Dzikrul Maut

Dzikrul Maut. “Suatu hari seperti di kutip oleh Syaikh Abdurrahman As – Sinjari dalam Al – Buka’Min Khasyatillah. Nabi Yakub berdialog dengan Malaikat pencabut nyawa, ”Aku inginkan sesuatu hal yang mau tidak mau harus engkau penuhi sebagai tanda persaudaraan kita pinta Nabi Yakub, apakah itu tanya Malaikat maut penasaran, jika ajalku telah dekat beritahulah aku, baik aku akan memenuhinya wahai Nabi Allah sambil berucap, aku akan mengirim tidak hanya satu utusan namun, akan mengirimnya sampai tiga bentuk utusan padamu. Setelah itu ke dua mahkluk Allah itu berpisah.

Hari berganti hari, minggu berganti bulan, bulan pun berganti tahun, tidak terasa telah lama waktu berlalu hingga setelah lama malaikat itu datang kembali. Wahai sahabatku, apakah engkau datang untuk berziarah atau untuk mencabut nyawaku ?, tanya Nabi Yakub Aku datang untuk mencabut nyawamu jawab Malaikat Maut, lalu mana ketiga utusanmu yang pernah kau janjikan padaku ?, sudah duluan kukirim. Putihnya rambutmu setelah hitamnya, lemahnya tubuhmu setelah tegapnya dan membungkuknya tubuhmu setelah kekarnya, itulah utusanku untuk seluruh anak keturunan Adam.

Dari dialog ringan namun sarat makna, antara Nabi Yakub dan Malaikat pencabut nyawa di atas mengambarkan pada setiap jiwa tentang sesuatu hal yang sangat penting yang kedatanganya sulit untuk di prediksi dan di deteksi akal manusia dialah kematian dalam bahasa Quranya di sebut dengan Maut. Kematian tidak hanya milik orang tua atau orang sakit saja ia akan datang menghampiri setiap yang hidup. “ Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati, dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah di sempurnakan pahalamu. Barang siapa di jauhkan dari neraka dan di masukan kedalam sorga sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia ini tidak lain adalah kesenangan yang memperdayakan “. ( Qs Ali Imran – 185 ).

Al Quran Nul Karim dan Hadis Raulullah Saw sangat banyak berbicara tentang alam akherat atau alam barzah ini, kadang kita di bawa kealam itu secara tiba – tiba. Hal ini bertujuan agar umat manusia senantiasa sadar bahwa detik demi detik, hari demi hari serta keringat demi keringat yang mengiringai kelemahan kita, hanya terbagi kedalan dua bagian. Bagian dari tangga menuju Sorga atau bagian dari jalanan yang suram dan licin menuju ke Neraka. Kematian adalah kepergian untuk selama – lamanya sepanjang apapun umur kita, saat penting itu pasti akan datang, berpulang menghadap Allah Swt.

Hidup ini ibarat berhenti sejenak, sekedar meminum seteguk dua teguk air pelepas dahaga yang lara. Maka, tak sepantasnyalah kita terlena akan kelezatan dunia yang penuh tipu daya ini, apalagi sampai melupakan diri kita akan datangnya saat – saat kematian ( maut ) itu. Sangat bijaksana sekali kalau setiap diri mau merenungkan hal ikhwal tentang maut ini. Tentang tahun – tahun yang telah kita tinggalkan bagaimana kita mengisinya dan merencanakan hal – hal yang baik, berguna dan bermanfaat ke depanya demi kepentingan dunia dan akhirat kita. Sambil mencermati segala bentuk perubahan hidup, waktu pagi yang tiba – tiba berganti siang, kondisi sehat yang tiba – tiba berubah sakit atau kondisi dunia yang tahun demi tahun selalu lebih buruk dari tahun sebelumnya. Begitu juga hal – hal yang dekat dengan diri, rambut yang sudah mulai memutih, garis – gari wajah kita yang semakin memperjelas kerutan – kerutanya, gigi yang sudah mulai rontok satu persatu dsb. Selamilah dengan tulus keseluruhan akan diri pribadi kita guna menemukan perubahan – perubahan yang akan menyadarkan bahwa umur kita semakin terus berkurang dan semakin bertambah dekat dengan pintu kubur. Ini bukan mendahului apa yang telah di takdirkan – Nya, tapi begitulah Al Quran menerangkan dengan baik dan sempurna. Kematian memang menyesakan, meski hanya sekedar untuk di perbincangkan, tetapi justru berzikrul maut akan memberikan warning yang sangat kuat dan akan meninggalkan bekas yang sangat mendalam dalam setiap diri. Ia seperti obat bagi si sakit, atau suplemen bagi yang sehat. Mengingat kematian akan memberikan manfaat yang cukup besar, tentu bila di lakukan dengan serius dan sungguh – sungguh.

Berapa banyak orang – orang sukses yang telah berhasil merengkuh apa yang di inginkanya di dunia ini dengan berbagai macam cara dan metode berfikir yang rasional maupun irasional. Namun, tidak terhitung pula jumlahnya yang telah lupa atau melupakan bahwa sejatinya itu semua pemberian Allah. Tidak sedikit keberhasilan, kesuksesan atau apalah namanya, membuat manusia sering lupa diri dan bangga yang berlebih – lebihan ( ujub ) hingga akhirnya berlaku sombong, takabur, suka berprilaku sewenang – wenang. Begitu juga yang namanya kegagalan seringkali orang tidak bisa menerimanya dengan benar. Padahal dimensi tauhid dari kegagalan adalah tidak tercapainya apa yang memang bukan hak kita, kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda begitu kata orang bijak. Berfirman Allah dalam Qs Al Hadiid – 23 “ ( Kami jelaskan yang semua itu ) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa – apa yang di berikan – Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri “.

Kesombongan, takabur, ujub dan lupa diri bukanlah tabiat asli dari mukmin yang sesungguhnya.Umat – umat terdahulu di binasakan Allah kebanyakan menyimpan sifat – sifat tercela ini, dimana mereka sangat mengingkari petunjuk Allah Yang di turukan pada mereka melalui para Nabi sebagai utusan Allah. Sehingga kebanyakan dari mereka terlalu hanyut dengan arus dunia yang begitu kuat ini. Di zaman sekarangpun realita itu sudah semakin memperlihatkan taringnya masing – masing, hilangnya rasa persaudaraan, saling merusak, membunuh saling menuding, hasad, iri dan saling mendengki dan lain sebagainya, semakin hari semakin terasa mencemaskan semua golongan. Moral anak negeri ini sedang di landa krisis seiring krisis multidimensi yang sampai uraian ini di luncurkan belum juga menampakan titik terangnya. Sehingga akan berimbas pada akhlak islam yang semakin hari semakin sulit dalam perealisasianya. Maka, mengingat kematian dengan petunjuk yang benar merupakan obat yang paling ampuh dan mujarab untuk menyembuhkanya. Dzikrul maut, adalah sesuatu yang perlu, guna menumbuhkan daya dorong dalam setiap jiwa untuk terus mengejar dan menaiki tangga – tangga ketaqwaan, memperbanyak amal dengan tidak megesampingkan dunia dalam berkarya dan berbuat untuk nilai – nilai kemanusiaan dengan penuh rasa optimistis. Dalam pranata islam, sesuatu itu di terima Allah sebagai kebaikan / amaliah bila di lakukan dengan ikhlas serta sesuai dengan syareat yang telah di tetapkan – Nya.

Setiap manusia saya, anda dan kita semua mengharapkan perjumpaan dengan Allah Swt dengan akhir hidup yang baik ( Khusnul Khatimah ). Namun, keinginan itu terkadang bertolak belakang dengan apa – apa yang kita kerjakan di atas dunia ini. Kita mengakui bahwa syaitan dan Iblis adalah musuh terbesar manusia muslim sejak dari dulunya, anehnya setiap tingkah lalu kita terkadang justru menyeret kita kelembah kenistaan dengan memperturutkan hawa nafsu duniawi. Kita mengakui bahwa sang maut itu pasti akan datang menjemput tampa di batasi ruang dan waktu, akan tetapi tiada persiapan sedikitpun untuk menyambutnya. Berfirman Allah dalam Qs Al Kahfi – 110 “ Katakanlah bahwa aku ini hanya seorang manusia seperti kamu yang di wahyukan kepadaku bahwa tuhan kamu adalah tuhan yang maha esa, barang siapa yang mengharapkan perjumpaan dengan tuhanya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat pada tuhanya ‘.

Di tengah gemerlap dunia serta penuh dengan tanda tanya ini yang cendrung berisikan kenikmatan sesaat, berzikrul maut ( mengingat mati ) memang sesuatu yang tidak ringan, bahkan untuk sekedar ingat sekalipun namun, tidak pula terlalu memberatkan tergantung niat kita masing – masing. Tapi, sejujurnya, kita harus selalu membiasakan meski setapak demi setapak, sejengkal demi sejengkal, agar kelak akhir hidup yang baik akan mengantarkan kita ke tempat yang di janjikan – Nya. Ali Bin Abi Thalib pernah memberikan wejangan yang relevansinya dengan hal maut ini “ Sebaik – baik amal adalah yang diterima Allah, sebaik – baik bulan adalah di mana engkau bertaubat dengan taubatan yang murni dan sebaik – baik hari adalah di mana engkau meninggalkan dunia ini dalam keadaan iman dan taqwa pada Allah Swt “. Allah Hu a’llam. Berbagai

Terbit Pada Harian Haluan, Pada Tanggal 07 Juli 2006 – Penulis Adalah Pengamat Sosial Keagamaan – Tinggal di Padang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.