Doa dan Perubahan Diri

Doa dan Perubahan Diri“ Berdoalah kepada-Ku dengan merendahkan diri dan dengan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak suka pada orang-orang yang melampaui batas.” (Qs Al A’raaf-55). Allah menyuruh kita untuk bermunajat pada-Nya karena munajat dalam bentuk doa yang tulus dan keluar dari hati yang tulus lagi ikhlas yang mengharapkan keridhaan-Nya semata akan cepat mendapat respon dari Allah. Dijelaskan, berdoa haruslah dengan penuh kerendahan atau tawaduk didalam hal yang diminta dan juga cara memintanya, karena Allah tidak suka sama sekali terhadap orang-orang yang berlebihan dalam segala hal. Pada dasarnya kekuatan doa itu akan jauh lebih efektif ketika kita sanggup merubah perangai,  prilaku maupun sikap kita. Dikatakan,  doa itu ibarat tanaman,  kekuatan untuk merubah diri dan segala sikap hidup dari yang tercela menjadi terpuji itulah yang akan menjadi bibitnya. Sedangkan permohonan yang kita ucapkan ibarat pupuk. Tapi,  kalau kita hanya menaburkan pupuk semata tampa pernah menaburkan bibit,  mustahil hasilnya akan sesuai dengan keinginan kita.

Dari kenyataan hidup yang kita jalani, semakin tampak bahwa semakin hari kita semakin dihadapkan pada berbagai bentuk persoalan yang sepertinya tidak akan pernah ada akhirnya, dimulai dari harga-harga yang terus merambat naik sampai pada tingkah laku dari ank-anak kita yang semakin mengkhawatirkan dsb. Dalam situasi seperti ini tak banyak manusia yang sanggup menghadapinya selain ditenggelamkan kedalam kubangan penderitaan yang sepertinya tak berkesudahan. Memang seakan hidup ini menjadi semakin suram mengapa tidak, menoreh kekanan masalah, melirik kekiri hujatan dan tudingan, lihat kebawah pendapatan hanya cukup makan pagi-sore, sedangkan kebutuhan hidup lainya semakin tak kenal kompromi, yang sangat berpengaruh sekali pada pola pikir kebanyakan manusia. Apakah yang akan kita lakukan ketika kegelisahan seperti diatas sedang berpihak pada kita ?. Apakah bersembunyi dibalik riuh dan ramainya suasana jalanan dengan menjerumuskan diri pada pergaulan bebas yang mengandung kenikmatan sesaat ?, lari pada pil setan, alkohol, main perempuan yang menjadikan diri lupa dalam sekejap masalah yang sedang menunggu ?, atau mungkin mengakhiri hidup dengan jalan pintas bunuh diri seperti kerap diberitakan media, berharap masalah akan selesai sesudah maut ?. Memang masih banyak lagi pikiran-pikiran konyol lagi sesat yang menggerayangi otak setiap anak Adam dikala disudutkan oleh berbagai masalah yang sebenarnya masih dalam koridor kesanggupan manusia itu sendiri

Hal diatas sangat mungkin terlintas dalam benak setiap anak manusia, sebab pada dasarnya manusia itu memang gampang untuk berputus asa. Adalah sesuatu yang sangat naas apabila pikiran konyol diatas sempat kita laksanakan, apalagi kalau kita sudah mulai berprasangka jelek pada Allah. Dalam sebuah kitab yang diceritakan kembali oleh Ibnu Husain yang intinya adalah agar selalu huznuzon terhadap Allah Aza Wajalla atas masalah dan musibah yang dihadapi manusia. “ Demi kemuliaan dan ketinggian kedudukan-Ku diatas Arsy, Aku akan mematahkan semangat dan harapan orang-orang yang berharap kepada selain Aku dengan berbagai kekecewaan. Akan-Ku kenakan padanya pakaian kehinaan dalam pandangan makhluk-Ku. Aku singgkirkan dia dari dekat-Ku, lalu-Ku putuskan hubungan-Ku dengannya. Kenapa manusia itu berharap kepada selain Aku ketika dirinya diselimuti kesulitan ?. Padahal kesulitan dan kemudahan itu berada digenggaman-Ku dan hanya Aku yang dapat mendatangkan dan mengusirnya, kenapa manusia itu selalu berharap pada selain Aku dengan mengetuk pintu-pintu lain, padahal pintu-pintu itu tertutup dan hanya pintu-Ku yang selalu terbuka bagi siapapun yang mau mengetuk dan berdoa serta selalu mematuhi segala perintah-Ku.

Siapakah yang pernah mengharapkan-Ku untuk menghalau segala kesulitan, lalu Aku kecewakan ?, Siapakah yang pernah megharapkan Aku karena dosanya yang besar lalu aku putuskan harapannya ?, siapa pula yang pernah mengetuk pintu-Ku lalu tidak aku bukakan ?. Aku telah mengadakan hubungan langsung antara harapan dan angan-angan seluruh makhluk-Ku, akan tetapi mengapa mereka semua bersandar pada selain Aku ?. Aku telah menyediakan semua harapan hamba-hamba-Ku, tapi mengapa mereka tidak pernah puas dengan perlindungan-Ku dan segala nikmat-Ku ?. Dan Aku telah memenuhi langit-Ku dengan para malaikat yang tiada pernah jemu bertasbih pada-Ku, lalu-Ku perintahkan mereka supaya tidak menutup pintu antara Aku dengan hamba-Ku. Akan tetapi mengapa mereka masih ragu bahkan tidak percaya pada firman-Ku yang diusung oleh para Nabi sebagai utusan-Ku. Tidakah mereka ketahui siapa saja yang ditimpa musibah dan bencana, tiada yang dapat menyingkirkannya kecuali Aku, akan tetapi mengapa-Ku lihat manusia dengan segala angan dan harapan itu selalu berpaling dari-Ku, kenapakah mereka semua sampai tertipu oleh bujuk rayu yang berasal dari musuh-Ku yang ingkar (setan & iblis). Aku telah memberikan rahmat-Ku pada manusia dengan segala kemurahan-Ku, dan ketika itu semua-Ku cabut, lalu mengapa dia tidak memintanya lagi ( Berdoa ) pada-Ku akan tetapi memintanya pada selain aku ?. Tidakkah dunia dan akhirat itu milik-Ku ?, Tidakkah nikmat dan karunia berada ditangan-Ku ?, tidakkah dermawan dan kemurahan sifat-Ku ? dan semua yang mereka terima tidak akan mengurangi sedikitpun akan kekayaan-Ku. Bagaimana mungkin kekayaan yang begitu besar akan berkurang, sedangkan aku selalu mengawasinya. Alangkah celakanya orang-orang yang terputus dari rahmat-Ku, alangkah bodohnya orang yang selalu berlaku maksiat dan tidak mau taat akan perintah-Ku bahkan tak pernah punya rasa malu pada diri-Ku.

Alangkah indahnya untaian dari firman Allah diatas yang mengisyaratkan secara jelas bahwa pertolongan Allah itu amat dekat adanya. Adalah sikap yang sangat bijaksana dan terpuji apabila hari ini dan hari-hari selanjutnya untuk melakukan perubahan diri guna membangun hubungan dengan Allah yang selama ini sempat merenggang bahkan terputus. Mengenang kembali salah dan dosa yang kita lakukan dan bertentangan dengan kehendak Allah dan Rasul-Nya, mengantinya dengan prilaku sehat dan terpuji, ikhlas, tawaduk serta bertawakal hanya kepada-Nya semata. Doa bukan hanya sekedar doa tampa pengamalan, doa hakekatnya adalah suatu cara menuntun kita untuk mengubah diri dan cara hidup. Doa tidaklah seperti lautan mati yang monoton, tidak pula seperti kokohnya batu karang yang menabjubkan, namun doa itu selalu mengadakan pergerakan kearah yang lebih baik dan sempurna, walaupun dalam keadaan yang menyelimuti fitrah kesucian manusia sekalipun, Yang dasarnya adalah perubahan dalam sikap dan cara pandang hidup, baik lahir maupun bathin dari setiap jiwa yang berdoa. Firman Allah dalam Qs Al Baqarah – 186, bisa kita jadikan acuan antara keadaan manusia dengan sang Khalik. “ Dan apabila hamba-Ku bertanya tentang Aku, maka jawablah bahwasanya Aku itu adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang-orang yang berdoa pada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi segala perintah-Ku dan selalu meningkatkan keimanannya pada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” .Memenuhi segala perintah Allah menurut kesanggupan, mengevaluasi diri dengan melihat dan menerima segala kekurangan serta selalu berusaha untuk berpandangan, apa yang seharusnya kita lakukan dalam meningkatkan ibadah kita sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya.

Perubahan diri dan cara pandang seperti inilah yang akan membuat permohonan kita dapat didengar-Nya, yang harus kita camkan serta pelihara dalam hati dan pikiran. Manakala kita punya suatu keinginan maka, pikirkanlah apa yang mesti kita rubah dalam diri dan keseharian kita. Intinya, ketika kita melantunkan doa, yang terpenting bukan diijabahnya atau lenyapnya segala kesulitan hidup karena itu sudah merupakan janji Allah tetapi, yang urgent sekali adalah selalu berusaha untuk meningkatkan kedekatan hati, jiwa, pikiran bahkan seluruh jiwa dan raga kita pada-Nya yang akan melahirkan nilai terbaik dari doa yang kita panjatkan. Serta harus lebih berani lagi dan penuh konsekuen dan selalu istiqamah dalam mengadakan perubahan dari apa-apa yang bisa kita robah kedepannya. Sehingga doa yang kita ucapkan tidak hanya sekedar permohonan yang sia-sia belaka, hal ini dikarenakan beramal dan berdoa hanya ketika diri dan keluarga tertimpa masalah atau musibah, setelah masalah dan musibah pergi amalan dan doa juga pergi dari keseharian kita, amalan tinggal amalan dan doa hanya tinggal kerangka doa yang menunggu konsep selanjutnya. Allahu A’llam

Penulis : Pengamat Sosial Keagamaan | Tinggal Di Padang | Tulisan ini telah diterbitkan pada Harian Haluan Pada Hari Jumat Tanggal 07 September 2007 / 25 Sya’ban 1429 H  Pada Halaman 05 Kolom Opini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.