Cerminan Pribadi Muslim

Cerminan Pribadi Muslim. Pada dasarnya semua umat manusia dipermukaan bumi Allah ini adalah umat yang satu (bersaudara), dari bapak yang satu yaitu Nabi Adam As yang bergelar Abul Basyar (bapaknya semua manusia). Hal ini harus selalu menjadi perhatian bagi umat manusia, khususnya umat Islam dibelahan bumi manapun, hal ini dianjurkan, dalam rangka merajut hubungan dengan Allah (penguasa alam) dan menjalin hubungan dengan sesama umat manusia (pengelola alam). Islam sebagai agama damai yang berpihak pada kedamaian dan kebenaran menjanjikan kehidupan yang bahagia, sejahtera, damai dan sentosa bukan saja didunia ini namun, juga akan dapat dirasakan diakhirat kelak. Tentu, selagi individu antar individu dan kelompok antar kelompok selalu melanggengkan silaturahmi, rasa kebersamaan dan tolong-menolong dalam bingkai Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama muslim) khususnya.

Rasa persaudaraan senasib sepenanggungan dalam Islam erat korelasinya dengan akhlak per individu. Dijelaskan persoalan akhlak adalah hal yang sangat mendesak untuk kembali diperbaharui dalam dada setiap muslim/muslimah. Akhlak menjadi sangat berperan didalam diri umat Islam (baik dan buruk, tercela dan terpuji). Didalam berinteraksi dan bersosialisasi pun Islam memberikan rambu-rambu akhlak. Sebagaimana yang diajarkan Nabi Muhammad Saw, terhadap umatnya. Beliau Saw menyatakan bahwa akhlak itu adalah cerminan pribadi seorang muslim, kalau benda bengkok dikasih cermin mustahil yang didalam cermin tsb itu akan lurus, begitu jugalah sebaliknya. Pada dasarnya muslim/muslimah yang berakhlak terpuji sesungguhnya ia telah menghormati eksistensi dirinya sendiri, akhlak yang tercela yang kadang sudah menjadi budaya tersendiri dalam diri, sebenarnya telah menginjak-injak dan melecehkan akan nilai-nilai karimah yang terpendam dalam diri kita sendiri yang pada dasarnya telah terikat oleh fitrahnya.

Menurut Imam Al Ghazali akhlak itu berarti. Suatu sifat yang telah (ter) tanam dalam jiwa, yang dari padanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah, dalam artian tidak memerlukan pemikiran dan pertimbangan yang rumitlagi. Perbuatan yang dilandasi dengan akhlak terpuji hendaknya dilakukan dengan sesungguhnya, ikhlas karena Allah Swt semata. Dalam artian perbuatan atau tingkah laku yang diimani oleh akhlak terpuji harus timbul dari dalam sanubari setiap insan yang jauh dari unsur paksaan pihak lain. Kalau masih ada paksaan dari pihak lain dan bukan timbul dari sanubari sendiri, itu tandanya anda belum memahami secara serius akan karakter dasar diri anda yang sesungguhnya. Didalam diri manusia sangat banyak terdapat pertentangan (paradok), mensejalankan hati dan pikiran terkadang sulitnya minta ampun, sering kita alami hati dan pikiran yang awalnya telah menyatu (tekad), sering dipisahkan dan dikalahkan oleh keadaan diluar diri kita, apalagi dizaman serba sulit sekarang ini.

Maka untuk tetap berpendirian teguh dan bertahan pada tekad yang bulat didalam menapaki kehidupan ini Allah memerintahkan.”Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali agama Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan. Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara. Dan kamu telah berada ditepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” ( Qs Ali Imran-103).

Pribadi muslim yang tercermin didalam Al-Akhlak, Al-Karimah, Al-Mahmudah adalah, merasa senasib sepenanggungan dalam penderitaan maupun kesenangan, dalam kesukaran, ketertindasan, musibah maupun dalam kekuasaan yang sewenang-wenang. Secara bersama-sama memecahkan berbagai persoalan umat dalam satu ikatan dan pegangan kepada tali agama Allah. Allah Swt menegaskan.” Orang-orang yang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah hanya kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (Qs Al Hujarat-10). Jadilah kamu (sekalian umat manusia) hamba Allah yang bersaudara.” (Hr Muslim). Dan .” Orang mukmin satu dengan mukmin lain itu bagaikanbangunan, sebahagian memperkokoh sebahagian yang lain.” (Hr Bukhari dan Muslim).

Ayat dan hadis Beliau Saw diatas memerintahkan untuk selalu beradadalam kesatupaduan antar sesama makhluk Allah (sesama manusia) khususnya yang mengaku beriman dan bertaqwa pada Allah Swt. Jelasnya, umat Islam dalam situasi dan kondisi apapun harus tetap merupakan satu bagian yang tidak terpisahkan, satu bagian harus bisa merasakan penderitaan dan kesengsaraan bagian yang lain. Manusia khususnya tidak ada yang sempurna, diantara kelebihan yang dimiliki pasti terselip berbagai bentuk kekurangan, dan kekurangan yang ada diantara umat Islam maka, kewajiban bersamalah untuk menyempurnakannya. Kalau hal ini sampai diabaikan maka yang akan timbul adalah saling mengejek, mengolok-olok, saling dengki, iri, hasad, sombong sampai pada membangga-banggakan kelebihan masing-masing dan sifat ini bukanlah cerminan pribadi muslim, yang selalu membantah akan seruan Nabi .” Tidak beriman seseorang diantara kamu sehingga dia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.” (Hr Bukhari).

Perlu menjadi renungan kita untuk terus memahami akan pentingnya menjaga amal ibadah kita pada Allah melalui berbagai bentuk pengamalan dari rukun Islam maupun rukun Iman yang telah ditetapkan-Nya. Menurut perspektif Islam orang yang cerdas adalah mereka yang selalu mengintrospeksi dirinya sendiri dan menghisab dirinya sebelum hisab yang sesungguhnya memaksanya untuk berdiri dihadapan Allah kelak. Namun, dijelaskan persiapan tersebut bukan hanya melalui ibadah shalat, zakat, maupun haji saja, melainkan juga dengan membudayakan Akhlah Al-Karimah yang ditunjukan dalam berinteraksi antar sesama manusia. Ingat bahwa pahala ketaatan yang telah dibangun didunia tampa kita sadari akan habis terbuang kegot kesia-siaan akhirat, karena masih dibumbui oleh akhlak dan prilaku tercela ( Al-Akhlak Al –Mazmumah ). Tidak pantas bagi umat Islam yang gemar kemasjid, gemar berpuasa (senin-kamis) apalagi sudah berstatus haji/hajah, dai, uztad atau apalah istilahnya, melakukan tindakan yang masuk kategori kurang ajar dan melepaskan perkataan yang sembrono dan cendrung menghina dan mengejek terhadap saudaranya sesama muslim.

Telah bersabda Rasulullah Saw .” Muslim yang terbaik adalah mereka (yang muslim lainya) selamat (merasa aman) dari gangguan lisan dan tangannya.” (Hr Bukhari dan Muslim). Kutipan hadis beliau Saw diatas dapat kita ambil maknanya, bahwa bukan termasuk kedalam wadah umat terbaik jika seorang muslim gemar melakukan hal-hal yang tercela dan menyakitkan baik fisik maupun bathin saudaranya yang seiman. Bahkan keberadaanya dalam satu lingkungan sering membawa pertentangan dan perselisihan yang akhirnya membuat muslim lainya tidak merasa aman dan nyaman karena ulahnya. Karena dari itu mulailah dari sekarang untuk melakukan hal-hal yang terpuji, berkata dengan sopan santun dan penuh kelembutan, menjauhi prilaku syaitan (sombong) dsb. Karena cerminan pribadi muslim yang sesungguhnya akan terpancar dari sikap dan prilaku sehari-hari baik terhadap Allah, sesama manusia maupun terhadap makhluk Allah lainya. Allah Hu A’llam. ( Terbit Pada Harian Haluan Pada Hari Jumat Tanggal 07 Desember 2007 | Penulis Adalah Pengamat Sosial Keagamaan | Tinggal di Padang )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Page-level ads only appear on the page when AdSense thinks they'll perform well. Add the following Page-level code to more of your pages to increase the overall performance of ads on mobile. Copy the code below and paste it inside the tag of any page you want to show ads on. Place the same code just once per page, and AdSense takes care of the rest.
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.