Memahami Makrifat Zikir Lisan

Makrifat Zikir Lisan – Zikir merupakan titik awa dari pencapaian setiap maqam. Artinya, zikir merupakan suatu ritual ibadah yang sangat pokok dalam usaha untuk mencapai dan mendapatkan ridha Allah, sehingga mustahil seseorang itu akan mampu memasuki dan mencapai maqam Ikhlas tanpa berzikir kepada Allah SWT,

Dalam kajian ini kita akan mencoba untuk memahami hakikat zikir lisan beserta target dan sasaran yang ingin dicapai melalui amalan zikir lisan tersebut, baik zikir yang dilaksanakan secara sendiri – sendiri atau pun zikir yang dilaksanakan secara berjamaah atau bersama – sama dalam suatu jamaah zikir.

Untuk menghindari perdebatan yang tidak bermanfaat tentang masalah zikir berjamaah yang sangat dibenci oleh sebagian orang dan atau sebagain kelompok, tentunya sangat baik untuk membaca dan memahami hadist – hadist berikut secara jujur dan adil serta hati yang bersih tentunya

“Aku mengetahui selesainya sholat Rasulullah dengan takbir (yang dibaca dengan suara keras)” (HR : Bukhari dan Muslim)

“Mengeraskan suara dalam berdzikir ketika jama’ah selesai sholat fardlu terjadi pada zaman Rasulullah” ( HR : Bukhari dan Muslim )

“Apabila suatu kaum duduk di majelis, lantas tidak berdzikir kepada Allah dan tidak membaca shalawat kepada Nabi-nya, pastilah ia menjadi kekurangan dan penyesalan mereka, maka jika Allah menghendaki bisa menyiksa mereka dan jika menghendaki mengampuni mere-ka” ( HR : Tirmidzi ).

“Setiap kaum yang berdiri dari suatu majelis, yang mereka tidak berdzikir ke-pada Allah di dalamnya, maka mereka laksana berdiri dari bangkai keledai dan hal itu menjadi penyesalan mereka (di hari Kiamat)” (HR : Abu Dawud, Imam Ahmad )

Sesuai denga kaidah dalam usul fiqih yang memahami bahwa “ banyaknya dalil tidak dipersaratkan dalam menetapkan suatu hukum “ artinya, satu dalil yang sahih sudah cukup sebagai landasan dalam pelaksanaan suatu ibadah

Mudah – mudahan dengan hadist diatas, bisa memberikan sedikit jawaban terhadap para pembenci zikir berjamaah dan menambah keyakinan kita semua bahwa dengan kegiatan zikir berjamaah yang dilaksanakan dalam majelis zikir bukanlah sesuatu yang tidak memiliki tujuan dan hikmah yang benar apalagi kalau dikatakan sebagai sebuah perbuatan yang tidak mempunyai dalil dan ladasan hukum yang sahih

Selanjutnya, sebagaimana yang telah difahami sebelumnya bahwa, arti atau makna dari zikir itu adalah ingat “ yaitu tidak berhadap hati kepada sesuatu yang lain selain kepada Zat yang wajib Ujud saja.

Karena yang menjadi titik sentral dalam zakir lisan adalah hati bukan lidah, maka zikir lisan itu merupakan penyebutan kalimat zikir oleh lidah secara berulang – ulang dan terus menerus yang ditujukan kepada hati agar hati ikut larut dalam kalimat zikir tersebut dan kemudain membenarkanya

Jadi tidaklah dikatakan sebagai zikir lisan ketika lidah sedang sibuk dan asik mengucapakan kalimat – kalimat zikir sementara hati dan pikiran berusaha mencari – cari sosok Tuhan yang sedang di-zikir-i oleh lidah di suatu tempat tertentu, dilangit misalnya atau ketika lidah sibuk dan asik mengucapkan kalimat zikir, hati dan pikiran juga sibuk dan asik dengan dunianya sendiri.

Dan juga tidaklah dikatakan sebagai suatu zikir lisan, ketika ketika lidah mengucapkan kalimat zikir dengan tujuan – tujuan tertentu yang dibenarkan oleh hati dan pikiran dengan ikut membayangkan dan mengarahkan agar zikir yang diucapkan lidah sesuai dengan tujuannya. Perbuatan seperti ini biasa dilaksanakan dalam do’a mantra ( do’a dalam format mantra ).

Walau tidak dilarang tapi kalimat zikir yang diucapkan lidah dalam do’a mantra ini bukanlah dalam makna zikir yang dimaksud, tapi dalam makna tawasul dengan kalimat zikir agar harapan yang disampaikan dalam do’a mantra tersebut dikabulkan Allah SWT dan biasanya terkabul pada saat itu juga apabila hati benar bersungguh – sungguh mengharapkan terkabul

Jadi makrifat zikir lisan itu dikatakan berhasil di capai apabila hati ikut larut dan asik dalam kalimat zikir yang diucapkan lidah, bila tidak, perbuatan itu belum bisa dikatakan ber-zikir, tapi masih merupakan tahap latihan zikir kalau tidak mau dikatangan sedang menginggau

Ini tidak mudah, tapi bukan berarti tidak mungkin, karena tidak ada kebaikan yang sia- sia di hadapan Allah SWT, jadi teruslah belatih secara bertahap sebanyak yang kita mampu dan tentunya dibawah bimbingan guru mursyid yang sesuai dan berhentilah ketika zikir tersebut sudah dipengaruhi nafsu dan syetan. ( kajian Makrifat )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.