Mukhalafatuhu Lil Hawaditsi Artinya Allah Tidak Serupa Dengan Alam

Mukhalafatuhu Lil Hawaditsi artinya Allah tidak serupa dengan alam – Pengertian alam disini adalah sesuatu yang diciptakan. Yaitu sebelum sesuatu itu ada diciptakan oleh penciptanya, maka nyata ketidakadaanya. Secara logika, pencipta keberadaannya pasti lebih dahulu dari yang diciptakan dan yang diciptakan keberadaanya lebih terkemudian dari pada penciptanya.

Sesuatu yang diciptakan itu tentulah bukan penciptanya dan pencipta tentu juga bukanlah yang diciptakannya, sehingga antara pencipta dan ciptaannya jelas dan pasti berbeda. Allah sebagai Tuhan adalah Zat Yang Maha Pencipta. Dialah yang telah menciptakan bumi dan langit dan apa – apa yang berada diantara keduanya, sehingga keberadaan alam ini pasti lebih terkemudiaan dari pada Allah dan sudah pasti juga tidak sama dengan Allah. Sehingga kalau serupa Allah dengan makhluk ciptaan-Nya, maka Ia tidak lagi layak menjadi Tuhan
” (Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. ”  ( QS : 42 : Asy-Syuura : Ayat : 11 )

Meyakini bahwa Allah itu berada di atas langit, duduk serupa dengan duduknya kita sebagai makhluk di atas kursi, atau turun sebagaimana turunnya kita dari tangga atau Allah itu mempunyai muka serupa dengan muka kita, mempunyai mata untuk melihat, mempuntai telinga untuk mendengar dan mempunyai kaki untuk berjalan seperti kita adalah sebuah pemahaman yang melampaui batas dan merendahkan Kemahamuliaan Allah sebagai Tuhan Yang Maha Besar dan Maha Agung

Perkataan yang selalu menggambarkan Allah berada disuatu tempat seperti ” Semua Tergantung Yang Di Atas “ serta perilaku yang selalu menggambarkan Allah berada di atas dengan isyarat tubuh seperti telunjuk yang menunjuk atau mengarah ke atas langit merupakan sesuatu perbuatan yang sadar atau tidak sadar, lama – kelamaan akan membahayakan dan menghancurkan aqidah tauhid yang lurus lagi benar.

Ketahuilah bahwa sesungguhnya, walau maksud perkataan dan perbuatan tersebut adalah untuk mempertegas pengungkapan Kemaha Agungan dan Kemaha Tinggian Allah, namun apabila hati setiap hari dan setiap saat selalu dibombardir dengan penyataan – pernyataan yang salah tentang Allah seperti itu, maka lama – kelamaan, pernyataan itu akan menjadi sebuah keyakinan yang tertanam dan berbekas kuat di dalam hati

Katakanlah, ” semua saya serahkan kepada Allah ” jangan terlalu membiasakan untuk mengatakan ” semua saya serahkan kepada yang di atas “. Bukankah kata “ Allah “ lebih baik dan lebih mulia serta lebih tinggi nilainya dibanding kata ” yang di atas “ ?. Kenapa harus takut dan malu bertuhan kepada Allah. ? dan kenapa pula harus bangga dan merasa lebih gaul dan modern ketika bertuhan kepada ” yang di atas “ . ?

Waspadalah .. !!!. Iblis dan syetan bisa ada di mana – mana dalam ujud apa saja dan dia tidak akan berehenti menggoda dan menyesatkan anda dan saya menuju kesesatan yang nyata. Pahamilah bahwa, ” setiap yang bagus itu belum tentu benar dan setiap yang benar itu sudah pasti lebih bagus “

Berzikir dengan sifat Allah Mukhalafatuhu Lil Hawaditsi adalah menghilangkan seluruh perkiraan dan prasangka tentang Allah. Setiap sesuatu yang bisa digambarkan dan bisa dibayangkan oleh akal dan pikiran, itu pasti bukan Allah. Allah berada diluar batas jangkauan akal dan pikiran makhluk, akal dan pikiran makhluk adalah juga ciptaan Allah. Kemampuannya hanya terbatas pada segala sesuatu yang telah diciptakan saja. Tidak lebih dan tidak kurang

Bedo’a dengan mengangkat tangan dan menengadahkan wajah ke atas dengan keyakinan bahwa Allah dengan segala kemuliaan dan kekuasan – Nya, tempat kita bersandar dan memohon segala petunjuk dan pertolongan berada di atas adalah sebuah kezaliman yang merendahkan. Allah tidak terikat dengan ruang dan waktu, karena ruang dan waktu itu adalah juga ciptaan Allah. Mukhalafatuhu Lil Hawaditsi artinya Allah tidak sama dengan Alam. Alam adalah ciptaan Allah dan Allah tidak sama dengan ciptaa – Nya

Langit hanyalah kiblat dalam doa. Mengangkat tangan sampai setinggi bahu dan menegadahkan wajah ke langit memang merupakan salah satu adab dalam berdo’a, tetapi bukan berarti Allah berada di atas langit. Sama halnya dengan menghadap ke kiblat dengan cara meluruskan dada dengan Ka’bah di Makkah sebagai salah satu syarat sahnya shalat, bukan berarti Allah sebagai Tuhan berada di Ka’bah di Mekkah. Sehingga membayangkan adanya Allah berada dihadapan kita dalam sujud akan sama hukumnya dengan menyembah berhala. Menyembah berhala hukumnya Syirik. Syirik adalah dosa besar yang tidak diampuni. Pelakunya kekal di dalam neraka Jahanam selama – lamanya. ( kajian hakikat tauhid )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.