Demi Masa

Demi Masa. Rasulullah Saw memberikan peringatan pada umat Islam agar tidak mencaci maki waktu karena waktu itu adalah pemberian tuhan. Sebuah ungkapan yang memberikan dasar pemikiran agar setiap muslim mampu merenung dan terjun dalam rangkaian waktu untuk kemudian mengisinya dengan rangkaian prilaku baik/amar makruf. Jangan sia-siakan aset Ilahiyah (waktu dan umur) karena dengan mengisi waktu akan mendayagunakan umur, maka seorang pribadi muslim akan mampu mengukir hidupnya dengan berbagai macam kreatifitas yang berarti. Namun, kalau di lihat dari rangkaian waktu yang berupa masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang atau masa depan. 

Alangkah meruginya manusia yang tidak pandai mempergunakan waktu dalam hidupnya untuk berbuat kebaikan, baik untuk diri sendiri maupun untuk keluarga, masyarakat, agama, nusa dan bangsa ini untuk selalu berusaha berbuat yang terbaik dan di ridhoi Allah Swt menurut kemampuan yang di miliki. Sehubungan dengan hal ini berfirman Allah dalam Qs Al Ashr 1-3 “ Demi masa sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan sehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran”. Sumpah Allah diatas menerangkan bahwa manusia yang tidak dapat/tidak mau mempergunakan masanya (waktunya) dengan sebaik-baiknya maka, di akherat kelak ia akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.

Nyata sudah firman Allah tersebut diatas sudah melanda kehidupan sebahagian besar manusia di zaman serba canggih dan moderen sekarang ini. Kebanyakan dari manusia itu terlalu larut dalam pencarian informasi guna mempercepat akses di segala bidang dan usaha, sehingga waktu untuk Allah pun sering kali terabaikan bahkan di tinggalkan. Padahal Islam megajarkan pada umat manusia khususnya manusia Islam untuk menyeimbangkan antara kebutuhan dunia (bekerja) dengan kebutuhan akherat (ibadah). Merugi, tidak ada manusia yang bermimpi untuk mengalaminya apalagi kerugian/kegagalan itu bersifat abadi. Agar hidup kita tidak selalu merugi seperti yang di firmankan Allah dalan surat Al Ashr di atas, Rasulullah Saw memberikan, untuk kita pergunakan secara baik lima perkara yang di berikan Allah sebelum datang lima perkara lainnya sebagai penghalang.

Pergunakan masa mudamu sebelum datang masa tuamu, pergunakan kayamu sebelum datang miskinmu, pergunakan sehatmu sebelum datang sakitmu, pergunakan senggangmu/lapangmu sebelum datang masa sempit/sibukmu dan pergunakan hidupmu sebelum datang ajalmu. Kelima perkara tersebut di satu pihak menunjukan pada kita akan perubahan kondisi didalam proses berjalannya sang waktu, sebagai peluang untuk berbuat dan menaburkan amal kebaikan. Dan di pihak lain akan hilang/pupusnya peluang tersebut untuk berbuat amal kebaikan.

Demikian pentingnya makna waktu (masa) yang membatasi manusia dalam menjalankan kehidupannya, yang hanya akan memberikan manfaat dan keberuntungan jika, manusia itu tidak bersikap apatis, diam dan menuggu dalam mencari dan menemukan ridho Allah Swt. dengan kata lain keselamatan, kebahagiaan, kesejahteraan dunia dan akhirat bagaimanapun harus di cari secara proaktif dan kreatifitas tinggi yang salah satu bentuk usahanya adalah mempelajari akan ilmunya, juga harus di dorong oleh motivasi kerja yang tinggi di masa muda.” Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang di beri ilmu pengetahuan beberapa derajat “.(Qs Al Mujadalah-11). “Menuntut ilmu itu wajib hukumnya bagi orang Islam laki-laki dan perempuan”. (Hr Ibnu Adi & Baihagi). “ Didiklah jiwamu dengan ilmu yang bermanfaat, maka ia akan mempertinggi derajatmu, sesungguhnya jiwa itu bagaikan kaca dan akal pikiran bagaikan lampunya, sedangkan hikmah (kebijakan) Allah laksana minyaknya. Apabila ia bercahaya, maka dirimu akan menjadi hidup dan apabila ia padam, maka dirimu akan seperti mati”. Informasi ayat Al Quran di dan hadis Rasulullah di atas mengharuskan pada manusia untuk terus mengeksplorasi, mencari dan terus mencari ilmu pengetahuan dan tekhnologi.

Manusia sebagai khalifah (pemimpin) di muka bumi ini harus pula melengkapi dirinya dengan berbagai aneka ilmu yang bermanfaat yang mengarah pada ilmu dunia maupun ilmu akherat. Agar setiap langkah yang kita ayunkan dan setiap nafas yang kita hembuskan selalu terisi dengan hal-hal yang bermanfaat. Demikian pula harus di raih dan di upayakan sedemikian rupa, pada waktu kita di beri kesehatan, waktu senggang, kekayaan bahkan selama di beri-Nya kehidupan untuk selalu berada pada level yang terbaik menurut aturan yang di gariskan agama Islam. Apabila datang lima perkara yang di katakan Rasul Saw, akan sangat banyak hambatan bahkan akan terlambat apabila sang maut datang menjemput. Untuk itu harus di tekankan lagi mengenai usaha mengejar keselamatan dan kebahagiaan negeri akherat, yang harus di tunaikan dengan mengerjakan perintah dan menghentikan larangan Allah Swt, baik dalam keadaan sehat maupun dalam kondisi sakit, sewaktu kaya dan miskin, dalam keadaan senggang dan sempit, sejak muda hingga tua dan sebelum kematian datang mendekap.

Bekerjalah kamu untuk duniamu seolah-olah kamu akan hidup selama-lamanya, dan beribadahlah kamu untuk akheratmu seolah-olah kamu mati esok pagi”. Pernyataan di atas menekankan pada kita untuk selalu ulet, yakin dan sabar dalam berusaha memenuhi kebutuhan dunia / jasmani, materi dengan tetap berlaku sabar dan tawakal penuh pengharapan dalam meraih ridho Allah Swt guna kebutuhan rohani yang muaranya adalah kehidupan negeri akherat. Jelasnya, menyeimbangkan (tawazun) antara bekerja guna memenuhi kebutuhan duniawi dengan beribadah guna memenuhi kebutuhan akherat yang abadi. Allah Swt menciptakan manusia dalam keadaan seimbang dan sesuai dengan kebutuhan manusia itu sendiri untuk hidup dan beribadah pada-Nya. Di dalam Qs Al Jumuah 9-10 Allah berfirman “Wahai orang-orang yang beriman, apabila di seru untuk menunaikan shalat Jumat maka berjalanlah kamu untuk mengingat Allah dan tinggalkanlah perdagangan itu. Demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Maka, apabila shalat itu telah selesai, bertebaranlah kamu di muka bumi ini dan carilah karunia Allah dan ingatlah pada Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung”. Allah Swt menerangkan lewat firmanya di atas bahwa apabila di kumandangkan azan atau perintah untuk beribadah maka, kita wajib/harus meninggalkan urusan atau pekerjaan yang berhubungan dengan urusan duniawi/materi, mengantinya dengan melaksanakan seruan suci (azan) untuk mengingat Allah dengan penuh kesadaran, keikhlasan dan kekhusyukan, inilah yang di namakan dengan Tawazun (seimbang antara bekerja dan beribadah ).

Kalau hal ini di kerjakan dan menjadi prioritas utama yang di kerjakan dengan kesungguhan, ikhlas, doa dan tawakal sebagai pengikatnya oleh setiap pribadi muslim / muslimah, Insya Allah kita tidak akan tercatat kedalam golongan orang-orang yang merugi dengan selalu mengisi setiap lorong waktu yang mengelilingi hidup kita yang di berikan Allah, dan senantiasa mengambil iktibar atau hikmah dari setiap kejadian, bencana maupun musibah di atas dunia ini.

Belajar Dari Lebah. Dalam berbuat suatu kebaikan harus di lakukan dengan niat dan cara-cara yang baik serta memiliki tujuan yang makruf, dalam hal ini tidak ada salahnya kita belajar dari kehidupan lebah. Lebah satu dari sekian banyak makhluk Allah yang tampaknya sederhana namun, memiliki rahasia-rahasia yang amat mengagumkan. Karena kehebatanya itulah lebah (An Nahal) di sebut dalam Al Quran, bahkan di jadikan nama untuk salah satu surat yaitu surat ke 16 ( lihat Qs An Nahal ayat 68-69). Dari kehidupan lebah secara umum kita akan mendapatkan pelajaran yang sangat berharga , lebah sebagai hewan sosial yang hidupnya selalu bergerombol sehingga orang menamakannya masyarakat lebah bahkan kerajaan lebah. Beberapa hikmah yang dapat kita petik dari kehidupan lebah sebagai hewan sosial yang bermasyarakat antara lain semangat mempertahankan diri, semangat kebersamaan, semangat etos kerja yang tidak mengenal lelah, disiplin dan cinta kebaikan.

Lebah selalu mengambil yang baik-baik bahkan harum sari bunga kemudian iapun memberikan yang baik berupa madu yang manis, lezat, harum dan sangat menyehatkan bagi manusia dan mahkluk lainya. Begitupun lebah tidak pernah merusak menyakiti ataupun menyengat bunga-bunga yang di hisapnya. Kita manusia di dalam hal mencari dan menemukan ridho Allah terkadang masih harus belajar dari pola dan sistim pemerintahan/kehidupan lebah, agar waktu yang kita punya tidak terbuang sia-sia… Allah Hu a’llam. Berbagai sumber.

Penulis : Pengamat sosial Keagamaan Tinggal di Padang Telah diterbitkan pada hari Jumat tanggal 02 Juni 2006 di harian Haluan pada halaman 17 Kolom Opini

Comments 1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Page-level ads only appear on the page when AdSense thinks they'll perform well. Add the following Page-level code to more of your pages to increase the overall performance of ads on mobile. Copy the code below and paste it inside the tag of any page you want to show ads on. Place the same code just once per page, and AdSense takes care of the rest.
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.