Hakikat Limpahan Salawat Malaikat Untuk Manusia

Limpahan Salawat Malaikat Untuk Manusia – Sebagaimana kaidah hukum yang telah diketahui bersama, bahwa banyaknya dalil tidak dipersyaratkan dalam menentukan atau menetapkan suatu hukum dalam ibadah, sehingga satu dalil yang sahih sudah cukup untuk dijadikan atau rujukan dan ladasan dalam pelaksanaan suatu ibadah. Namun perlu juga dipahami bahwa kualitas suatu amal ibadah yang disandarkan kepada dua atau lebih dalil yang sahih lebih utama dibandingkan dengan hanya berdasarkan pada satu dalil yang sahih saja, karena dalil yang pertama akan menguatkan dalil yang kedua dan dalil yang kedua akan berfungsi sebagai kelanjutan dari dalil yang pertama.

Beranjak dari pemahamn tentang kaidah hukum tersebut, ketika ayat :

“ Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. “ ( QS : 33 : Al – Ahzab : Ayat : 056 )

Disandingkan dengan ayat :

“ Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman “. ( QS : 33 : Al – Ahzab : Ayat : 043 )

Pemakaian dua ayat “ Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat – Nya bershalawat untuk Nabi “ dan “ Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat – Nya “ dalam memahami konsep tentang makna salawat dalam konteks Hakikat Limpahan Salawat Malaikat Untuk Manusia dapat memberian makna dan pemahaman kepada kita bahwa :

Ayat pertama merupakan pernyataan akan kelebihan mutlak yang dimiliki Rasulullah Muhammad SAW dan shalawat yang diberikan malaikat tersebut merupakan keharusan mutlak yang telah ditegaskan Allah SWT

Selain itu, ayat “ Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya “ mengandung pengertian bahwa, salawat terus – menerus disampaikan oleh para malaikat yang secara secara khusus tertuju kepada Rasulullah itu, tidak berhenti hanya sampai pada Rasulullah SAW saja, melainkan setiap umat manuasia juga akan mendapatkan limpahan salawat dari para malaikat yang bersalawat.

Namun dalam konteks hakikat makna salawat yang diampaikan oleh para malaikat secara terus menerus dari ayat – ayat tersebut di atas perlu difahami bahwa, makna kata salawat pada ayat pertama ditujukan khusus kepada Rasulullah SAW, sedangkan kata salawat pada ayat kedua menunjukkan makna rahmat kepada umat manusia.

Jadi, kekhususan yang dianugrakan kepada Rasulullah Muhammad SAW sebagai bukti nyata kemulian beliau sebagai kekasih yang sangat dicintai Allah SWT juga akan menjadi rahmat kepada para pengkut yang mencintai Allah SWT dan Rasul – Nya

Rahmat salawat yang terus menerus disampaikan para malaikat itu disadari atau tidak senantiasa akan terus mengalir kepada umat manusia tanpa henti. Rahmat tersebut akan bertambah nilai dan hikmahnya menjadi hidayah syafaat apabila rahmat shalawat itu mendapat jawaban dan respon balasan serupa dari setiap jiwa yang menerimanya.

Demikian pula, ketika rahmat salawat yang mengalir tersebut ternyata tidak mendapat jawaban dan respon balasan dari jiwa manusia yang menerimanya atau rahmat salawat yang mengalir tersebut mendapat penolakan, maka rahmat tersebut tinggalah sebagai rahmat yang tidak memberikan hidayah dan syafaat sebagaimana kemuliaan hakikat dari makna yang dikandungnya

Inilah salah satu hikmah dari diwajibkannya kewajiban bersalawat untuk Rasulullah SAW kepada umatnya, semoga melalui kajian hakikat salawat yang singkat ini, bisa memberikan penyegaran baru kepada kita semua atas hikmah mulia dari perintah bershalawat kepada Rasulullah SAW dengan harapan, semoga kita semua menjadi bagian dari orang – orang yang mendapat syafaat beliau di dunia ini dan yaumul akhir nantinya. Amin ( Hakikat Salawat )

Comments 1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.