Kedudukan Rasulullah SAW dalam Ayat Salawat

Kedudukan Rasulullah SAW dalam Ayat Salawat. Setelah kita mencoba memahami  Hikmah dan Keutamaan Shalawat Bagi Manusia pada kajian yang lalu, maka pada kajian ini kita akan mencoba melanjutkan bahasan dalam category “ kajian salawat dalam blog “ Kajian Hakikat Tauhid “ ini dengan mengangkat pokok bahasan tentang “ Kedudukan Rasulullah SAW dalam Ayat Salawat.

Sesungguhnya telah terjadi perbedaan pendapat dari para Ushul Fiqih‘ nabi ‘ dalam ayat salawat tersebut, Apakah bermakna atau bermaksud Rasulullah Muhammad SAW ataukah bukan ?

Sebelum kita mencoba membahas dan memahami persoalan tersebut, sebelumnya marilah kita mecoba memahami kembali hakikat dari pemakaian kata ‘ nabi ‘ dalam ayat salawat yang merupakan sandaran utama dalam kajian hakiat salawat ini “ Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersalawat untuk nabi, Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya “

Dalam ayat tersebut Allah SWT memakai kata ‘ nabi ‘ dan tidak menyebut langsung nama Muhammad, padahal biasanya setiap kali Allah SWT menceritakan atau menyebutkan salah seorang nabi–Nya, Allah SWT pasti menyebut nama nabi yang bersangkutan.

“ Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan nabi Ini (Muhammad), beserta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah pelindung semua orang-orang yang beriman “ ( QS : 003 : Ali ‘Imran : Ayat 068 )

Sedangkan Dalam ayat salawat ini, Allah SWT tidak menyebut satu pun nama nabi. Dari disinilah sesungguhnya awal perbedaan pendapat para Ushul Fiqih itu dimulai.

Nabi atau kata ‘ nabi ‘ merupakan nama jabatan yang diberikan Allah kepada orang – orang terpilih dan dipilih Allah SWT untuk menerima wahyu dan para nabi ini tidak diberikan kewajiban untuk menyampaikan wahyu yang diberikan Allah tersebut kepada umatnya. Berbeda dengan Rasul yang juga merupakan nama jabatan untuk orang – orang yang terpilih dan dipilih Allah SWT untuk menerima wahyu dan disertai dengan kewajiban atau perintah untuk meyampaikan seluruh wahyu tersebut kepada seluruh umatnya.

Jadi, setiap rasul sudah pasti adalah seorang nabi dan seorang nabi belum tentu seorang rasul, sehingga dari sisi jumlah, maka  jumlah nabi jauh lebih banyak dari pada jumlah rasul dan sebutan untuk rasul cendrung dipertegas dengan sebutan nabi dan rasul. Dalam I’tiqat Ahlul sunnah wal Jamaah atau sunny di fahami bahwa nabi dan rasul yang wajib diimani itu berjumlah 25 nabi dan rasul yang dimulain dari Nabi Adam AS dan diakhiri dengan nabi terakhir, penutup segala nabi dan rasul, tidak ada lagi nabi dan atau rasul yang diutus setelah beliau baik dengan atau tanpa risalah wahyu yaitu Nabi besar  Muhammad SAW.

Selain itu, dengan melihat dari asal katanya. Kata ‘ nabi ‘ berasal dari kata ‘ naba’a ‘ yang berarti “ yang memberi kabar “. Seharusnya kata nabi diakhiri dengan hamzah sehingga dibaca nabi’un, tapi dalam kenyaannya tidak demikian.

Menurut Zamakhsyari, hal ini menunjukkan kemuliaaan dan kedekatan rasulullah dengan Allah SWT dan Sibawaih mengatakan bahwa kata nabi’un berkonotasi negatif sehingga sangat jarang dipakai dalam pembicaraan orang Arab. Kata nabi ‘ lebih agung dan lebih bermakna dibandingkan dengan kata ‘ nabi’un ‘ dan Rasullullah sendiri telah melarang para sahabat memanggi beliau dengan sebutan ‘ Nabi’ullah ‘ dan memerintahkan untuk memanggil beliau dengan sebutan ‘ Nabiyullah ‘.

Kata ‘ nabi ‘ yang merupakan sebutan untuk jabatan yang diberikan Allah SWT dalam ayat salawat tersebut dapat juga difahami melalui ayat berikut  :

“ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah- rumah nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang Maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu nabi lalu nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri- isteri Nabi), Maka mintalah dari belakang tabir. cara yang demikian itu lebih Suci bagi hatimu dan hati mereka. dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri – isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah “ ( QS : 033 : Al Ahzab : ayat  : 53 )

Melalui postingan yang singkat ini daptlah kiranya difahami bahwa nabi yang dimaksud dalam ayat salawat “ Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersalawat untuk nabi, “ adalah Rasulullah Muhammad SAW dan ditambah lagi dengan kelanjutan ayat  salawat tersebut yang berbunyi  “ Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya “ Yang mengkhususkan perintah tersebut kepada orang – orang yang  beriman ( mukmin ) yang merupakan sebutan yang lazim diberikan kepada pengikut Nabi Muhammad SAW dan bukan kepada pengikut nabi  yang lain

Demikian, semoga postingan yang singkat ini bisa bermanfaat dan menghilangkan keragu – raguan tentang tujuan dan hakikat makna dari salawat yang selalu kita panjatkan kepada junjungan kita nabi Muhammad SAW dengan harapan semoga kita mejadi bagian dari orang – orang yang mendapatkan syafaatnya disaat ketika seluruh perhitungan dimulai. Amin. ( kajian salawat )

2 Comments to "Kedudukan Rasulullah SAW dalam Ayat Salawat"

  1. October 3, 2011 - 2:01 pm | Permalink

    Hello, Great work! I saw this really great post today.

  2. Suhedi Ed's Gravatar Suhedi Ed
    October 7, 2012 - 7:44 pm | Permalink

    Memahami uraian diatas saya justru mendapat kesimpulan bahwa bersalawatlah kepada nabi Justru ; ditujukan untuk para- para penyiar agama Allah apakah dia dari kalangan para Nabi- nabi, para rasul dan para pengikut nabi dan rasul yang menyiarkan agama. Mohon maaf bila sauya salah. Salam perkenalan – Edi

Leave a Reply

1 Trackback to "Kedudukan Rasulullah SAW dalam Ayat Salawat"

  1. on February 26, 2010 at 1:05 pm