Keresahan Spiritual

Keresahan SpiritualRasulullah Saw bersabda “ Laksanakan amanat kepada orang yang memberikannya kepadamu dan janganlah kamu melakukan pengkhianatan sekalipun terhadap orang yang mengkhianatimu. Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan menyuruh kamu apabila menetapkan hukum diantara kamu ( manusia ) supaya menetapkanya dengan adil. Sesungguhnya Allah maha mendengar lagi maha melihat.”

 Saat ini, keresahan spiritual dan moral terus melanda hati dan pikiran kita. Satu kondisi spiritual dan moral sosial yang dirasakan itu terus memotivasi kita sebagai anak bangsa untuk merenungi, apa dan bagaimana menyingkapi masalah sosial yang begitu besar semacam korupsi. Ada harga diri yang terinjak-injak dan hampir kehilangan kepercayaan sebagai anak bangsa, ketika isu korupsi terus melanda bangsa kita. Ada rasa ragu, sambil mempertanyakan tentang peran agama yang nampaknya diam, entah karena setuju atau telah berputus asa dalam menghadapi masalah yang satu ini ( korupsi ). Kadang kita putus asa tentang naik turunnya, muncul tengelamnya seruan anti korupsi yang bak layangan putus di bawa kencangnya angin, jelas ada rasa hina dihadapan sang Khalik karena dosa-dosa sosial yang terus menerpa diri. Inilah akibat yang harus ditanggung akibat mensia-siakan amanat yang telah diberikan  Allah baik berupa pangkat maupun jabatan ditambah lagi dengan prilaku Hubud Dunia ( terlalu mencintai dunia ) yang akan melahirkan keinginan untuk menghalalkan segara cara.

Pada hakekatnya korupsi dalam tingkat dan bentuk sekecil apapun sangat memiliki dampak negatif terhadap kehidupan diri sendiri dan masyarakat secara luas. Terlebih lagi jika perbuatan itu dilakukan oleh seorang penguasa atau pemimpin yang akan mempengaruhi pada tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara.  Jelasnya, hukum Islam memposisikan tindakan korupsi sebagai bentuk kegiatan kriminal dalam segala wujudnya. Begitu juga pernyataan tegas yang menunjukan keharusan menjatuhkan hukuman yang sepadan terhadap para pelaku tindakan korupsi tersebut. Sedangkan dalam konteks hukum Islam virus bangsa ini dapat disebut sebagai pengkhianat, penipu, penyuap karena itu Allah Swt mengharamkan para koruptor masuk sorga.

Ajaran Islam telah memberi penegasan dengan sangat tegas bahwa manusia tidak boleh dan diharamkan memakan harta haram atau mencarinya dengan jalan yang salah,  salah satunya dengan melakukan tindakan korupsi, pencurian, penipuan dsb. Juga tidak dibenarkan sama sekali merampas hak milik negara apalagi dengan menyelewengkan kepercayaan/amanat yang diberikan orang pada kita. Larangan ini telah difirmankan Allah dalam Qs Al Baqarah-188.” Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain dengan jalan yang bathil dan ( janganlah ) kamu membawa  ( urusan ) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian dari harta benda orang lain itu dengan ( jalan ) berbuat dosa, padahal kamu mengetahui.” . Namun kebanyakan dari manusia baik yang Islam maupun yang non Islam akibat mengedepankan hawa nafsu semata maka, lupa atau sengaja melupakan larangan Allah seperti firmannya diatas.

Maka, tak mengherankan lagi pada zaman sekarang ini para penilep uang rakyat alias para koruptor dapat bebas dari jeratan hukum serta bebas berkeliaran, paling banter hanya mendapatkan hukuman ringan saja yang kebanyakan tidak sesuai dengan jumlah rupiah yang telah dikantonginya. Selain itu kebanyakan hakim sebagai penegak keadilan begitu gampangnya disuap, mereka tidak berpedoman lagi pada ajaran Islam Al Quran maupun Hadis Saw dalam mengetukan palu untuk para tikus-tikus berdasi tersebut. Padahal kalau dikaji lebih dalam jabatan hakim ini oleh Allah adalah jabatan yang mulia sekali,  Allah sendiri yang mendampingi, melindungi serta memberi petunjuk padanya. Namun,  kenapa juga kebanyakan para hakim khususnya di negara ini gampang sekali untuk dikelabui penjahat kelas kakap. Untuk para hakim, Rasulullah Saw mengatakan.” Sesungguhnya Allah Swt bersama para hakim selama hakim itu tidak berlaku curang. Apabila ia telah curang, Allahpun menjauh dari hakim itu dan mulailah syaitan menjadi teman akrab bagi hakim itu.” (  Hr Tarmuzi ).

Dengan demikian, guna menghindari, paling tidak mengurangi terjadinya bentuk penyelewengan dalam wujud korupsi, kolusi maupun bentuk penipuan-penipuan lainya. Maka, yang namanya keadilan itu harus ditegakan dan bukan hanya dijadikan wacana. Ironisnya,  ditengah kokohnya gedung pengadilan dan ditengah membludaknya ahli hukum yang dimiliki, malah semakin sulit untuk menemukan keadilan itu sendiri itulah satu realita yang entah sampai kapan akan berakhirnya. Mereka yang diatas sana ( para pejabat negara ) dengan mudah dan tampa beban dosa sedikitpun berkompromi dengan berbagai cara agar kasus-kasus korupsi dan kasus pengelapan lainya tidak sampai terbongkar kepermukaan. Sedangkan dibawah sini kehidupan rakyat semakin hari semakin pahit dan sulit,  mahalnya harga kebutuhan pokok, Mengutip dari salah satu sumber, yang  selalu mempertanyakan yang pertanyaanya itu sudah abadi adanya. Kapan negeri ini akan bersih?, kapan negeri ini akan bebas dari korupsi?, serta kapan negeri ini tidak lagi didiami oleh kader-kader iblis dan syaitan yang sudah berubah bentuk menjadi manusia?.

Secara kasarnya korupsi adalah kebusukan, keburukan, kebejatan, ketidakjujuran, dapat dan mudah disuap. Korupsi dan budaya suap menyuap adalah perbuatan yang sangat merugikan dan sangat dimurkai Allah Swt, karena perbuatan ini dapat menghancurkan perekonomian suatu bangsa, sehingga berimbas pada rakyat yang tak mengerti apa-apa dan bukan sebatas itu saja masalah sosial&politik juga akan oleng. Kedua perbuatan diatas telah menjadi bukti lemahnya komitmen beragama digantikan dengan berbagai bentuk kerusakan moral yang kian hari kian memprihatinkan dan mengurita dihampir seluruh lini kehidupan ini.

Menyinggung masalah suap didalam Al Quran memang tidak disebutkan secara khusus istilah sogokan atau risywah. Namun,  Imam Al Hasan dan Said Bin Jubair menafsirkan ungkapan Al Quran “ Akkaluna lisuti “ sebagai Risywah atau sogokan. Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong dan banyak memakan yang haram identik sekali dengan korupsi.. Firman Allah dalam Qs Al Maidah-42 “ Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram. Jika mereka ( orang Yahudi ) datang kepadamu ( untuk meminta putusan ), maka putuskanlah ( perkara itu ) diantara mereka, atau berpalinglah dari mereka. Jika kamu berpaling dari mereka maka,  mereka tidak akan memberi mudharat kepadamu sedikitpun, dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah ( perkara itu ) dengan adil. Sesungguhnya Allah menyukai oranga-orang yang adil.” Intinya, siapapun yang datang dengan membawa perkara besar atau kecil tampa alasan apapun maka penyelesaiannya harus dengan seadil-adilnya.

Perjuangkanlah yang benar itu kalau memang benar dan jangan pernah ada ragu untuk menjatuhkan hukuman pada si pelanggar peraturan teramasuk kepada para virus bangsa ini yaitu sang koruptor. Kalau hal ini benar-benar diterapkan oleh para penyelenggara keadilan di negara ini tentu virus bangsa dalam bentuk korupsi khususnya, tidak akan mewabah separah sekarang  ini. Allahu A’llam.

(  Penulis : Pengamat Sosial Keagamaan sekarang tinggal di Lampung  )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Page-level ads only appear on the page when AdSense thinks they'll perform well. Add the following Page-level code to more of your pages to increase the overall performance of ads on mobile. Copy the code below and paste it inside the tag of any page you want to show ads on. Place the same code just once per page, and AdSense takes care of the rest.
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.