Muslim Sejati Menurut Muhammad Ali

Muslim Sejati Menurut Muhammad Ali – Muhammad Ali lahir di Louisville, Kentucky, Amerika Serikat, 14 Januari 1942 sebagai Cassius Marcellus Clay, Jr. Dia baru mengubah namanya menjadi Muhammad Ali tahun 1964 saat memilih jadi mualaf.

Muhammad Ali yang terlahir sebagai Cassius Marcellus Clay pada 1942 memiliki perjalanan spiritual yang panjang. Istrinya Lonnie mengatakan, pada akhir remajanya, Cassius bertemu sekelompok orang yang bicara pada hati dan pikirannya, Nation of Islam, gerakan warga kulit hitam yang berdasarkan pada Islam. Sementara itu pada 1962, ia bertemu dengan Malcolm X yang kemudian menjadi sahabat sekaligus penasihat spiritualnya.

“Kali pertamanya merasakan spiritualitas dalam diriku adalah ketika mengunjungi rumah ibadah muslim di Miami. Seorang pria bernama Brother John bicara dan kalimat yang kudengar adalah, ‘Mengapa kita disebut Negro? Itu karena orang-orang putih ingin merampas identitas kita’…Aku menyukai apa yang kudengar dan ingin belajar lebih banyak,” kata Muhammad Ali menceritakan kisah hidupnya, seperti dikutip dari Heavy.com.

Pada 1964, ia menggegerkan dunia dengan mengumumkan telah menjadi seorang muslim dan mengganti namanya menjadi Muhammad Ali. Orang-orang bereaksi keras.

Namun, sang petinju kelas berat itu bergeming. “Aku bebas untuk menjadi apa yang kuinginkan. Aku tak harus menjadi apa yang kalian inginkan,” kata Lonnie menirukan pernyataan suaminya.

Tak selamanya Ali bergabung dengan Nation of Islam. Ia kemudian mendalami ajaran Sunni, dan belakangan Sufi.

Perjalanan Ali kemudian membentuknya menjadi pribadi yang lembut dan selalu ada untuk membantu sesama tanpa pandang bulu — apakah yang dibantunya itu berkulit putih, hitam, dari Amerika Selatan, India dari mana pun.

Bahkan, ketika masih menjadi anggota Nation of Islam, ia mendengar rumah jompo untuk kaum Yahudi akan ditutup, Ali pun kemudian mengulurkan bantuan.

“Faktanya, Ali dikelilingi orang-orang dari berbagai latar belakang. Pelatihnya orang Italia, asisten pelatihnya Yahudi, manajernya orang kulit putih, dokter Kuba, dan sahabat terdekatnya adalah pemeluk Kristen. Ia mencintai mereka semua dan menganggapnya sebagai keluarga,” kata Lonnie.

Ali selalu berusaha menjadi muslim yang baik. Ia salat 5 kali sehari dan berpuasa Ramadan — meski terkadang kesehatan menjadi menjadi penghalang baginya.

“Ketaatan tak sampai ‘membutakannya’,” kata sang istri. Ali juga memperhatikan dan merasa empati pada semua orang, bukan hanya sesama muslim.

Ali yakin, mereka yang membunuh sesama manusia yang tak berdosa bukanlah muslim sejati. Ia juga percaya, mereka yang melakukan kejahatan, seperti 9/11, atas nama agama sesungguhnya sedang melakukan kejahatan pada Islam.

“Apapun yang kulakukan, itu semua karena Allah. Aku telah menaklukkan dunia dan itu tak membuatku bahagia. Kepuasan hakiki datang dari menghormati dan menyembah Allah,” kata Ali.

Perjalanan spiritual Muhammad Ali sebagai muslim penuh lika-liku.

Pada 1965, Ali bergabung dalam organisasi kontroversial Nation of Islam yang alirannya berbeda dengan Islam pada umumnya.

Kemudian pada 1975, Ali mengikuti ajaran Sunni, yang dipraktikkan mayoritas muslim di dunia. Perubahan tersebut terjadi ketika Amerika Serikat menjadi lebih multirasial — dengan meningkatnya penduduk keturunan Arab, Asia, dan imigran muslim dari Eropa.

Belakangan Ali tertarik mendalami Sufi. “Sungai, kolam, danau, dan aliran air — mereka semua unik, namun sama-sama berisi air. Demikian pula dengan agama, semua mengandung kebenaran,” kata Ali di University of Louisville pada tahun 2004.

Pascateror 9/11, ketika warga muslim, khususnya di Amerika Serikat, menanggung penghakiman atas kesalahan yang tidak mereka lakukan. Pernyataan Muhammad Ali menentang anggapan yang mengaitkan aksi terorisme dengan Islam.

Petinju legendaris, Muhammad Ali meninggal pada Jumat 3 Juni 2016 malam waktu setempat atau Sabtu 4 Juni 2016 pagi Waktu Indonesia Barat (WIB).

Ia mengembuskan napas terakhir pada usia 74 tahun, setelah mendapat perawatan sejak Kamis 2 Juni 0216 lalu.

Dilansir dari Guardian, Ali dirawat intensif karena mengalami gangguan pada pernapasan. Segala upaya telah dilakukan tim medis namun nyawa Ali tidak tertolong.

Sejak pensiun tahun 1981, Ali memang kerap keluar masuk rumah sakit. Terakhir, ia mendapat perawatan pada awal tahun 2015 karena didiagnosis pneumonia.

Selain itu sang petinju legendaris itu juga sudah lama mengidap parkinson. Namun, hal itu tidak mengganggunya untuk terus berkegiatan amal di seluruh dunia.

Rencananya, jenazah Muhammad Ali akan dimakamkan di kampung halamannya di Louisville. Namun pihak keluarga belum menyebutkan kapan pemakaman itu akan dilakukan.

Artikel ini sumbernya dari berbagai sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.