Akhir Hidup yang Baik

Akhir Hidup yang Baik. Rasa syukur yang dalam tak bosan-bosannya kita panjatkan kehadirat Allah Swt atas segala nikmat, karunia, serta hidayah yang telah sejak dulu diberikan terhadap diri, keluarga, masyarakat sampai pada bangsa dan negara ini, walaupun tak jarang segala bentuk kesulitan dan cobaan senantiasa mendera kehidupan kita. Rasa syukur ini jangan hanya sebatas dimulut saja, tapi harus selalu diimplementasikan dalam bentuk amal ibadah yang akan menghantarkan setiap jiwa pada keridhaa-Nya. Didalam menjalani liku-liku kehidupan ini, kita selalu dituntut untuk pandai mensiasati gelombang dan arus dunia yang semakin hari semakin menjerumuskan. dosa dan maksiat saat ini semakin bertebaran dimana-mana. Sebuah nasehat menyebutkan dunia ini indah, menarik bahkan sangat menarik bagi orang – orang yang lalai dan lupa pada hidup yang seseungguhnya, bahkan sampai melupakan suatu perihal yang sangat urgent, ialah soal kematian atau maut. Hal ini dibuktikan semakin kurangnya minat dari sebahagian kalangan yang mau dengan kesadaran membahasnya secara dalam dan mendetail. Kalaupun muncul kesadaran itupun hanya bersifat sementara, kalau pembicaraan sudah mengarah kepersoalan lain ( duniawi ), kesadaran tadi hanya tinggal kesadaran menunggu cerita dan kisah berikutnya, padahal maut itu bukan hanya sebatas cerita (retorika ). Ditegaskan lagi bahwa tiada yang lebih indah dari segalanya selain mengakhiri hidup dengan kebaikan ( Khusnul Khatimah ).

Sebenarnya dalam menjalani hidup ini kita sudah dihadapkan pada keadaan yang sebenarnya telah kita perbuat. Baik yang kita kerjakan maka kesudahannya adalah kebaikan, kejahatan yang dikerjakan maka kehancuranlah akibatnya. Ali Ibn Abi Thalib pernah mengingatkan .” Tiada rumah yang akan ditempati bagi seseorang setelah matinya, kecuali rumah yang sebelum mati telah dibangunya, Jika dibangunnya dengan kebaikan, maka baiklah rumahnya, tetapi jika dibangunnya dengan kejahatan, maka buruklah rumahnya. Harta yang banyak hanyalah untuk ahli waris, padahal kitalah yang pontang – panting peras keringat mengumpulkannya. Maka berbuatlah untuk hari esok yang Allah sendiri membangunnya dengan tangan-Nya, istana dari emas, sedang daun miski dan zai’faran bertumbuhan disekitarnya. Namun, penegasan Allah lewat firman-Nya ini akan jauh lebih sempurna bagi orang yang mau merenungi akan hakikat hidup yang sebenarnya.” Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukan kedalam sorga, maka sungguh dia telah beruntung, kehidupan itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” ( Qs Ali Imran – 185 ).

Pada dasaranya langkah, rizki, pertemuan dan maut sudah diatur sedemikian rupa, keempat ketentuan diatas adalah untuk seluruh makhluk-Nya. Antara langkah, rizki dan pertemuan harus diraih melalui usaha dan ikhtiar, lain halnya dengan maut, jangan menantang maut, tidak ditantang sekalipun dia toh akan datang juga. Tugas kita hanyalah mempersiapkan apa – apa yang telah menjadi tuntutan sang maut itu sendiri. Artinya, setiap diri harus memiliki persiapan dalam bentuk lahir maupun bathin, berupa amal shaleh dan segala prilaku terpuji yang telah ditetapkan Allah yang akan sangat berguna sekali sebagai bekal hidup diakhirat kelak. Hanya amal shalehlah yang mungkin mampu sedikit meredakan akan ganasnya gelombang sakarataul maut tesebut. Sedangkan kekayaan dalam rupa materi, pangkat, jabatan, ketenaran dsb tak akan mampu berbuat apa – apa apalagi kalau tidak pandai didalam mempergunakan harta tsb dijalan yang benar. Dikarenakan sang maut itu datang tidak mengenal waktu dan tempat, maka persiapan untuk hal ini harus selalu diperhatikan setiap waktu dan setiap saat. Dia ibarat buah kelapa, yang masih bunga jatuh mengambang diudara, yang putikpun akan lepas dari tampuknya, yang muda juga tak akan luput dari kejarannya, apalagi yang sudah tua ( kalapo ), kalau belum juga jatuh maka akan dicarikan alat untuk menjatuhkannya. Itulah maut yang pasti akan datang menyapa dengan penuh kelembutan atau dengan sayatan- sayatan yang berbuah kepedihan, keganasan dan kebringasan dari sang pencabut nyawa ( Israfil ). Disebutkan kita tidak akan bisa mengelak sedikitpun walaupun lari kedalam benteng yang tangguh, kokoh dan penuh dengan pengawalan aparat yang berlapis – lapis sekalipun.

Dalam syairnya Al Hafizh Al Hakamy menyebutkan.” Aku sadar betul kematian dan peristiwa yang akan terjadi dibelakangnya. Siapapun tidak akan bisa berlepas dan lari darinya pasti akan melaluinya. Kematian akan menyingkapkan selebar – lebarnya semua tabir sehingga tak satupun yang akan disamarkan. Kubur bisa menjadi sebuah taman sorga yang indah dan menawan sehingga selalu dirindui, namun tidak tertutup kemungkinan kubur itu bisa berubah menjadi galian api neraka yang panas dan sempit. Jika ia baik maka sesudahnya adalah kebaikan yang sangat banyak dari tuhan, tapi jika yang dikuburkan itu jahat maka kejahatan itu sendiri yang akan menyiksanya sampai akhir dunia.” Sadarilah bahwa kita semua sedang naik kendaraan kematian menuju pada kematian itu sendiri, yang hari demi hari mengerogoti umur kita. Namun sayang tak banyak dari kita yang mau merenunginya secara tulus bahkan terkesan menganggapnya sebagai angin lalu, gemerlapnya kehidupan dunia telah menyeret pada jerat dan perangkap syaitan, cendrung pada kedurhakaan, kemunafikkan, terlalu cinta akan harta, sombong dsb. Akibat yang lebih gawat lagi, tidak terlintas sedikitpun dalam pikirannya untuk mengingat Allah dan kematian. Sayangnya, kalau ada yang memberi sedikit peringatan tentang apa yang sedang mengintainya tsb ( maut ), maka mereka kebanyakan menghindar, acuh tak acuh serta berlaku takabur.

Berfirman Allah Didalan Qs Al Jumuah ayat 8. “ Katakanlah bahwa kematian yang kamu lari dari padanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemuimu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada Allah, yang mengetahui yang gaib dan yang nyata lalu ia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”. Sangat jelas ayat diatas menegaskan bahwa maut itu adalah sesuatu yang pasti dari Allah, karena dari itu mulai saat ini perbanyaklah mengingat perihal maut ini, dengan selalu meningkatkan iman dan ketaqwaan pada-Nya. Dan selalu berharap agar diri kita dimatikan-Nya dalam keadaan iman dan Islam serta akhir hidup yang baik ( Khusnul Khatimah ). Al Quran nul karim banyak menyuguhkan tentang bermacam hal penting dan terpenting sekali didalam mengayuh bahtera kehidupan ini, seperti kewajiban untuk taat pada Allah, patuh pada pemimpin yang bijaksana, berbuat baik pada kedua orang tua dan pada sesama makhluk Allah lainya. Seluruh ajaran dan perintah itulah jalan yang telah dibukakan Allah, lurus dan penuh kebaikan, untuk kita amplikasikan dalam hidup ini setiap saat. Memang didalam merintis jalan kebaikan kita sering dihadapkan pada berbagai tantangan dan godaan yang kadang menyakitkan dan berbuah sindiran. Ketabahan serta bersikap tawakal untuk terus menyeru pada kebaikan harus selalu kita tanamkan dengan cara apapun, konsisten dan tetap berdoa agar selalu diberi kekuatan dan petunjuk-Nya. kita hanya bisa berusaha semampunya keputusan mutlak itu tetap milik Allah.

Sekarang dan untuk selanjutnya tergantung pada pribadi kita masing – masing para penyebar kebaikan hanya bertugas memberikan informasi yang dasarnya adalah Al Quran dan Hadis, sebagai perpanjangan tangan dari Rasulullah Saw. Apakah diri kita ingin selamat hidup didunia maupun akhirat ?. Jawabannya adalah tingkatkanlah amal ibadah kita pada Allah dan jadikanlah Iblis dan Syaitan itu benar-benar musuh, yang ingkar pada Allah, benci, marah dan sayang kita hanya karena semua itu memang disayang dan dibenci Allah. Semoga Akhir hidup yang baik dengan mengharapkan kemudahan dalam menghadapi sang Malaikat maut diberikan Allah pada hamba-hambanya yang taat lagi patuh. Allahu A’llam.

Penulis Adalah Pengamat Sosial Keagamaan| Tinggal Di Padang | Telah diterbitkan pada hari Jumat tanggal 08 Januari 2008 / 09 Muharam 1429 H di harian Haluan pada halaman 5 Kolom Opini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Page-level ads only appear on the page when AdSense thinks they'll perform well. Add the following Page-level code to more of your pages to increase the overall performance of ads on mobile. Copy the code below and paste it inside the tag of any page you want to show ads on. Place the same code just once per page, and AdSense takes care of the rest.
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.