Buktikanlah Janji Yang Pernah Dilontarkan

Buktikanlah Janji Yang Pernah Dilontarkan. Sejak manusia ditiupka roh kedalam kandungan sang bunda,sejak itu pulalah segala kebaikan, rahmat dan hidayah Allah Swt mengiringi hari-hari sang cabang bayi.  Setelah lahir menghirup udara dunia kasih sayang Allah tak pernah berhenti ia dapatkan bahkan sampai akhir hayatpun segala nikmat yang terangkum dalam kebaikan sang maha pemberi Allah Swt akan dirasakan rasakan.

Kebaikan adalah fitrah manusia, perhatikanlah seorang bayi yang baru lahir kecil, lucu dan imut membuat siapa saja merasa kagum. Begitu juga dengan sang ibu sangat mengharapkan anaknya kelak menjadi anak yang berbakti dan patuh pada kedua orang tuanya serta selalu menjadi panutan kebaikan bagi lingkungannya.

Harapan ini  menandaan bahwa kebaikan itu akan menyenangkan setiap orang yang melihat, melakukan maupun yang merasakannya. Hari terus bergulir,bulanpun berganti tahun,kini sibayi kecil, lucu dan imut telah beranjak dewasa,diapun akan hidup dengan dunianya mencari jati dirinya ditengah pengaruh baik dan buruk hidup dikemudian hari.

Beranjak dari harapan sang ibu diatas yang menginginkan anaknya selalu berada dalam kebaikan untuk meraih ridha Allah Swt. Dijelaskan bahwa siapa saja yang telah meramu kebaikan sedemikian rupa pastilah dia akan mendapatkan kebaikan yang lebih dari ramuan sebelumnya. Dan siapa saja yang menanam keburukan pastilah dia kelak akan menuai keburukan yang lebih arah dari sebelumnya.

Itulah kebaikan yang tidak akan pernah bisa disatukan dengan keburukan. Lalu apakah yang dimaksud dengan kebaikan itu ?. Berpuluh-puluh tahun para filsuf khususnya dari cabang ilmu filsafat analisis bahasa beradu argumentasi perihal kebaikan ini. Namun, sampai sekarang belum seratus persen dari pertanyaan ini mampu mereka jawab.

Perhatikan kaum hedonis yang selalu mengartikan kebaikan itu sebagai hal yang harus mereka dapatkan,mereka memberi komentar bahwa kebaikan itu adalah segala hal ikhwal yang menyenangkan khusus dan terutama sekali terhadap diri dan keluarganya semata. Lain halnya dengan kelompok revivalis mereka memberi masukan perihal kebaikan yaitu segala sesuatu yang bersifat new alias baru,luas maupun tinggi. Dan salah satu yang menjadi pendapat mayoritas adalah komentar dari kaum agamawan maupun rohaniwan.

Mereka berpendapat bahwa suatu perbuatan yang masuk kategori kebaikan  adalah segala sesuatu yang mengacu pada kehendak tuhan. Yang berorientasi pada balasan spiritualitas serta ilahiyah. Lalu perbuatan seperti apa yang dimaksud tuhan dengan kebaikan itu ?, apakah kebaikan yang bersifat permanen dan tidak berubah serta memiliki standar tertentu pada waktu dan tempat yang berbeda ?.

Tak ada jawaban yang memuaskan tentang hal ini, realita kebaikan tidak akan pernah bisa diterjemahkan dan diukur, karena kebaikan itu tidak terdiri dari bagian -bagian  atau lapisan – lapisan tertentu yang bisa dipilah satu-persatu dan dikuliti lembar demi lembar. Sederhananya, kebaikan itu tidak akan pernah bisa didefinisikan seratus persen, karena yang namanya kebaikan itu tidaklah diam dan monoton. Namun,dia akan selalu berubah serta memiliki pola dan komposisi yang tak terhitung.

Satu perbuatan baik ditempat dan waktu yang berbeda, bisa berarti sama sekali tidak baik dalam situasi maupun kondisi lainnya, baik bagi diri belum tentu baik bagi orang lain. Buruk bagi kita belum tentu buruk dimata oran lain apalagi dimata Allah Perihal ini dalam Al Quran telah dirumuskan dengan sempurna,  Qs  Al Baqarah ayat 216 “ Di wajibkan atas kamu berperang, padahal perang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk untukmu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”

Meski ayat diatas berbicara tentang perang, sesungguhnya apa yang Allah telah jabarkan manunjukan sifat umum manusia, yang akan selalu berada dalam posisi tarik menarik.  Dan hanya Allahlah yang paling mengetahui segala kebaikan mutlak dan semua keburukan absolut.

Yang jelas ajaran Islam selalu berpedoman pada kitab suci Al Quran dan Hadis Rasulullah Saw menetapkan pokok-pokok kebaikan itu secara jelas dan terperinci. Yaitu kebaikan yang dapat memberikan manfaat baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain yang mencakup kemaslahatan orang banyak. Semua orang mendapat manfaat dari kebaikan yang ia perbuat, semua orang bisa tertolong, semua akan ridha serta semua orang akan senang dan tenang terhindar dari keresahan.

Tapi,kebaikan itu tidak hanya sekedar himbauan dan ajakan yang dilantunkan dari atas mimbar maupun dari atas panggung melalui pengeras suara saja. Kebaikan itu harus direalisasikan dan diamalkan serta harus juga diwariskan pada  generasi penerus. Kebaikan bukan pelengkap dan pemanis mulut disaat meinginkan jabatan saja. Kebaikan itu harus nyata adanya apalagi bagi seorang calon pemimpin. Disaat telah terpilih jangan pernah mengabaikan janji-janji yang pernah diucapkan amplikasikanlah janji-janji itu sesuai dengan keahlian dan ilmu yang dipunyai. Rakyat tak ingin terus – terusan disuguhi janji-janji semu dari sang pemimpin, rakyat ingin bukti bukan janji maka tepatilah janji – janji yang pernah dilontarkan dulu… [Penulis : Penggiat Dakwah dan Pemerhati Masalah Sosial }

Buktikanlah Janji Yang Pernah Dilontarkan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Page-level ads only appear on the page when AdSense thinks they'll perform well. Add the following Page-level code to more of your pages to increase the overall performance of ads on mobile. Copy the code below and paste it inside the tag of any page you want to show ads on. Place the same code just once per page, and AdSense takes care of the rest.
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.