berfirman Allah dalam Qs Az Zalzalah ayat 7-8.” Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarahpun, niscaya dia akan melihat balasannya. ‘ Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarahpun, niscaya dia akan melihat balasannya pula.” Ayat diatas dengan jelas mengatakan bahwa dalam bentuk apapun pekerjaan yang dilakukan, baik atau buruk, besar atau kecil Allah pasti akan menurunkan balasannya didunia atau diakhirat nanti. Siapapun dan dari manapun diri kita, tidak akan dapat mengelak sedikitpun didalam proses hisap nanti. Oleh karena itu siapapun dan dari manapun asal kita, kaya atau miskin, laki-laki atau perempuan selama hayat masih dikandung badan, mari kita berlomba-lomba didalam berbuat kebaikan, walaupun berada ditengah-tengah masyarakat atau orang-orang yang sering lalai bahkan ingkar sekalipun, tentu hal ini harus dilakukan dengan cara yang baik menurut syariat, ajaran Islam hanya menghimbau bukan memaksakan. Soal mereka menerima atau tidak itu adalah urusan mereka dengan Allah yang penting jalankan tugas kita yaitu mengajak, mengajak dan terus mengajak.

Pada hakekatnya mengajak pada kebaikan erat kaitanya dengan keimanan, dilain hal juga akan memperkuat tali persaudaraan dan aqidah yang meliputi amal shalehah. Jikalau ada manusia yang mengaku beriman, tetapi enggan beramal shaleh, menutup diri dari masyarakat, sombong dan tidak mau menghimbau atau mengajak orang lain untuk berfastabiqul khairat atau amar ma’ruf nahi mungkar. Maka, orang tersebut menurut ajaran Islam belum bisa dikatakan sebagai seorang muslim/muslimah sejati. Didalam masalah kebaikan ini Rasulullah Saw bersabda.” Setiap gerak persendian manusia adalah sedekah (kebaikan), . Setiap hari dimana matahari terbit, engkau mendamaikan dua orang yang sedang berselisih termasuk sedekah (kebaikan lagi). Perkataan atau ajakan yang baik adalah sedekah, setiap langkah menuju ibadah (shalat), membuang duri atau batu dari jalanan juga sedekah (kebaikan).” Jelas segala kebaikan yang kita perlombakan menurut Rasulullah adalah sedekah, tentu kebaikan yang dilandasi dengan niat yang ikhlas, suci dan murni yang jauh dari unsur ria, ingin dipuji dan jauh dari sifat munafik.

“ Dan bersegeralah kamu pada keampunan dari tuhanmu dan kepada sorga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa.” (Qs Ali Imran-133). Ahmad Musthapa Al Maraghi memberi penjelasan tentang ayat ini. Bahwa setiap umat manusia baik secara pribadi maupun kelompok supaya bersegera meraih ampunan Allah. Salah satu cara terjitu yang ditawarkan Islam yaitu dengan selalu menebarkan kebaikan, bertaubat manakala diri terlanjur melakukan dosa dan kesalahan, dan jangan dibiarkan waktu itu hilang percuma, isilah setiap ruang waktu dengan hal-hal yang bermanfaat, paling tidak bermanfaat dan berguna untuk diri sendiri. Menghisap diri sebelum datangnya hisap Allah sangat baik kita lakukan setiap saat, tentang bagaimana ibadah maupun prilaku kita mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali dsb.

Menurut ajaran Islam yang dikatakan kebaikan sangatlah sederhana sekali yaitu, segala sesuatu dalam artian luas yang dinilai baik oleh Allah dan Rasul-Nya, dan tidak berseberangan dengan Al Quran sebagai pedoman hidup maupun Al Hadis sebagai penguat keyakinan seorang muslim. Kebaikan tidak terbatas slogan semata, dia harus direalisasikan sesegera mungkin. Jangan hanya karena sesuatu, katakanlah jabatan atau kekayaan selalu tebar pesona dan menjanjikan ini dan itunya, setelah terpilih, janji tinggal janji bahkan dosa tinggal dosa. Ingat Pak / Buk janji yang telah dilontarkan adalah hutang yang harus dibayarkan. Burhan An Nasafi menjelaskan ketika Rasulullah Saw diperjalankan Allah dalam Israk Mi’ratnya. Beliau Saw melihat ada tiga macam fersi manusia penghuni sorga.

  1. Para pemimpin yang adil, dan menepati janjinya, suka bersedekah terhadap fakir miskin, diberi kemampuan mentaati perintah Allah dan berlaku adil dalam memutuskan berbagai perkara.
  2. Seorang laki-laki yang penyayang dan memiliki rasa belas kasihan yang tinggi kepada saudaranya sesama muslim.
  3. Orang shaleh yang selalu mengekang diri dari hal-hal yang tidak halal dan tidak berguna dan kecintaannya pada keluarga tidak menjerumuskannya pada hal-hal yang diharamkan Allah, bahkan lebih mencintai Allah dan Rasulnya.” ( Al Hadist).

Pertanyaanya. Sanggupkah diri kita untuk menjauhi hal-hal seperti yang diterangkan Hadis Rasulullah Saw diatas ?, dan sudahkah setiap diri dari umat Islam memperbanyak sedekah dengan berlomba-lomba melakukan kebaikan ?. Atau malah sebaliknya menjadikan perbuatan baik tsb hanya sebagai tameng mendapatkan kesenangan sesaat untuk membuka jalan kemaksiatan dan dosa, maka pertanyakanlah pada diri kita masing-masing ?. Allah Hu A’llam.

Penulis : Pengamat Sosial Keagamaan Tinggal Di Padang | Tulisan ini telah diterbitkan pada Harian Haluan Pada Hari Jumat | Tanggal 10 Agustus 2007 Pada Halaman 05 Kolom Opini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.