Evaluasi Keimanan

Evaluasi Keimanan. Umar bin Khatab pernah berkata.” Kemarilah wahai saudaraku kita menambah keimanan. Muaz bin jabal pernah juga berujar. Duduklah bersama kami, kita memperbaharui keimanan sejenak. Al Qamah bin Qais an Nakhai, seorang tabiin yang wafat tahun 62 H, sering mengajak sahabat – sahabat dekatnya berdiskusi dalam rangka menambah keimanan.

Ajakan dan seruan dari para sahabat Rasulullah Saw diatas, menandakan bahwa iman bagi seorang muslim mempunyai kedudukan tinggi. Oleh karena itu para sahabat tersebut selalu bersungguh – sungguh didalam menjaga keimanan mereka pada Allah Swt. Abdurahman bin amr – al Auza’i, juga pernah ditanyai perihal keimanan ini, apakah bisa bertambah atau bisa berkurang. Beliau menjawab jelas bisa bertambah sampai setinggi gunung, namun juga bisa berkurang sampai habis tak tersisa sedikitpun.

Sedangkan Ahmad bin Hambal, salah seorang tokoh dari empat madzhab menjawab. “ Iman itu bisa melambung tinggi sampai pada langit ketujuh, dan juga bisa berkurang sampai kerak bumi yang ketujuh pula. Iman adalah ucapan atau ikrar serta amal perbuatan, akan selalu mengalami peningkatan apabila engkau mengamalkan kewajiban secara ikhlas dan sungguh – sungguh apa – apa yang diperintahkan Allah dan Rasul – Nya. Namun, iman itu juga bisa turun sampai tak berbekas sedikitpun, jikalau engkau selalu ingkar dan tidak patuh pada apa yang telah diwajibkan atasmu dari Allah dan Rasul – Nya.

Begitulah iman dia akan selalu mengadakan pergerakan. Bertambahnya nilaii iman itu tidak terjadi begitu saja, sebab dan harus dijalankan melalui perintah ibadah yang telah ditetapkan – Nya. Tidak mustahil iman itu bisa mengalami kekosongan , lantaran sebab yang mengakibatkannya kosonh dan habis.

Mempelajari dan mengamalkan beraneka ilmu yang bermanfaat berdasarkan Kitabullah dan Sunah nabi, merupakan jalan satu – satunya yang membuat nilai iman itu menjadi bertambah. Ibnu Rajab al Hambali mendefinisikan ilmu dengan ungkapan.” Ilmu yang bermanfaat adalah selalu mempelajari dengan sungguh – sungguh penuh ketelitian isi kitab Suci Al Quran maupun Hadis sekaligus makna – maknanya. Seperti ibadah yang benar, masalah halal – haram, kezuhudan, masalah hati sampai pada masalah hubungan dengan Allah dan sesama umat manusia plus dengan alam semesta.

Ilmu dan iman sangat erat konotasinya, karena itulah Allah memberi nilai lebih dengan mensejajarkan derajat keduanya, dengan berfirman.” Allah akan meninggikan orang – orang yang beriman diantaramu dan orang – orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah mengetahui apa yang kamu usahakan ( qs al mujadilah : 11 ). Serta Hadis Beliau Saw. ” Barang siapa yang dikehendaki Allah dengan kebaikan, maka Allah akan memfaqihkannya ( menambah ilmu ) dalam perkara agama.” ( Hr Bukhari dan Muslim ).

Firman Allah dan hadis beliau SAW, diatas semakin menguatkan bahwa iman itu selalu bisa ditambah, bahkan selalu ingin diperbaharui dengan terus mengakses ilmu pengetahuan terutama yang berkenaan langsung dengan skala dan grafik keimanan itu sendiri. Sebaliknya, malas dan enggan mengali ilmu pengetahuan khususnya ilmu Islam akan membuat iman itu tidak bergerak sama sekali bahkan bisa berkurang. Akhirnya, lahirlah kebodohan ditengah dunia yang semakin maju, tak mustahil setan akan mudah mengoda untuk menjerumuskan kelembah dosa dan maksiat. Keadaan inilah yang lebih berperan didalam mengerogoti nilai keimanan itu tampa kita sadari.

Terjadinya maksiat dan dosa seringkali berawal dari kebodohan yang diselimuti kabut keingkaran yang selalu dipelihara. Didalam al quran Allah menceritakan kisah kaum Nabi Musa yang mengambarkan kebodohan dan keingkaran pada petunjuk.” Mereka ( Kaum Musa ) berkata.”Wahai Musa, buatkan bagi kami tuhan – tuhan sebagaimana mereka mempunyai tuhan – tuhan.” Musa menjawab.” Sesungguhnya kalian adalah kaum yang benar – benar bodoh.” ( qs al a’raf : 138 ).

Karena itulah Imam ath Thabrani menyebutkan dalam tafsirnya, riwayat dari Abu Ali bahwa ia berkata. “ Setiap dosa dan kemaksiatan sampai pada keingkaran yang dilakukan seseorang, kebodohan dengan selalu ingkar lebih mendominasinya. Abu Qatadah juga memberikan komentar. “ Bahwa sahabat Rasulullah Saw telah bersepakat, setiap perbuatan maksiat dan dosa yang dilakukan baik dengan unsur kesengajaan maupun tidak, disebabkan oleh kebodohan yang selalu dipelihara.

Selain kebodohan sikap suka membangkang dan selalu berpaling dari rahmat Allah yang telah banyak diterima, juga bisa membuat iman seseorang berkurang jauh dilevel yang terendah. Mereka – mereka yang sering diselimuti kelalaian akan lahir dari dalam dirinya penentangan yang keras pada Allah. Ciri dan tanda – tandanya dapat dideteksi diantaranya, telingga yang diberikan – Nya tidak menghiraukan lagi berbagaii seruan kebaikan, dengan bersikap seolah – olah tak mendengar, hatinya mengeras bagai batu kalau diberi arahan soal kebaikan, kesenanganya tidak ingin diusik walaupun seruan itu datangnya dari Allah. Akibatnya, hatinya gampang dipermainkan oleh keadaan dan nafsunya sendiri, sifat iri, dengki, sombongpun akan mencari tempat tersendiri dalam hatinya.

Dijelaskan iman itu ibarat tanaman yang tak mungkin tumbuh diatas tanah yang kering dan tandus, hati yang keras bagai batu ditambah telinga yang tak mau mendengar seruan kebaikan, pikiran yang condong pada keburukan. Sama sekali tak memungkinkan untuk tempat tumbuhnya iman.

Al quran dengan jelas menegaskan bahwa Allah akan mensifati orang – orang yang suka menentangn – Nya, sebagai orang yang paling zalim dan termasuk orang yang berdosa. “ Dan siapakah yang paling zalim dari pada orang yang telah diperingatkan dengan ayat – ayat Rabb – Nya kemudian dia berpaling dari – Nya. Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang – orang yang berdosa.” ( Qs as sajdah : 22 ).

Runtuhnya iman seseorang disebabkan oleh nafsu yang terus digerayangi sifat – sifat setan yang terus mendorongnya melakukan berbagai kejahatan. Ibnu Jauziah dalam kitab Al Jawabul Kaafinya menjelaskan.” Allah menciptakan manusia dengan dua macam nafsu.

  • Pertama. Nafsu amarah, yang cendrung ingin selalu dipuaskan sepuas – puasnya dengan jalan apapun yang terlintas dibenaknya.

  • Kedua adalah nafsu Mutma’inah yang cendrung pada ketenangan dan kedamaian yang akan mendorong pada hal – hal yang ma’ruf.

Lebih jauh Ibnu Jauziah melanjutkan, kedua nafsu diatas tidak akan pernah bisa disatukan. Jika salah satu dari keduanya ringan maka yang satunya lagi akan menjadi berat. Dan jika yang satunya merasakan kenikmatan maka secara otomatis yang satunya lagi merasakan azab. Bagi nafsu amarah tidak ada yang lebih berat dan menyakitkan dari pada menjalankan perintah Allah dengan sungguh – sungguh dengan mengutamakan mardatilah – Nya.

Persis seperti yang digambarkan Rasulullah SAW tentang orang munafik, yang sangat berat dan malas apabila diseru untuk menunaikan shalat subuh dan isya. Kalau mereka tahu rahasia besar yang terdapat dalam dua tiang agama tersebut, mereka pasti mengerjakannya walaupun dengan merangkak. Tapi akibat nafsu duniawi mereka menjadi bodoh sehingga dipermainkan setan.

Selalu disibukan dengan kehidupan duniawi bisa juga menjadi penyebab iman itu berkurang. Isi dunia ini tak akan pernah bisa memuaskan, Ia ibarat air laut semakin diminum maka rasa dahaga akan semakin terasa. Begitulah dikala kecintaan seseorang terhadap dunia membesar, maka kecintaan dan ketaatanya pada Allah akan semakin berkurang. Hatinya gersang dan tandus bagai padang sahara jauh dari cahaya Ilahiyah. Inilah salah satu yang paling dikhawatirkan Rasulullah SAW menimpa umatnya. “ Demi Allah, bukan kefakiran yang aku takutkan atas kalian. Akan tetapi aku takut, dibentangkan dunia atas kalian, sebagaimana dibentangkan kepada orang – orang sebelum kalian. Kemudian kalian berlomba – lomba ( untuk dunia ), sebagai mana mereka berlomba – lomba sehingga dunia membinasakan kalian.” ( Hr Bukhari dan Muslim ) .

Oleh karena itu wahai saudaraku yang seiman apapun profesi kita, marilah kita jauhkan hati dari segala yang akan menggeruk iman, dengan terus mengadakan evaluasi secara terus – menerus. Coba lupakan sejenak urusan keduniawian kita dengan segala permasalahanya yang tak kunjung ada ujungnya ini, duduk tafakur dipintu malam, mengingat – ingat kejahatan apa yang telah kita perbuat kepada sesama manusia dan dosa apa yang telah kita lakukan pada Allah ( Introspeksi diri ). Untuk kembali memulai dengan yang ma’ruf dipintu fajar.

Agar kesempurnaan dapat diraih, seseorang yang beriman hendaknya semakin berharga dihadapan manusia dan dihadapan Allah. Beriman tidak hanya bergantung kepada Allah, tetapi lebih dari itu selalu berusaha untuk mewarisi sifat – sifat Allah dan Rasul – Nya dalam konteks kemanusiaan. Maka mengevaluasi keimanan dalam usaha menambah nilainya ditempat iman itu tumbuh yaitu hati, harus sesegera mungkin dilaksanakan bagi mereka yang mengakui Allah sebagai tuhannya dan Muhammad SAW sebagai utusan Allah untuknya. Yang pasti nilai iman itu bias bertambah bisa juga berkurang bahkan habis. Kepada Allah kita mohon perlindungan dan petunjuk dari hati yang tidak beriman amin… Allah Hu A’llam. [Terbit Pada Harian Umum Singgalang, Pada Tanggal 20 Maret 2009 – Penulis Adalah Pengamat Sosial Keagamaan –  Tinggal di Padang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.